
Dorrr!
Abbas melepaskan tembakan pada anak buahnya yang saat ini mencoba melecehkan Fazila, pria paruh baya itu terjatuh dengan darah segar yang keluar dari paha bagian belakangnya. Abbas geram, Ia sangat marah sampai ingin melepaskan kembali pelurunya, dan dengan cepat Sky menahan Abbas sehingga senjata itu terjatuh kelantai.
Deru nafas Abbas terdengar berat.
Gdebuk!
Gdebuk!
Tanpa ampun Abbas melayangkan tendangan di punggung dan lengan pria paruh baya yang sudah tak berdaya itu.
"Apa kalian ingin tiada? Kenapa kalian diam dan membiarkan bajingan itu mendekati wanita ini, hah?" Abbas menunjuk tiga pria lainnya, pria yang bertugas mengawasi Fazila.
Ketiga pria itu terdiam, mereka merunduk sambil menahan rasa takut. Mereka tahu, saat Abbas marah pria itu sanggup melakukan apa saja, termasuk menghilangkan nyawa siapa pun yang berani menentangnya.
"Kalian bertiga tidak berguna." Ujar Abbas geram, Ia mengambil senjatanya yang tergeletak di lantai dan menarik pelatuknya, namun dengan cepat Sky kembali menahan gerakan tangan Tuannya agar tidak ada yang terluka akibat senjata kesayangannya.
__ADS_1
"Kalian tahu? Peluruku jauh lebih berharga dari nyawa kalian. Tapi, tetap saja kalian menggodaku untuk melenyapkan kalian, jika saja bajingan itu sampai melecehkan wanita ini, aku bersumpah demi istri dan anak kalian, kalian akan tiada di tanganku dan tidak akan ada yang tahu keberadaan kalian." Ujar Abbas lagi, matanya memerah, Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak melenyapkan keempat pria yang ada di hadapannya.
Setelah memuntahkan kemarahannya, Abbas berjalan kearah Fazila, melepas jasnya kemudian menyelimuti tubuh Fazila dengan jas itu. Sungguh, air mata Abbas langsung tumpah saat melihat kondisi Fazila yang tak sadarkan diri dengan baju yang sobek di beberapa bagian.
"Alhamdulillah." Ucap Abbas sambil mengangkat Fazila kedalam gendongannya. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya Abbas kembali mengucapkan kata syukur. Sky tampak heran melihat perubahan Bos besarnya. Dalam hati Sky bertanya-tanya ada hubungan apa Bos besarnya dengan wanita yang hampir di lecehkan itu? Dan menyedihkannya, sampai kiamat pun Ia tidak akan berani bertanya pada Abbas secara langsung.
Abbas dan Sky bergegas meninggalkan gudang tua, begitu juga dengan keempat anak buah tidak bergunanya. Seharusnya mereka bersyukur karena Abbas tidak meleyapkannya.
Lima belas menit setelah Abbas pergi. Refal tiba bersama dengan rombongannya. Dua kendaraan polisi yang di ikuti oleh mobil Refal di belakangnya. Begitu sampai, mereka bergegas memasuki bangunan tua itu.
Jujur, Refal merasakan ketakutan. Ia saja takut. Lalu, bagaimana dengan istri Salihanya? Semenjak Fazila menghilang, Ia bagaikan mayat hidup, tak bersemangat lagi. Begitulah cinta, seseorang akan menyadari betapa besar cintanya saat orang itu tak lagi bersamanya.
Sedetik kemudian, semua orang sudah masuk kedalam bangunan itu. Tak terkecuali Refal. Ia sudah masuk terlebih dahulu, di tangan kanannya, ada senjata untuk berjaga-jaga, walau Ia jarang menggunakan benda itu, bisa di bilang Ia termasuk penembak jitu, bidikannya tidak pernah meleset.
Satu menit, dua menit, lima menit, bahkan hingga mendekati menit kesepuluh, Refal dan timnya tidak menemukan apa-apa. Mereka tidak berani mengeluarkan suara terlalu keras, karena itu mereka memeriksa semua titik di bangunan itu secara hati-hati, di khawatirkan bajingan itu akan menyakiti Fazila. Itu menurut pendapat mereka.
"Pak Gubernur, tempat ini kosong. Di bagian belakang bangunan ini ada satu tempat, dan tempat itu..." Bima tidak berani meneruskan ucapannya, wajahnya terlihat pucat.
__ADS_1
Tanpa berucap sepatah kata, Refal langsung berlari menuju tempat yang di maksud Bima sambil membawa rasa takutnya.
Fazila ku sangat kuat. Bertahanlah sebentar lagi, aku akan membawamu pulang. Aku pasti akan memberikan hukuman berat pada orang yang telah berani memisahkan kita. Refal bergumam di dalam hatinya sambil berlari layaknya pria yang sedang lomba lari maraton.
Aaaaaa!
Refal berteriak sambil mukul dinding, Ia sangat kesal. Ia bahkan tidak menghiraukan tangannya yang mengeluarkan darah,
"Tidak ada apa pun disini. Kemana mereka membawa Fazila?" Refal berucap dengan suara berat, di tengah keputusasaannya, Ia menatap kearah dinding yang ada di belakang Matthew.
"Da-darah! Darah siapa ini?" Refal berjalan mendekati kursi tua itu dan melempar karung yang ada di bawah kakinya.
Dag.Dig.Dug.
Dada Refal berdebar sangat cepat, Ia menatap tajam kearah bercak darah yang coba di tutupi oleh bajingan yang datang sebelum dirinya. Yang membuat Refal semakin ketakutan, potongan gaun yang Fazila kenakan kini ada di tangannya, Refal sangat mengenal gaun itu karena Ia sendiri yang memilihnya khusus untuk Fazila.
Huaaaaa!
__ADS_1
Refal kembali berteriak di barengi tangis pilunya. Otak cerdasnya membayangkan hal yang bukan-bukan. Rasa takut kehilangan Fazila membuatnya tumbang, Ia tak sadarkan diri sambil memeluk potongan gaun istrinya.
...***...