
Untuk sesaat ruang tengah kediaman Abbas tanpak senyap, baik Abbas, Fazila maupun Sky, tak ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Fazila sendiri cukup terkejut mendengar pengakuan singkat Abbas, walau Fazila tidak tahu akar masalahnya, namun Ia tahu pria muda di depannya ini memiliki dendam lama pada Abinya, Alan Wijaya.
"Aku tidak akan marah." Ucap Fazila sambil merunduk, Ia menghela nafas kasar tanpa berani menatap Abbas maupun Sky. Suara helaan nafas kasarnya menjelaskan betapa buruk perasaannya saat ini, merasa buruk karena berada di depan orang yang membenci Abi-nya. Namun bagaimana lagi, Ia juga sadar, atas pertolongan Abbas lah Ia masih bisa bernafas dengan tenang.
"Aku tidak marah padamu, aku juga tidak tahu masalah apa yang membuatmu dan Abi terlibat sampai sejauh ini. Aku hanya ingin mengatakan, Abi pria yang baik. Jika kau mengenalnya kau akan tahu betapa baiknya beliau pada semua orang.
Yang kau simpan di dalam hatimu adalah dendam, jika kau masih nekad mempertahankan dendam itu, ku pastikan kau tidak akan pernah merasakan bahagia. Lepaskan semua hal buruk dari hatimu, aku yakin semua kebahagiaan akan datang menyapamu." Ucap Fazila dengan tulus.
Abbas belum mengungkapkan segalanya, namun dari tatapan dan cara Abbas bicara, Fazila bisa mengerti dirinya berada di tengah-tengah permusuhan antara dua pria beda generasi itu.
"Kisah ini bermula dari Tuan Alan. Dia sangat jahat, dia melukai harga diri Papaku, dia juga meninggalkan Mama Seren, wanita yang sangat dia cintai dan memilih menikah dengan wanita lain. Aku sangat membencinya." Ucap Abbas dengan amarah membuncah.
Fazila mengelus dada, Ia tidak pernah berpikir ada orang yang membenci Abinya sebesar ini. Dalam pandangannya, tidak ada orang yang kebaikannya melebihi Abinya. Tapi, apa ini? Fazila yakin ada kesalahpahaman besar yang terjadi.
"Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku bersikap baik padamu? Aku Abbas yang sama, Abbas yang dulu pernah mengungkapkan perasaannya padamu saat kita masih kanak-kanak. Aku Abbas yang sama, Abbas yang selalu menatapmu saat kau duduk sendiri sambil melantunkan ayat-ayat suci. Dan aku Abbas yang sama, Abbas yang selalu bangga padamu." Ujar Abbas dengan kepala tertunduk.
Fazila tampak shock, Ia tidak pernah menduga akan bertemu dengan anak laki-laki yang dulu pernah mengungkapkan cinta saat mereka masih kanak-kanak. Namun, sedetik kemudian, sudut bibir Fazila sedikit terangkat, Ia tersenyum. Entah ini kebetulan atau apalah namanya, yang jelas Fazila merasa terharu.
"Kau tahu, kan? Masa kanak-kanakku, aku jalani tanpa kehadiran seorang Ayah. Aku dan Ummi, kami hanya tinggal berdua. Apa kau pikir Ummi wanita yang jahat?" Fazila bertanya pada Abbas sambil menatap wajah kesal pria itu.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku dan Ummi sejahat itu sampai harus memisahkan Abi dan Mama mu? Itu tidak benar." Sambung Fazila lagi.
"Yang ku tahu, Abi bertunangan dengan seorang wanita, namun buruknya wanita itu menghianatinya. Hal itu meninggalkan luka bagi Abi dan membuatnya prustasi, dan rasa sakit itu mempertemukan beliau dengan Ummi. Kau tahukan selanjutnya yang terjadi?
Teman-teman meledekku karena aku tidak punya Ayah, tapi lihatlah keajaiban yang terjadi dalam hidupku. Setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya aku bertemu dengan Ayah kandungku.
Jadi, aku hanya ingin mengatakan, Ummi wanita yang baik, begitu juga dengan Abi. Aku berharap kau bisa menerima kenyataan ini, dan melepaskan semua beban di hatimu." Ucap Fazila dengan suara bergetar.
