Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Cemburu (Refal)


__ADS_3

Cinta?


Satu kata itu terdengar sederhana namun di butuhkan kesabaran yang besar untuk bisa mewujutkannya. Terkadang dalam mengarungi samudra cinta, ada saja masalah yang datang tanpa kita duga, dan dalam meniti jalannya bisa saja kesalahpahaman datang tanpa bisa di selesaikan dengan jalan damai. Dan buruknya, cinta bisa saja membawa luka, tergantung dengan siapa Kau memilih melabuhkan perasaan cinta itu.


Melarikan diri dari masalah hanya akan memperburuk keadaan, karena itu Fazila lebih memilih untuk diam, berdiri mematung di samping sofa sambil memperhatikan gerakan Refal. Sungguh, tatapan mata Refal, atau tepatnya, tingkahnya terlihat tidak bersahabat.


Apa sebaiknya Aku lari saja? Aahh, tidak mungkin. Ini sangat terlambat. Batin Fazila sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kita akan bicara di rumah. Aku akan meminta Bima mengantarmu pulang."

__ADS_1


Mengetahui tingkah Refal yang terasa tidak biasa membuat Fazila menghela nafas kasar. Ia menatap Refal dengan penasaran. Banyak sekali tanda tanya di hati dan pikirannya, namun Fazila tidak ingin terburu-buru dalam mengurai tanyanya untuk menghilangkan semua resah di hatinya.


"Aku datang karena Aku sangat merindukan suami Ku! Apakah Aku harus kembali dalam keadaan hampa?"


"Aku cemburu pada lantai ini, Kau lebih memilih menatapnya dari pada menatapku." Guyon Fazila sambil menyebikkan bibirnya.


Apa pun alasannya, ego tidak boleh lebih besar dari perasaan cinta yang ada. Karena sejatinya cinta akan selalu mendatangkan kedamaiaan dan kebahagiaan dalam hubungan. Sementara sikap egois hanya akan menimbulkan perdebatan.


"Aku bilang, kita akan bicara di rumah." Ucap Refal penuh penekanan, Ia berpikir untuk tidak mengatakan apa pun selama amarah dan cemburu masih memenuhi rongga dadanya.

__ADS_1


"Baiklah. Kita akan bicara di rumah, tapi sebelum itu, katakan padaku, apa yang membuat Refalku terlihat kesal? Aku tidak bisa masuk kedalam hati dan pikiranmu sehingga Aku tidak bisa menebak jalan pikiranmu. Jika kau tidak mengatakan apa pun padaku..." Fazila menggantung kalimatnya seraya duduk di sofa.


"Aku akan duduk disini dan menempel padamu seperti lintah." Sambung Fazila lagi. Sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Aku mohon Fazila, mengertilah kondisiku! Jika Aku bilang Aku tidak ingin bicara, Aku benar-benar tidak ingin melakukannya. Jadi jangan mendesakku dan tolong tinggalkan Aku sendiri." Kali ini Refal berucap dengan nada ketus, Fazila terkejut mendengar ucapan Refal. Perlahan Ia bangun dari sofa sambil menatap Refal dengan tatapan nelangsa. Sungguh menyedihkan saat di cueki oleh pasangan, dan Fazila merasakan kesedihan itu, kesedihan yang tidak bisa Refal lihat walau dengan mata terbuka.


"Baiklah. Aku akan pergi jika Kau tidak ingin Aku disini. Pastikan untuk segera pulang, karena Aku akan menunggu Refalku, Aku tidak akan bisa tidur tanpa melihat wajahnya." Fazila tersenyum sambil menangkup wajah tampan suaminya. Entah sebesar apa perasaan cemburu yang saat ini memenuhi rongga dada Refal sampai Ia tidak tersentuh oleh ucapan manis seorang Meyda Noviana Fazila.


...***...

__ADS_1


__ADS_2