Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Terasa Nyata! (Matthew)


__ADS_3

Di sebuah taman nan indah berjalan Matthew tanpa menggunakan alas kaki. Hamparan rumput hijau yang di injak kakinya terasa lembut bagaikan sutra. Bunga-bunga dengan berbagai warna merekah dengan indah, merah, kuning, putih, ungu, dan masih banyak lagi jenis bunga lainnya.


Matthew menatap kearah langit sembari tersenyum lebar, entah kenapa ia merasa suasana kali ini terasa sangat berbeda. Bahkan awan yang ia lihat mengukir dengan indah, bertuliskan lafas Allah. Matthew merinding, untuk pertama kalinya ia melihat hal itu. Dan semua ini bagai keajaiban untuk dirinya yang selama ini tidak pernah percaya akan adanya Tuhan.


Dua puluh langkah dari tempat Matthew berdiri, belasan anak sedang bermain sambil tertawa. Anak-anak itu menggunakan pakaian dengan warna yang sama, gamis putih seperti yang sering ia lihat di rumah Tahfiz milik Fazila. Anak-anak itu terlihat tampa beban, hal itu mengingatkan Matthew pada masa kecilnya yang penuh dengan kenangan. Tanpa Matthew sadari air matanya mulai menetes.


"Kenapa waktu cepat sekali berlalu? Jika aku bisa aku ingin menjadi anak-anak lagi, menjadi anak-anak artinya bahagia, tanpa luka, tanpa derita, tanpa air mata, dan tanpa beban." Celoteh Matthew sambil meletakkan tangannya di dada.


Dadanya masih berdebar, merasakan cinta untuk Fazila. Cinta yang semakin hari semakin membesar. Dan di saat Matthew sedang menatap anak-anak lucu itu, sayup-sayup ia mendengar seseorang dengan suara merdu sedang membaca Bismillah. Fokus Matthew terpecah, ia berdiri kemudian mencari sumber suara.


Matthew menemukan pemilik suara merdu itu, ia menatap dengan takjub. Tanpa terasa Matthew kembali meneteskan air mata, bukan air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan. Bahagia karena ia bisa melihat Fazila lagi.


Iya, pemilik suara merdu yang menggetarkan jiwa itu adalah Fazila. Ia duduk di atas karpet berbentuk hati dengan warna merah muda. Fazila menggunakan gamis hijau dengan kain penutup kepala dengan warna senada. Kecantikannya menyilaukan mata. Sungguh, Matthew berpikir ia tidak pernah melihat wanita secantik Fazila, kecantikan yang sanggup menghipnotisnya.


"Apakah kau Bidadari itu? Bahkan hanya mencium aroma tubuh mu dari jarak puluhan meter aku bisa tahu itu kau. Kau berbeda dari yang lain, mungkin karena alasan itu hatiku mudah mencintaimu." Ujar Matthew tanpa melepas tatapannya dari Fazila yang saat ini tidak menyadari kehadirannya.


Matthew kembali terdiam saat ia kembali mendengar lantunan ayat-ayat cinta yang keluar dari lisan Fazila. Untuk sesaat hatinya di penuhi oleh perasaan lega.


Ta ha.


Ma anzalna 'alaikal-qur'ana litasyqa.


illa tazkiratal limay yakhsya.


Tanzilam mim man khalaqal-arda was-samawatil-ula.


Ar-rahmanu 'alal-'arsyistawa.


Lahu ma fis-samawati wa ma fil-ardi wa ma bainahuma wa ma tahtas-sara.


Wa in taj-har bil-qauli fa innahu ya'lamus-sirra wa akhfa.

__ADS_1


Allahu la ilaha illa huw, lahul-asma ul-husna.


Taha.


Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.


Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).


Di turunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.


(Yaitu) yang maha pengasih, yang bersemayam di atas Arsy'.


Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, Apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.


Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.


Dialah (Allah), tidak ada Tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.


Fazila menghentikan bacaannya saat mendengar suara tangisan yang begitu nyaring. Kepalanya terangkat dan menatap mata sembab Matthew. Pria tampan itu masih menangis dengan tubuh bersimpuh.


"Kanapa kau menangis? Siapa yang mengganggumu? Katakan padaku, aku janji akan menghukumnya untukmu." Guyon Fazila sambil tersenyum tipis.


"Tidak ada yang menggangguku, aku merasa takjub, karena itu aku menangis." Balas Matthews sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Takjub? Karena apa?" Fazila bertanya, alisnya saling bertautan. Ia tampak bingung namun ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih lanjut.