"Abi tidak pernah menyakiti siapapun, dan aku sangat percaya pada kebaikan yang selalu beliau tunjukkan. Jika kau pikir aku membela beliau lantaran aku putri yang memihak pada Ayahnya, maka dengan tegas ku katakan, aku bukan orang seperti itu." Ujar Fazila menegaskan, tidak ada kebohongan dalam setiap hurup yang Ia rangkai menjadi kata-kata. Ada kebenaran dalam setiap ucapannya, hanya hati yang lurus yang akan menerima kebenaran setelah seseorang berusaha menjelaskan padanya.
Jika kau pikir aku membela beliau lantaran aku putri yang memihak pada Ayahnya, maka dengan tegas ku katakan, aku bukan orang seperti itu. Abbas meneteskan air mata. Ucapan Fazila terus saja berputar di memori otaknya, Ia tahu dengan pasti wanita yang sangat dicintainya itu tidak akan pernah berbohong walau di dalam mimpi sekalipun. Abbas tahu itu karena mereka menghabiskan masa kecil di sekolah yang sama walau tidak lama karena Fazila harus pindah sekolah dan kembali pada keluarga besar Ayahnya, Alan Wijaya.
"Baiklah. Aku akan melupakan segalanya, itu karena aku mempercayaimu." Abbas menatap wajah cantik Fazila, kecantikan alami yang selalu membuatnya hilang kendali, namun untungnya Ia selalu menahan diri agar tidak berhambur kedalam pelukan wanita terbaik dalam hidupnya itu.
"Tapi, tunggu dulu. Apa kau yang mengirim surat ancaman ke Mansion Wijaya di hari pernikahan ku?" Kali ini Fazila bertanya serius, Ia menatap Abbas dengan tatapan membunuh. Abbas yang di tatap terlihat tidak nyaman, bukannya menjawab pertanyaan Fazila, dia malah menatap Sky dengan tatapan tajam.
"I-iya. Itu a-aku." Balas Abbas gugup. Ia terlalu malu dengan apa yang sudah di lakukannya.
"Surat itu di tulis dan di kirim oleh Sky." Sambung Abbas lagi. Kali ini giliran Sky yang ditatap Fazila. Pria itu terlihat salah tingkah.
"Kenapa Bos menyalahkanku? Aku melakukannya murni karena perintah Bos. Apa aku salah...?" Sky berusaha membela diri agar tidak di salahkan, dua hari tinggal di bawah atap yang sama membuat Sky merasa nyaman berteman dengan Fazila.
__ADS_1
"Jangan berdebat, aku memaafkan kalian berdua." Celoteh Fazila sambil berusaha menahan tawa. Kedua pria tampan di depannya terlihat menggemaskan.
"Aku merasa lega, sekarang tidak ada lagi yang akan membuatku merasa tertekan, apalagi sampai terluka." Abas berucap tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Aku tidak akan bertanya jika kau tidak menyukainya."
"Kau boleh bertanya apa pun yang kau inginkan, aku memberimu hak untuk itu. Aku janji akan menjawab semuanya tanpa kebohongan." Jawab Abbas sambil mengangguk.
"Apa Kau masih mencintaiku?" Fazila kembali bersikap serius. Tidak ada balasan dari Abbas selain anggukan kepala pelan.
"Dengarkan aku, dulu kau mengungkapkan perasaanmu. Aku menolak karena saat itu kita masih kecil. Dan hari ini pun sama, aku menolakmu. Aku sudah menikah. Aku berharap kau akan menemukan seseorang yang akan membuatmu bahagia."
"Aku tahu itu, dan aku tidak berharap apa pun dari rasa cintaku. Lupakan semuanya.
Karena kau sudah sembuh, aku akan mengantarmu pulang sore ini. Dan satu lagi, kau bisa menghubungi keluargamu, aku yakin mereka pasti sangat khawatir. Maafkan aku karena tidak mengizinkanmu memberi kabar pada mereka." Ujar Abbas sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Bahasa persahabatan bukanlah kata-kata semata, tapi bahasa persahabatan adalah penuh makna. Hari ini Fazila menasihati Abbas agar berdamai dengan masa lalu dan melepaskan semua beban dari hatinya. Dan setelah sekian lama akhirnya Fazila bisa bertemu dengan sahabat sebaik Abbas, yang paling membuat Fazila bahagia, Abbas akan mengantarnya pulang.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
__ADS_1
...***...