Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Benang Kusut


__ADS_3

Subhanallah...


Tidak ada kata lain yang keluar dari lisan Fazila setelah melihat pemandangan indah yang ada di depannya.


Menakjubkan!


Setidaknya satu kata itu yang bisa terlintas di benak Fazila. Melihat ekspresi terkejut Fazila membuat Refal bahagia luar biasa. Bagaimana tidak, senyuman seindah purnama milik Fazila terus merekah laksana mentari yang menghangatkan.


Seluas mata memandang hanya keindahan yang tersaji di hadapannya, lampu kerlap-kerlip menyala dengan indah, ribuan lilin aroma terapi menyala di setiap sisi rumah, bukan hanya di lantai dasar, tapi di lantai dua pun masih di terangi oleh cahaya lilin. Sementara mawar? Jangan tanyakan lagi jumlahnya, ribuan bahkan lebih dari itu di letakkan dengan indah sebagai penyejuk pandangan.


Romantis? Tentu saja itu yang terjadi kala dua insan sedang di mabuk cinta maka yang terpikir hanya bagaimana cara membuat pasangannya bahagia. Dan itulah yang saat ini sedang Refal lakukan, membuat Fazilanya tersentuh dalam setiap hal yang di lakukannya.


Rumah megah berlantai tiga itu hanya di terangi oleh cahaya lilin dan lampu kerlap-kelip yang terpasang di sepanjang tangga.


Saat ini Fazila berjalan kearah kolam renang yang terletak tak jauh dari taman belakang. Disana juga telah di dekorasi sedemikian rupa, tidak ada hal yang luput dari pesona indah malam ini.


Luar biasa!


Lagi-lagi hanya ucapan sanjungam yang terlintas dalam benak Fazila, karena itu memang kenyataannya. Mulut Fazila menganga namun segera itu tutup dengan telapak tangannya.


"Honey... Kau melakukan semua ini untukku? Mawar? Sebanyak ini? Aku suka Mawar dan Aku sangat tersentuh dengan semua usaha yang Kau lakukan. Terima kasih." Fazila menangkup wajah tampan Refal, kemudian melayangkan kecupan singkatnya di pipi kanan seorang Refal Mahendra Shekar.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Refal meraih lengan Fazila, membawanya duduk di bawah tenda yang di terangi oleh ratusan lilin. Refal menuntun Fazila untuk duduk agar Ia bisa meletakkan kepalanya di atas pangkuan Fazila.


"Aku bahagia. Terima kasih karena telah memilihku di antara miliyaran pemuda tampan yang ada di semesta. Aku beruntung. Dan aku berterima kasih pada yang Kuasa atas karunia ini." Ujar Refal sambil menatap netra teduh Fazila, jemari Fazila masih bermain di kepala Refal, elusan demi elusan berhasil membuat Refal tak bisa mengendalikan gejolak yang ada di dalam dirinya. Ia bangun dan duduk, tatapan lembut Fazila seolah membelai lubuk hati terdalam. Dan tanpa perlu meminta izin Ia langsung mendaratkan kecupan hangatnya di bibir selembut kapas milik istrinya, perlahan dan semakin dalam. Inilah indahnya hubungan yang berlabelkan Halal, tak perlu takut pada gunjingan orang, jika ada buah hati yang lahir dari hubungan keduanya maka itu akan menjadi penyejuk mata dalam rumah tangga bahagia.


...***...


Di tempat berbeda duduk Abbas sambil menatap foto almarhum Papa angkatnya. Waktu menunjukkan pukul 3.15 namun hal itu sama sekali tidak membuatnya merasakan kantuk. Normalnya, orang lain akan terlelap, namun dia sama sekali tidak bisa tidur. Hawa panas masih memenuhi rongga dadanya. Di saat seperti ini tidur bukan lagi menjadi tujuannya. Menyedihkan memang, namun harus bagaimana lagi, dia sendiri yang memilih hidup dalam dendam walau Ia tahu dendam akan menghilangkan setengah dari hidupnya.


"Apa Tuan masih belum bisa tidur? Apa saya harus mengganti obatnya? Jika itu perlu saya akan kerumah sakit dan meminta resep dokter." Ucap Sky sambil meletakkan segelas air mineral di atas meja kerja Abbas.


"Tidak perlu, itu tidak penting lagi untukku. Tidur atau terjaga sama saja." Balas Abbas dengan nada putus asa.


