Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kekesalan Matthew


__ADS_3

"Ma-mama!" Ucap Fazila gugup. Pertama kali, rasanya memang aneh memanggil orang lain dengan sebutan Ibu. Tapi tetap saja Fazila memang harus melakukannya.


"Mama. Mama!" Ucap Fazila lagi dengan wajah yang di penuhi senyuman.


Saking bahagianya, Nyonya Asa sampai meneteskan air mata. Moment indah inilah yang ingin ia dengar dan ingin ia lihat seumur hidupnya. Akhirnya penantiannya berakhir sudah. Penantian untuk menemukan istri yang tepat untuk putra nakalnya. Refal Mahendra Shekar.


"Terima kasih, sayang. Kau tidak tahu saja Mama sangat bahagia. Rasanya jantung Mama akan loncat keluar karena bahagia ini terlalu besar. Maha suci Allah yang maha baik. Maka nikmat yang mana lagi yang akan Mama dustakan?" Ujar Nyonya Asa dengan suara lirih, Fazila yang di peluk bisa merasakan kalau pundaknya terasa basah oleh tetesan hangat yang keluar dari netra teduh calon mertuanya, Nyonya Asa.


"Mama tidak perlu berterima kasih. Kita berdua sama-sama beruntung. Tetap perlakukan aku sama seperti putri Mama sendiri. Jika tidak...!" Fazila memberikan penekanan dalam setiap kalimatnya. Dan hal itu membuat Nyonya Asa menghentikan tangis bahagianya. Ia bahkan sampai melepaskan pelukannya dari tubuh ramping Fazila.


"Jika tidak, apa yang akan kau lakukan, Nak?" Nyonya Asa bertanya sambil menatap netra indah Fazila. Wajahnya terlihat heran, dalam hatinya ia sangat takut Fazila akan membatalkan pernikahan ini. Jika yang menikah saja bisa bercerai maka Nyonya Asa pun memiliki alasan yang kuat kenapa ia sampai merasakan takut kalau-kalau Fazila akan memutuskan pertunangan ini secara sepihak.


"Jika tidak, aku akan bersikap manja pada putra Mama, bukan untuk sehari atau dua hari, tapi ini untuk sepanjang hidupnya. Biar saja dia kewalahan menghadapi ku." Celoteh Fazila sambil pura-pura terlihat jutek, sayangnya ia gagal. Nyonya Asa malah terkekeh sambil mencubit hidung bangir Fazila, bukan hanya Nyonya Asa, tapi semua orang juga ikut tertawa. Fazila sendiri bingung, ia tidak tahu ucapannya di bagian mana yang membuat semua orang terkekeh.


"Baiklah, sayang. Mama janji Mama tidak akan pernah menangis lagi. Tetap bahagia." Ucap Nyonya Asa lagi sambil menyodorkan kotak kado yang sudah ia bungkus rapi.


"Entah itu di masa depan, Fazila mohon, Mama tidak boleh menangis lagi, doakan Fazila agar bisa menjadi menantu atau putri yang selalu membuat Mama bangga. Hubungan ini tercipta karena kehendak Allah, semoga hubungan ini selalu seperti ini, mendapat ridonya." Balas Fazila dengan keyakinan penuh, keyakinan kalau ia bisa menjalani hubungan ini tanpa keraguan maupun hambatan.

__ADS_1


"Iya sayang, akan Mama lakukan. Ucapanmu adalah perintah bagi Mama." Nyonya Asa mencium puncak kepala Fazila, kemudian mundur perlahan dan berakhir duduk di Sofa, tepatnya di samping Tuan Anton, suaminya.


Refal yang menyaksikan kedekatan Fazila dan Mamanya merasa lega, setidaknya tidak akan ada menantu dan mertua yang saling menjatuhkan satu sama lain layaknya dalam drama.


...***...


Waktu menunjukan pukul 24.45 ketika Matthew pulang kerumah megah yang ia tempati bersama kedua orang tuanya. Menjadi anak tungggal dari pasangan sempurna yang di kagumi di seluruh pulau Bali dan Lombok memberi Matthew hak penuh untuk melakukan apa pun yang di inginkan hatinya. Tidak ada yang melarangnya dan tidak ada pula yang akan berani mengganggu kesenangannya.


"Kamu dari mana? Apa kamu tidak berpikir kami sebagai orang tuamu tidak bisa tidur karena putra kami satu-satunya belum pulang?"


