Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Dia, Siapa?


__ADS_3

Waktu baru saja menunjukkan pukul 19.00 ketika Fazila berjalan menuju halaman depan, demi menyambut kedatangan Refal, Ia bahkan belum sempat mengganti mukena yang Ia gunakan.


Rasa rindu itu kini memenuhi rongga dada Fazila, dan hal itu menyebabkan dirinya ingin berlari kedalam pelukan seorang Refal Mahendra Shekar. Fazila tidak salahkan jika merindukan sosok Refal? Iya, rasa rindu itu wajar menyergap jiwa dan raganya karena mereka tidak bertemu selama seharian.


"Aku tidak salah mencintai suamiku. Yang salah itu jika Aku mencintainya melebihi cintaku pada Allah dan Rasulnya." Ucap Fazila pelan sambil menatap kearah gerbang.


Refal bilang dia hampir sampai, lima menit sudah Fazila menunggu di halaman depan, namun mobilnya masih belum terlihat juga.


"Pak Ridwan, ada apa dengannya?" Fazila menatap sosok paruh baya yang saat ini sedang meringis kesakitan. Karena menahan sakit, pria paruh baya itu bahkan tidak menyadari kehadiran Fazila.


Fazila berjalan mendekati sosok paruh baya yang bertugas membersihkan taman itu. Ia duduk di rumput sambil membalut lukanya dengan potongan kain. Ia tampak kesakitan dan hal itu memancing belas kasihan Fazila. Semua manusia sama saja, entah dia Raja atau rakyat jelata tidak ada bedanya dalam pandangan Fazila, sebagai manusia kita di anjurkan untuk menebar kebaikan, dan saat ini itulah yang sedang dia lakukan.


"Pak Ridwan ada apa Pak?"


"Kenapa Bapak duduk disitu?"

__ADS_1


"Apa Bapak baik-baik saja?"


"Apa Bapak butuh bantuan?"


Fazila bertanya sambil duduk di samping Pak Ridwan, Fazila mulai terlihat panik karena pria paruh baya yang duduk di dekatnya itu terlihat pucat.


"Non Fazila, disini? Bapak baik-baik saja, Non"


"Apanya yang baik Pak, Bapak terlihat pucat."


"Apa Bapak sudah makan?" Fazila bertanya sambil memegang lengan Pak Ridwan yang terlihat mengkhawatirkan.


Tanpa Fazila sadari seseorang yang baru saja turun dari mobil menatapnya dengan tatapan penuh amarah, setiap hal yang Ia dengar dari lisan Fazila terasa bagai api yang semakin membakar dirinya, ada kemarahan besar yang saat ini menguasai jiwanya dan Ia ingin sesegera mungkin menumpahkan semua amarah itu.


"Ayo, Fazila bantu, Pak."

__ADS_1


"Dari Non Fazila kecil hingga saat ini, Non Fazila benar-benar tidak berubah. Kebaikan Non Fazila selalu membuat bapak bangga. Non Fazila tidak pernah membeda-bedakan kami semua, Tuan dan Nyonya juga sama. Bapak benar-benar beruntung bisa mengenal keluarga luar biasa ini, semoga keluarga Non di jauhkan dari mata jahat." Ucap Pak Ridwan tulus.


Tidak ada balasan dari Fazila selain senyuman menawannya. Sanjungan Pak Ridwan tidak membuatnya berbangga diri. Setelah mengantar pria paruh baya itu sampai pintu belakang dan memanggilkan dokter keluarga untuknya, kini Fazila kembali berdiri di halaman depan, menantikan kedatangan Refal dengan penuh kebanggaan.


"Auuu!"


Fazila meringis menahan sakit karena lengannya di tarik kasar oleh seorang yang tidak Ia kenal.


"Anda siapa? Kenapa anda sekasar ini?" Fazila bertanya setelah Ia melepaskan lengannya dari sosok anggun yang seusia dengan Umminya.


"Wanita sepertimu memang harus dikasari, Aku tidak punya stock kesabaran untuk menghadapimu. Apa Kamu tahu, Kamu wanita menjijikkan dan tidak tahu malu."


Entah mimpi apa Fazila semalam sampai harus bertemu dengan sosok kasar, jika saja wanita yang berdiri di depannya tidak seusia dengan Umminya, sudah di pastikan Fazila akan membalasnya dengan ucapan yang sama.


"Nyonya, saya pikir anda salah orang. Saya bahkan tidak mengenal Anda. Apa anda tidak berpikir kalau anda sangat keterlaluan? Menghina orang lain di pertemuan pertamanya bukankah itu tidak sesuai dengan gaya modis yang anda tunjukkan?" Sebisa mungkin Fazila berusaha menahan amarahnya, walau bagaimana pun Ia tidak boleh mengotori lisannya dengan ucapan kasar, atau tepatnya ucapan tidak berguna. Bersabar bukan berarti lemah, dan bersabar bukan berarti menerima tuduhan dengan berlapang dada. Sabar itu kekuatan, dan sabar itu tidak memiliki batas.

__ADS_1


Tuhan, berikan Aku kesabaran, berdiri di depan wanita aneh ini membuatku kesal. Sebenarnya, dia, siapa? Aku tidak mengenalnya. Jika Aku tidak mengenalnya, bagaimana mungkin dia menjadikan Ku musuh? Fazila bergumam di dalam hatinya tanpa melepas tatapan herannya dari sosok perempuan aneh yang berani mengatainya.


...***...


__ADS_2