
"Honey... Kau sudah selesai?" Fazila bertanya sambil mengeluarkan baju santai dari dalam koper dan meletakkannya di ranjang. Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan, senyum yang masih mengembang di wajah tampannya menjelaskan kalau dia sangat bahagia, bahagia bersama istri Salihanya.
"Terima kasih." Ucap Refal sambil mengambil pakaian yang di letakkan Fazila tadi. Kecupan singkat mendarat di puncak kepala Fazila kemudian elusan demi elusan di puncak kepala Fazila berhasil membuat hati Refal tidak baik-baik saja.
"Sayang, Aku lihat Kau sangat bekerja keras untuk mendekatkan Melan dan ketiga jagoan kita. Apa terjadi masalah? Jika di pikir-pikir semua ini mungkin bermula dari Melan. Jika itu benar, aku pasti akan menghukum anak nakal itu." Celoteh Refal sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya. Pakaian yang di berikan Fazila menambah seratus persen ketampanan seorang Refal Mahendra Shekar.
Ssstttt!
"Jangan berkata seperti itu. Mereka adik-adik kita, dan tugas kita untuk mendamaikan jika mereka terlibat masalah. Kau lihat wajah Melan?" Fazila bertanya sambil mengalungkan lengannya di leher Refal, mereka saling bertatapan.
"Gadis manis itu terlihat bersalah. Di tambah lagi Fatih, Umang, dan Regan terlihat kesal. Sepertinya mereka terlibat masalah cukup serius. Aku sengaja meninggalkan mereka di taman agar mereka bisa bicara. Meminta maaf jauh lebih baik dari pada menyimpan dendam." Celoteh Fazila sambil mencubit hidung bangir suaminya.
__ADS_1
"Jangan menggodaku, karena ujung-ujungnya aku tidak akan bisa mengendalikan diriku." Ujar Refal dengan suara parau. Mendengar ucapan suaminya Fazila hanya bisa cekikikan.
Biasanya, Fazila tipikal pribadi yang serius, baik dalam bekerja maupun belajar. Entah kenapa setiap kali berada disisi Refal jiwa kekanak-kanakannya kembali muncul sama seperti saat Ia masih tinggal di Kota Malang, berteman dengan Amir, Lisa Dan Dena. Entah apa kabar ketiga sahabatnya itu, saat di undang untuk menghadiri pesta pernikahan Fazila, mereka bertiga hanya memiliki satu alasan 'Sibuk' jika bisa rasanya Fazila Ingin memusnahkan satu kata itu sehingga Ia bisa berkumpul dengan ketiga sahabat baiknya, masa kecil memang tidak bisa di ulangi namun kenangan rasa itu masih terasa membahagiakan.
Dan entah siapa yang memulainya terlebih dahulu, kini bibir Fazila dan Refal saling bertemu, saling mencecap rasa untuk menghilangkan jarak di antara mereka, berharap setelah ini akan ada kabar bahagia datangnya buah hati penyejuk mata.
Sementara itu di taman depan Villa, duduk Melan sambil menatap Bintang Gemintang. Tatapan matanya terlihat kosong, penyesalan tentang kejadian pagi tadi masih menghantui jiwa raganya.
Berani sekali kau? Apa orang tua Mu tidak pernah mengajarimu cara menghormati wanita? Ujar Melan dengan mata menyala, semua pengunjung yang ada di kafe pagi tadi di penuhi amarah melihat wanita yang berdiri di meja nomor sembilan.
Ada apa Nona? Apa ketiga pria kurang ajar ini mengganggumu? Seorang Pengunjung dengan tubuh gembul bertanya dengan mata menyala.
__ADS_1
Pak... Hiks.Hiks. Pria kurang ajar ini telah berani melecehkanku. Dia menarik Ku kedalam toilet, dan dengan sekuat tenaga Aku berusaha menghindarinya. Lapor Melan dengan derai air mata, air mata kepalsuan. Entah dari mana dia belajar beracting. Semuanya tampak natural, tanpa di buat-buat.
Nona? Apa kau tidak waras? Berani sekali Kau menuduhku melakukan perbuatan hina itu? Aku tidak tahu dari keluarga mana Kau berasal, yang jelas Kau wanita tidak tahu malu. Celoteh pria yang belakangan Melan ketahui sebagai adik dari Kakak iparnya.
Kebohongan besar yang Melan lakukan bersama kedua rekannya hanya gara-gara taruhan liburan ke Eropa, benar-benar membuat Melan merasakan penyesalan mendalam, bahkan gara-gara perbuatan bodohnya, Adik dari Kakak Ipar kesayangannya mendapatkan satu pukulan keras dari pengunjung Kafe.
"Bodoh! Bodoh! Kenapa Aku sebodoh ini? Gara-gara Donita dan Nara, Aku melakukan kesalahan fatal. Persetan dengan liburan ke Eropa, rasanya sekarang Aku ingin menghilang dari dunia ini. Bagaimana jika Kakak Ipar tahu perbuatanku pada adik-adiknya? Bisa-bisa dia tidak akan bicara dengan Ku seumur hidupnya. Melan... Kamu menggali kuburan Mu sendiri!" Ujar Melan penuh penyesalan, tidak ada lagi kepura-puraan.
"Iya, Kau benar-benar bodoh. Dan Aku mengakui itu." Ujar Fatih yang muncul entah dari mana, tangan kanannya memegang Senter yang masih menyala.
Glekkkk!
__ADS_1
Melan menelan saliva, Ia tidak berani menatap Fatih dengan mata terbuka. Wajah cantiknya merunduk sempurna, dalam hati Ia berdoa semoga Adik dari Kakak iparnya, atau tepatnya Fatih, orang yang Ia kenal siang tadi tidak menamparnya untuk membalas dendam padanya.
...***...