Matthew yang terlihat sempoyongan menghentikan langkah kaki tepat di depan kamarnya. Dia hanya minum menemani Aksa dan Kadek. Entah kenapa malam ini dia begitu payah, hanya meminum dua gelas saja membuatnya merasa pusing dan langkah kakinya terlihat mulai goyah.


"Ya... Kau laki-laki kau tidak akan hamil walau kau pulang pagi. Tapi masalahnya Mommy tidak mau kau melakukan hal aneh di luar sana. Apa kau tahu Kadek?" Nyonya Almayra berucap dengan nada suara tinggi, ia tidak suka saat putra satu-satunya berani membantah ucapannya.


"Ada apa dengan Kadek? Apa dia mengadukan ku lagi pada Mommy? Kali ini tentang apa?" Matthew bertanya sambil menatap wajah cantik Mommy-nya.


Kadek? Pernah di suatu saat Matthew sangat mencintai gadis itu. Dan pernah pula di hari berbeda Matthew merasa kesal padanya. Kadek memang cantik, sayangnya dia tidak akan bisa menjadi rekan yang baik dalam hubungan cinta, gadis itu terlalu posesif dan dia pun sangat hobi mengadu tentang segala hal, Entah mengadu pada kedua orang tua Matthew atau pada kedua orang tuanya sendiri. Menjalin hubungan selama dua tahun membuat Matthew pusing menghadapinya, setiap kali Kadek diberikan kesempatan untuk mengubah diri, selalu saja terjadi hal yang sama. Dan hal itu membuat Matthew mulai muak pada hubungan yang tidak akan memiliki tujuan itu.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan? Apa dia menangis di depan Mommy seperti yang sering dia lakukan? Apa dia mengirimi Mommy puluhan pesan? Atau dia melakukan panggilan vidio dengan wajah memelas seolah dia yang tersakiti?" Matthew mencecar Mommy-nya dengan pertanyaan menuntut. Dia terlalu kesal sampai tidak bisa menahan diri.


"Hubungan kami sudah berakhir, Mommy. Jadi jangan hubungkan aku dengannya lagi.


Malam ini, walau aku kesal. Aku bahkan berusaha tersenyum semanis-manisnya agar Kadek tahu kalau aku sudah tidak mencintainya dan tidak mengharapkan apa pun lagi darinya." Celoteh Matthew dengan kepala tertunduk. Rasanya ia ingin istirahat dan meninggalkan Mommy-nya sendiri, sayangnya Nyonya Almayra tidak semudah itu membiarkan putranya menentangnya.


"Adya..."


Satu kata itu membuat kesadaran Matthew kembali setengahnya, ketika Mommy-nya memanggilnya seperti itu, Matthew sangat tahu kalau Mommy-nya benar-benar marah.


"Mommy tidak suka putra Mommy yang baik mulai menentang Mommy. Sekarang katakan, siapa gadis yang kau ceritakan di depan Kadek?


Bukankah Mommy sudah bilang hanya Kadek yang pantas untuk keluarga kita? Apa kau pikir Mommy akan menerima dengan berlapang dada saat tahu kau mencintai gadis yang tidak jelas asal usulnya itu?" Amarah Nyonya Almayra sudah di ambang batasnya. Entah apa yang di katakan Kadek sampai membuat wanita anggun sekelas Nyonya Almayra meledak-ledak layaknya Bom Molotov yang akan menghancurkan segala hal yang ada di depannya.


"Ooo... Jadi wanita itu mengadukan ku lagi? Aku yang sudah tidak waras karena memikirkan gadis yang berhasil mencuri ketenanganku di saat yang tidak tepat." Matthew yang sejak awal merasa tidak nyaman bertemu dengan Kadek kini semakin kesal di buatnya. Semua sumpah serapah memenuhi rongga dada Matthew. Dan buruknya lagi, dia tidak bisa mengatakan hal itu secara gamblang di depan gadis itu karena di pisahkan oleh ruang dan waktu.


"Lakukan apa pun yang Mommy inginkan, aku tidak akan menyerah dan aku pun tidak akan tunduk pada keinginan siapa pun." Ucap Matthew menegaskan. Ia langsung membuka gagang pintu dan meninggalkan Mommy-nya yang masih di penuhi amarah, amarah membuncah.

__ADS_1


Sejujurnya Matthew anak yang penurut, entah kenapa setiap kali Mommy-nya membahas tentang Kadek kekesalannya entah datang darimana. Apakah cinta itu mudah sekali berubah? Entahlah, Matthew sendiri bingung jawaban apa yang harus ia beri agar Mommy-nya tidak lagi membicarakan soal Kadek di depannya.


...***...


__ADS_2