
"Jujur, aku tidak tahu harus berkata apa! Kak Fazila dan Bang Matthew? Itu tidak mungkin. Dan itu tidak akan pernah terjadi walau dalam mimpi sekalipun!" Ujar Fatih secepat kilat, ia terlalu terkejut sampai tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Iya, aku tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Hanya saja, terlalu memaksakan diri untuk mencintai seseorang saat kita tahu cinta itu hanya mendatangkan derita, itu namanya kebodohan." Sambung Fatih lagi.
Fatih bicara dengan hati-hati agar Matthew tidak salah paham padanya. Dan lihatlah Matthew? Pria tampan itu membisu, ucapan Fatih terdengar bagai omelan yang mendatangkan petaka.
Untuk mencintainya dalam diam pun aku tidak memiliki hak. Bagaimana caraku menghabiskan hidup tanpa dirinya? Mencintainya membuatku bahagia, menepis cinta yang ada di hatiku sama saja dengan bunuh diri. Batin Matthew sambil menghela nafas kasar, melihat cara Fatih menatap dirinya membuatnya merinding.
"Apa kak Zii tahu kalau Bang Matthew sangat mencintainya?"
Tidak ada balasan dari Matthew selain anggukan kepala pelan.
"Lalu, apa tanggapannya?" Fatih kembali bertanya. "Maksudku, apa Kak Zii marah sampai ingin menampar Bang Matthew!"
"Dia menamparku, tepat setelah aku mengungkapkan perasaanku padanya." Matthew berusaha mengingat malam saat dirinya mengungkapkan perasaannya. Ia bahkan sampai meraba pipi kanannya, tamparan itu telah berlalu namun perihnya masih terasa.
"Aku sangat mengenal Kak Zii, dia tidak akan menyakiti siapa pun jika orang itu tidak melakukan hal yang membuatnya kesal.
Sekarang katakan, apa yang Bang Matthew lakukan sampai Kak Zii menamparmu? Tidak mungkin Kak Zii menampar Bang Matthew hanya karena Bang Matthew mengungkapkan perasaan padanya, itu mustahil." Selidik Fatih sambil tersenyum tipis. Ia tersenyum bukan untuk meledek Matthew. Hanya saja, menurutnya ini terlalu lucu.
"Aku memeluknya!" Urai Matthew dengan penuh penyesalan.
"What? Peluk? Wahhh, Bang Matthew benar-benar nekad, pantas saja Kak Zii menampar Bang Matthew.
__ADS_1
Bisa di bilang, Bang Matthew masuk kategori beruntung. Jika tidak, entah lengan atau kaki bang Matthew, salah satu di antara keduanya pasti akan patah." Fatih tidak berbohong saat mengatakannya, karena itu memang kebenarannya.
"Bang Matthew berani memeluknya? Untuk Kak Zii, kehormatannya jauh di atas segalanya. Saat Kak Zii marah, dia seperti Singa yang siap menerkam mangsanya." Sambung Fatih lagi, Ia menepuk bahu Matthew pelan. Berharap Matthew tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti yang dia lakukan sebelumnya.
"Ku akui Kak Zii punya berjuta-juta pesona indah yang sanggup menarik lawan jenis kearahnya. Jadi aku tidak menyalahkan Bang Matthew saat tahu Bang Matthew mencintainya.
Apa Bang Matthew tahu apa julukan Kak Zii? Ummi dan Abi memangggilnya Fazila Titipan dari Surga. Karena itu memang kebenarannya.
Kak Zii menjadi penghafal Qur'an sejak beliau berusia tujuh tahun. Dan berkat Kak Zii pula Ummi dan Abi bisa bersatu setelah bertahun-tahu mereka terpisah.
Setelah begitu banyak derita yang Abi lalui, berkat kehadiran Kak Zii di tengah-tengah keluarga Wijaya, kebahagiaan itu mulai datang menyapa." Ucap Fatih mengabarkan kisah keluarga besarnya yang sempat memanas sebelum Fazila memasuki kehidupan mereka.
"Bagi keluarga kami, Kak Zii lebih berharga dari semua harta yang ada di semesta. Dan aku?" Fatih menunjuk dirinya sendiri, mengabarkan kalau dia adik yang paling beruntung di dunia.
