Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Firasat Ummi Fatimah!


__ADS_3

Dalam hidup ini akan selalu ada yang namanya Hambatan, Tantangan, Ancaman, dan Gangguan. Semua itu bisa saja datang dari orang terdekat, atau bisa juga dari orang lain yang menganggap dirinya lebih baik dari Mu. Lemahnya Iman dan Ilmu menjadi pemicunya sehingga orang itu memutuskan menjadi musuh bagi orang lain.


Detik berganti menit, menit berganti jam, bahkan malam pun semakin larut. Meronta dan berteriak, hanya itu yang bisa Fazila lakukan saat matanya di tutup, tangan dan kakinya di ikat. Menangis, hanya satu kata itu yang tidak Fazila lakukan, bukannya Ia tidak bisa menangis. Hanya saja, Fazila tahu, dia bukan wanita yang lemah dan menangis bukanlah solusi terbaik dari masalahnya.


"Ikatan ini benar-benar kuat, apa yang harus ku lakukan agar terbebas dari tempat ini?" Ucap Fazila sambil berusah keras membuka ikatan tangannya. Bukannya terlepas, tangan Fazila malah tergores.


"Auu! Tanganku, ini sangat perih." Fazila berucap sambil menahan rasa sakit yang bersumber dari pergelangan tangannya. Bukan hanya merasakan sakit di pergelangan tangan, saat ini sekujur tubuhnya terasa ngilu. Enam jam yang lalu, saat Ia berusaha menyelamatkan Maya, Ia terlibat perdebatan sengit dengan keempat pria kekar yang saat ini menahannya, malang tak bisa di hindari, Fazila tumbang saat panah kecil mengenai tubuhnya, entah bahan apa yang tercampur di benda kecil itu hingga membuat Fazila tak sadarkan diri, saat matanya terbuka Ia tak bisa melihat apa-apa karena matanya di tutupi oleh kain hitam.

__ADS_1


"Syukurlah Maya baik-baik saja. Tapi, apa yang harus ku lakukan agar aku bisa pergi tanpa di ketahui oleh preman kejam itu? Mereka mengikatkan ku dengan ikatan yang sangat kuat, aku manusia bukannya Gajah. Lihat saja nanti, aku pasti akan memberikan kalian hukuman yang tidak akan pernah di pikirkan oleh orang jahat sekalipun." Celoteh Fazila hanya untuk menghilangkan rasa takutnya.


Tak jauh berbeda kondisinya dengan Fazila, saat ini dua keluarga berkumpul di kantor Abi Fazila, Tuan Alan Wijaya.


Refal mengumpulkan semua orang untuk memberitahukan kabar menghilangnya putri berharga dua keluarga itu. Dan sejak Refal mengabarkan beritanya, Ummi Fatimah terlihat shock, Ia hilang kendali, tidak ada yang bisa Ia lakukan selain menangisi putri berharganya.


"Ummi tidak mau tahu, pokoknya putri kita harus kembali. Hiks.Hiks." Ummi Fatimah berucap sambil menangkup wajah Tuan Alan. Wajah itu terlihat panik. Tentu saja mereka ketakutan, hingga kini masih belum ada kabar dari penculik Fazila.

__ADS_1


"Sabar Mbak! Aku yakin Fazila baik-baik saja, ada Allah yang akan selalu menjaganya!" Nyonya Asa mulai angkat suara hanya untuk menenangkan besannya. Sebenarnya, Ia juga merasakan kekhawatir yang sama besarnya. Namun, bagaimana lagi, Ia tidak mungkin menangis sesegukan seperti yang Ummi Fatimah lakukan, karena di antara mereka berdua harus saling menguatkan, hilangnya Fazila bukan masalah sederhana, bahagia semua orang terletak pada keselamatan Fazila.


"Ummi tidak ingin kehilangan Fazila, Bii! Bagaimana kalau mereka menembaknya seperti dulu? Ummi akan tiada Bi, Ummi akan tiadaaaa." Ucapan Ummi Fatimah terdengar sangat memilukan, dari suaranya saja siapa pun bisa mengartikan betapa besar rasa sakitnya.


"Ummi sangat takut, Bi. Firasat Ummi mengatakan, Fazila kita akan pergi jauh dari kita. Ummi harus apa? Hiks.Hiks!" Lagi-lagi suara tangisan pilu Ummi Fatimah menyayat hati semua orang.


Sedetik kemudian, semua orang yang ada di kantor Tuan Alan semakin panik karena Ummi Fatimah mulai hilang kesadaran.

__ADS_1


"Kenapa Abi memanggil kami...?" Fatih yang baru datang, memasuki kantor Tuan Alan bersama Matthew, Umang dan Regan. Netranya membulat sempurna saat menatap Umminya terbaring di sofa tak sadarkan diri dengan keringat dingin yang membasahi wajah separuh baya itu.


...***...


__ADS_2