
Setelah mengantar Fazila ke kampus, Refal langsung melajukan mobilnya menuju kantor Gubernur. Sembari menanti kedatangan Asistennya, Refal menyibukkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda karena pesta pernikahannya kemarin.
"Apa kau sudah melakukan hal yang ku minta dari mu?" Refal bertanya sambil menutup berkas yang ada di tangan kanannya.
"Iya, Pak. Semuanya sudah siap." Balas Bima dengan kepala tertunduk.
"Bagus. Di mana mereka? Minta mereka segera menemuiku."
Tidak ada balasan dari Bima selain anggukan kepala pelan. Sedetik kemudian Ia menatap kearah daun pintu, berjalan kesana kemudian membukanya.
Tanpa menunggu lagi, Bima meminta empat pria bertubuh jangkung, berpakaian rapi dan tentunya ahli bela diri untuk masuk ke dalam kantor Refal.
"Apa mereka orangnya?"
"Iya, Pak."
"Hmm!" Refal bergumam sembari memperhatikan dari atas ke bawah penampilan empat pria yang berdiri di depan meja kerjanya. Ia menatap tajam kearah Bima sembari melipat kedua lengan di depan dada.
"Bima, minta OB membawa kopi untuk kami. Jangan masuk jika Aku tidak meminta mu untuk masuk. Kau paham?" Refal memberi titahnya sambil menunjuk Bima.
"Baik, Pak." Balas Bima singkat.
__ADS_1
Setelah Bima pergi Refal meminta keempat pria yang berdiri di depannya untuk duduk di sofa.
"Asistenku membawa kalian ke hadapanku, itu artinya dia percaya kalian bisa mengemban tugas yang akan ku berikan.
Tugas kalian lumayan berat, karena Aku akan meminta kalian untuk menjaga istriku selama dia tidak bersamaku." Ucap Refal sambil melipat lengan bajunya.
"Istriku wanita yang sangat cerdas, Aku tahu dia bisa menjaga dirinya dan dia tidak mau di jaga oleh Bodyguard.
Jadi, tugas kalian hanya perlu menjaga istriku dari kejauhan. Jangan tampakkan diri jika tidak dalam keadaan terdesak. Kalian paham?" Refal menatap satu persatu pria yang ada di depannya.
"Siap, Pak. Kami akan melakukan semuanya sesuai dengan instruksi dari Bapak." Ucap seorang pria yang duduk di depan Refal.
Tok.Tok.Tok.
Bima memasuki kantor Refal bersama seorang OB yang membawa nampan Kopi. Bima berjalan kearah Refal dan berbisik di telinganya. Entah berita apa yang di bisiki Bima sampai membuat wajah Refal berubah. Wajah yang tadinya terlihat serius kini di penuhi oleh amarah.
"Setelah Kopi kalian habis, kalian bisa pergi menggunakan mobil yang sudah di siapkan oleh Asistenku. Langsung berangkat menuju kampus tempat istriku mengajar. Laporkan setiap detail yang dia lakukan. Dan satu lagi, jika ada hal yang mencurigakan segera laporkan padaku!" Ucap Refal menegaskan.
Aku berani mencintai, dan Aku mencintai dengan berani. Gumam Refal sembari menghadirkan wajah cantik Fazila di benaknya. Entah sebesar apa cinta yang memenuhi rongga dada seorang Refal Mahendra Shekar sampai Ia berani menyewa Bodyguard untuk memata-matai istri cantiknya.
Sungguh, tidak ada pilihan lain yang bisa Refal lakukan untuk menjaga istrinya dari jarak yang tidak bisa Ia lihat. Hanya dengan melakukan ini Ia bisa merasakan ketenangan saat bekerja. Dalam hatinya Refal berdoa semoga Fazila tidak marah saat mengetahui dirinya selalu di mata-matai.
__ADS_1
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, Matthew sedang duduk dengan tenang. Menghabiskan makanannya yang masih tersisa tinggal setengah. Sejak pagi Ia memikirkan ucapan Bagas, ucapan tentang Nona Mudanya yang penuh dengan pesona. Jika di pikir-pikir, selama ini Matthew tidak pernah mempercayai ucapan siapa pun. Namun, entah kenapa pikirannya selalu saja tertuju pada sosok yang tidak pernah Ia lihat rupanya. Jika Matthew di tanya kenapa hal itu bisa terjadi, mungkin saja Ia akan menjawab 'Aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi' Karena memang itu lah kebenarannya.
Meyda Noviana Fazila!
Matthew pernah membaca nama itu di koran, tepatnya di mobil yang di kemudikan Bagas saat pertama kali pria itu menjemputnya di Bandara. Dan sejak saat itu pikirannya selalu seja berkelana.
"Rasanya Aku tidak sabar menunggu jam sepuluh malam. Tapi, jika di pikir-pikir kenapa wanita dari keluarga baik-baik memilih jam siaran di tengah malam? Dasar wanita aneh." Celoteh Matthew sambil berdiri dari sofa.
"Aku tidak suka tinggal sendirian, bagaimana kalau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan? Sepertinya... Itu ide yang buruk. Jika tidak, Aku harus pergi kemana?" Matthew menyambar kunci mobil yang Ia letakkan di atas meja. Berjalan pelan meninggalkan Apartemen menuju tempat yang tidak pasti. Karena Ia sendiri tidak tahu harus kemana.
Lima belas menit berlalu sejak Matthew memutuskan meninggalkan Apartement, saat ini mobil yang Ia kendarai berhenti di depan lampu merah.
Entah Mimpi apa Ia semalam sampai hal tak terduga tersuguh di depan matanya. Matthew tersenyum, Ia bahagia, dan Ia merasa terberkati. Moment yang Ia tunggu-tunggu sejak lama akhirnya tiba juga. Akankah ini bisa di katakan takdir yang indah? Atau justru nasib buruk? Hanya Tuhan yang tahu.
Dan buruknya, Matthew tidak percaya dengan takdir, yang Ia percayaai semua yang menjadi miliknya adalah hasil dari kerja kerasnya. Sama seperti saat ini, Ia akan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang di inginkah hatinya. Cinta.
Hay Nona pemarahku. Akhirnya Kita bertemu lagi, kali ini Aku tidak akan melepasmu. Aku akan menjadikanmu sebagai milikku, selamanya. Gumam Matthew sambil menatap mobil merah yang ada di samping mobilnya. Sebenarnya bukan mobilnya yang menjadi pusat perhatian Matthew, melainkan gadis anggun yang duduk di kursi kemudi.
...***...
__ADS_1