"Suaramu bernyanyi sangat merdu, aku takjub mendengarnya. Sekujur tubuhku tiba-tiba terasa lemah dan aku tidak sadar air mata sialan ini pun mulai keluar. Untuk pertama kalinya dalam hidup hatiku merasakan ketenangan yang teramat besar." Ujar Matthew dengan wajah memamerkan kesedihan.


"Bernyanyi? Aku tidak pernah melakukan itu. Dan tidak akan pernah melakukannya. Yang tadi kau dengar itu bukan nyanyian, tapi ayat-ayat Cinta dari yang Kuasa.


Aku tidak heran saat kau mengatakan hatimu merasakan ketenangan saat mendengarnya, karena Al-Qur'an itu adalah obat hati bagi siapa saja yang membaca, mendengarkan, ataupun mengambil pelajar darinya." Fazila menjelaskan panjang kali lebar sampai tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat.

__ADS_1


"Dengarkan aku, terima kasih atas cinta tulusmu kepadaku. Aku merasa tersanjung di cintai oleh pria sebaik dirimu. Tapi maaf, jalan kita berbeda. Sekuat apa pun usahamu mendekatiku maka sekuat itu pula aku akan menghindarimu.


Bukan lantaran kau tidak cukup baik atau cukup tampan untukku, hanya saja saat dua hati memiliki keyakinan berbeda maka perbedaan itu akan menjadi tembok besar yang menjadi penghalang untuk kita berdua. Aku akan melewati jalanku dan kau akan melewati jalanmu." Fazila berucap dengan nada suara lemah lembut, karena sejatinya kelembutan adalah sikap seorang Hamba yang taat pada Tuhannya.


Allahu Akbar.


Allahu Akbar.


Pembicaan serius Matthew dan Fazila terputus karena panggilan azan yang menenangkan jiwa.


"Aku harus pergi. Jaga dirimu." Sambung Fazila lagi. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada kemudian berlalu dari depan Matthew tanpa menoleh kebelakang.


Matthew yang tidak terima di tinggalkan oleh Fazila bergegas mengikuti wanita impiannya itu menuju arah sumber suara, ribuan orang berkumpul disana dengan pakaian yang sama, putih. Iya, semua orang menggunakan pakaian putih kecuali Matthew yang menggunakan setelan kemeja hitam dengan dasi berbentuk kupu-kupu yang memperindah tampilannya.


Saat Matthew ingin masuk dan mendekati Fazila, seketika langkahnya di cegah oleh dua pria bertubuh jangkung bak Malaikat penjaga Surga.


"Maaf, anda tidak boleh masuk ke tempat ini. Tempat ini khusus untuk orang-orang yang telah bersuci." Ucap salah satu pria di depan Matthew. Wajahnya memamerkan kelembutan namun nada bicaranya di penuhi dengan ketegasan.


"Maaf Tuan, temanku ada di dalam, aku ingin bertemu dengannya. Aku mohon izinkan aku masuk kali ini saja!" Matthew yang malang, walau sudah memohon dengan semua cara yang ia bisa tetap saja ia tidak mendapatkan izin dari kedua pria itu, sepersekian detik kemudian dinding tinggi tiba-tiba tercipta untuk memisahkan Matthew dari pria itu.


Tampak jelas di mata Matthew, Fazila berjalan semakin menjauhinya sambil melambaikan tangan sebagai perpisahan.


"Fazila... Tidakkkk! Tolong aku." Matthew menjerit setelah Fazila tidak terlihat lagi di depannya, hanya ada kilatan api yang membara, taman indah yang ia lewati belasan menit yang lalu berubah tandus bagai gurun tak berpenghuni.


Hhhhhh!


Suara deru nafas Matthew terdengar berat, sekujur tubuhnya merinding, ia lemas, perutnya terasa bagai di tusuk belati. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi.


Huekk.Huekk!


Matthew mulai muntah-muntah, ia memijit lehernya sambil bersandar di dinding. Tatapan matanya kosong, sedetik kemudian ia mulai terisak. Tangisnya pecah saat menyadari Fazila melambaikan tangannya, walau itu hanya mimpi namun semuanya terasa nyata. Dengan sisa tenaga yang Matthew punya, ia berjalan menuju nakas dan meraih kitab suci seukuran telapak tangan orang dewasa yang pernah Fatih berikan padanya. Dengan Cepat Matthew membuka dan mencari ayat-ayat cinta yang Fazila baca. Tangis Matthew semakin menjadi-jadi saat ia menyadari alasan kedua pria yang tidak mengizinkannya bertemu Fazila.

__ADS_1


Kita berbeda tapi kau begitu baik sampai tidak menghinaku karena perbedaan itu, aku tahu ini hanya mimpi namun semuanya terasa sangat nyata. Matthew bergumam di dalam hatinya tanpa bisa menghentikan tangisnya.


...***...


__ADS_2