Lagi-lagi tidak ada balasan dari Matthew. Sejujurnya, Ia ingin menjawab iya, namun naluri kecerdasannya berperan di saat yang tepat, Ia tidak ingin Fatih melabelinya dengan panggilan laki-laki jahat karena mencintai istri orang lain, karena itulah ia memilih untuk menggelengkan kepala. Sayangnya, Ia terlambat karena Fatih sudah menekan nomor tujuannya. Jangan tanya lagi bagaimana perasaan Matthew, saat ini dadanya berdebar sangat kencang, jantungnya seolah akan loncat keluar, bisa mendengar suara gadis impiannya, baginya sudah termasuk kemenangan besar.
"Assalamu'alaikum. Ada apa Dek?" Terdengar suara lemah lembut Fazila di sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam, Kak. Kakak apa kabar?" Fatih mulai membuka suara di antara senyapnya udara, Matthew yang duduk di dekatnya hanya bisa menelan saliva. Ia bahkan tidak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.
"Kau dimana? Ummi bilang, semalam kau tidak pulang. Jangan lakukan hal aneh saat kau berada di luar. Kau tahukan, Kakak akan membencimu jika Kakak tahu kau meminum-minuman memabukkan." Ucap Fazila ketus sambil meremas jemarinya.
Untuk sesaat, Fatih terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Bahkan, Matthew yang secara langsung mendengar ucapan Fazila tampak kesal pada dirinya sendiri. Orang bilang, jika kita baik maka kita akan berjodoh dengan seseorang yang baik pula. Sungguh, Matthew berpikir tidak ada persamaan antara dirinya dan Fazila, sekecil apa pun.
__ADS_1
"Aku bersama, teman." Jawab Fatih cepat sebelum Fazila kembali bertanya.
"Apa Kakak marah karena hari ini aku tidak masuk kelas?"
"Tidak."
"Apa aku tidak akan lulus di mata pelajaran Kakak kali ini?"
"Tergantung usahamu! Kau tahu Kakak, kan? Kakak selalu bersikap adil pada siapa pun. Dan menyangkut pagi ini, Kakak tidak bisa hadir di kelas. Kakak meminta Bu Marta yang menggantikan."
Matthew yang masih fokus mendengar percakapan antara Kakak Beradik itu merasa cemburu. Ia cemburu karena tidak bisa membagi perasaannya karena Ia tidak punya saudara.
"Apa Kakak sibuk? Apa aku bisa bicara sebentar?"
"Katakan, apa yang kau inginkan? Aku akan mendengar kisahmu!" Fazila bertanya sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hari ini Ia berjanji akan mengantar makan siang ke kantor Refal, Ia ingin memasak, namun aktivitasnya terganggu saat Ia menyadari ponselnya berdering dan itu dari Fatih.
"Kakak, aku punya seorang teman, Kakak mengenalnya karena kami satu kelas. Pagi ini dia cerita, dia bilang dia terlanjur jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami. Dia mengungkapkan perasaannya pada wanita itu, sayangnya wanita itu menatapnya dengan tatapan kebencian. Apa yang harus ku katakan pada temanku itu agar dia tidak terpuruk atau putus asa hanya karena satu wanita!" Tanya Fatih mencoba menyamarkan sosok yang di maksudnya.
Matthew yang sadar menjadi bahan perbincangan antara Kakak Beradik itu hanya bisa mematung. Sejujurnya, Ia sangat penasaran, menanti tanggapan Fazila membuatnya merasakan panas dingin.
Di tempat berbeda, Fazila sedang berpikir jawaban apa yang harus Ia beri agar orang yang Fatih maksudkan bisa mendapatkan pencerahan.
Mendengar suara lembutnya membuatku semakin jatuh cinta. Ada apa dengan diriku? Kenapa semua yang menyangkut dirinya membuatku hilang akal? Aku tidak meminum minuman beralkohol, tapi tetap saja aku merasa mabuk kepayang pada pesona indahnya, aku merasa aku semakin jatuh cinta. Gumam Matthew di lubuk hati terdalamnya.
__ADS_1
...***...