"Aku tahu kau ingin bertanya dari mana dendam ini bermula, hanya dengan menatap wajahmu Aku bisa tahu isi kepalamu. Jangan bertanya karena Aku tidak ingin menceritakan apa pun." Sambung Abbas lagi, Ia bangun dari kursi kebesarannya kemudian berdiri tepat di dekat jendela.


Glekkk!


Sky menelan saliva setelah mendengar ucapan Tuannya.


Aku bisa menatap wajahnya! Kalimat singkat itu berhasil membuat Sky terdiam, cukup lama tuannya terdiam, tidak ada pilihan lain untuk Sky selain membiarkan tuannya larut dalam pikirannya sendiri.


Setelah lima belas menit berlalu.

__ADS_1


"Alan Wijaya membuat hidup Ku bagai di Neraka. Karena ulahnya Aku kehilangan Papa.


Dulu, Mami Seren sangat mencintainya. Dia pria berhati dingin. Karena Papa tidak tega melihat Mami Seren menderita, Ia sampai nekat menghabisi putri Alan Wijaya. Buruknya, bukan putri pria pecundang itu yang tiada namun Papa dan Mami Seren yang tiada. Mereka tiada karena kecelakaan setelah polisi memburu mereka selama berbulan-bulan.


Sejak kepergian Papa dan Mami Seren hidupku tidak pernah lagi merasakan bahagia, Aku tidak bisa berhenti berpikir untuk menghabisi keluarga itu. Dan misi ini akan di mulai dari putrinya.


Mereka bilang putrinya adalah cahaya rumah itu, Aku bersumpah Aku sendiri yang akan menghancurkan putrinya. Akan Ku gores luka untuk Alan Wijaya sehingga Ia akan memohon untuk kematiannya." Abbas mencoba mengurai pilunya pada Sky untuk pertama kalinya.


"Aku terlahir dari keluarga sederhana, Ayah Ku adalah pria brengsek yang rela menjual nyawa putranya hanya demi sebotol minuman keras. Aku rela bertahan dan hidup menanggung luka selama Aku bisa melihat senyuman gadis impianku." Celoteh Abbas untuk kesekian kalinya tanpa perlu mengetahui tanggapan Sky tentang kisah konyol masa kecilnya.


"Aku pernah mengutarakan rasa sukaku pada gadis tercantik di sekolah Ku, sayangnya gadis itu menolakku dengan alasan dia menginginkan pria kekar untuk melindunginya dan ibunya. Itulah alasannya Aku mati-matian belajar bela diri.


Setelah puluhan tahun berlalu Aku kembali ke sekolah dan berusaha mencari keberadaannya. Sayangnya, gadis itu pindah ke Ibu Kota dan tinggal bersama ayahnya. Itu berita terakhir yang Ku tahu tentang dirinya, bahkan hingga saat ini Aku masih mencarinya keberadaannya."


"Jadi maksud Tuan, Tuan masih mencari gadis kecil yang merupakan cinta pertama Tuan?" Sky memberanikan diri untuk bertanya, dan ini pun untuk pertama kalinya. Biasanya dia hanya mendengar cerita Abbas tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.


"Papa dan Mami Seren adalah orang yang menyelamatkan hidupku, sementara gadis itu adalah sumber kekuatanku." Ucap Abbas menjelaskan untuk kesekian kalinya.


Jadi semua dendam ini di mulai karena Papa angkat Tuan Abbas melihat wanita yang di cintainya tersakiti oleh Tuan Alan. Bagaimana caraku menjelaskan pada Tuan Abbas kalau menyakiti putri Tuan Alan bukan lah solusi dari rasa sakitnya?


Justru sekarang aku menyalahkan Papa angkat Tuan Abbas, kenapa dia menanamkan dendam di hati anak berusia delapan tahun hanya demi wanita yang menjadi incarannya. Aku lebih kesal pada Nyonya Seren, dia sumber rasa sakit dari semua orang.

__ADS_1


Hingga saat ini, dendam itu masih belum menemukan jalannya. Kisah ini bagaikan benang kusut, Aku berharap akan ada keajaiban sehingga semuanya bisa di selesaikan tanpa harus menumpahkan darah siapa pun. Sky bergumam di dalam hatinya sambil mengusap wajahnya kasar.


...***...


__ADS_2