
"Bi... Bukankah dia?" Ucapan Refal tertahan di tenggorokannya begitu menatap sosok lemah di sisi kanan sang Imam besar Masjit.
Tak jauh berbeda kondisinya dengan Refal, Tuan Alan pun terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka kejadian ini benar-benar terjadi di hadapannya.
Matthew!
Iya, sosok pembuat onar itu tak lain adalah Matthew. Di saat para jama'ah Shalat Jumat sedang berdoa ia malah berjalan melewati sebagian orang hingga tanpa sadar kecerobohannya melukai beberapa orang. Marah, kesal, dan ingin menghajar sosok pengganggu itu menjadi keinginan dasar semua orang, namun dengan sikap sigap sang Imam besar menunda doanya, meminta jama'ah agar bersikap tenang melalui mikrofon yang ada dalam genggamannya, membuat suasana kembali kondusif dan kekacauan besar bisa di hindari, sedetik kemudian sang Imam besar memohon ampun pada yang Kuasa karena kekacauan ini terjadi tanpa terduga.
"Katakan siapa nama-Mu? Dan kamu berasal dari mana?" Sang Imam kembali mengulangi pertanyaan yang sama setelah Shalat, zikir dan doa di tunaikan, namun sayangnya Matthew yang di tanya tak bisa berkata-kata. Ia terlalu shock sampai tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya. Entah apa yang ada dalam benaknya hingga ia merasa ketakutan? Dan hal itu memancing sikap keingintahuan Refal dan Tuan Alan.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Tuan Alan berjalan mendekati sang Imam besar dengan derai air mata yang tak bisa ia tahan. Iya, Tuan Alan sangat sedih menatap Matthew yang terlihat tak berdaya, sosok yang biasanya ramah dan humoris itu terlihat bagai bunga yang telah layu, bahkan lebih buruk dari itu.
"Syekh, saya mengenal anak muda ini. Dia putra rekan bisnis saya yang tinggal di Bali." Tuan Alan membuka suara begitu ia duduk di samping sang Imam.
Refal pun terlihat menghela nafas kasar. Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan ini, padahal tiga puluh menit yang lalu Matthew baik-baik saja, bahkan mereka sempat bicara dan mengizinkannya bertemu Fazila.
"Nak Matthew, ada apa denganmu? Kau tidak boleh seperti ini! Kau membuat Bapak takut. Apa yang akan di pikirkan orang tuamu jika mereka tahu kau seperti ini?" Tuan Alan memegang Matthew kemudian meletakkan kepala pria tampan itu di pangkuannya.
"Ti-tidak. Aku tidak mau kerumah sakit. Aku ingin tetap disini." Celoteh Matthew begitu matanya terbuka, untuk kesekian kalinya ia kembali meneteskan air mata. Air mata kesedihan dan pengharapan.
__ADS_1
"A-abi tollong aku, Bi. Api itu tidak bisa di padamkan. Sekujur tubuhku terasa terbakar." Matthew kembali membuka suara, namun kali ini suaranya sedikit kencang hingga di dengar oleh semua orang.
"Nona Fazila melambaikan tangannya dan menjauh dariku, dan pria di depan gerbang tidak mengizinkan ku masuk ketempat ini. Dia bilang hanya orang suci yang bisa masuk ketempat ini, katakan padaku Abi, apa salahku sehingga mereka tidak mengizinkanku masuk?" Tangis Matthew kembali pecah saat ingatannya tentang Fazila yang meninggalkannya terasa nyata. Meninggalkannya di dalam mimpi tepatnya.
Deg.
Tuan Alan membisu, ucapan Matthew bagai belati yang mengiris hatinya. Ia meneteskan air mata sambil memeluk tubuh lemah Matthew.
Sementara Refal? Ia hanya bisa menatap sosok menyedihkan di depannya. Ia tidak menyangka begitu besar cinta yang timbul di hati Matthew untuk Fazila-nya sehingga cinta itu sanggup mendatangkan cahaya kebenaran di hati seorang Matthew Adyamarta. Apakah Refal harus sedih karena ada pria lain yang mencintai istrinya dengan tulus? Jawabannya tidak, karena ia tahu ia tetap keluar sebagai pemenangnya.
__ADS_1
...***...