Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Part 91


__ADS_3

Dua jam sebelum kedatangan Fazila.


"Pak, ini data yang Bapak minta. Semua hal yang menyangkut peristiwa kematian Nona Hilya tertera disana. Saya berharap setelah Bapak membacanya Bapak tidak akan terluka karena saat ini ada Nyonya Fazila di samping anda." Ucap Bima sambil meletakkan amplop coklat di atas meja kerja Refal.


Refal menatap wajah serius Bima, bahkan kaca mata yang bertengger di hidungnya hampir saja terjatuh. Sejak pagi Ia terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk bicara dengan istri tercintanya, Fazila.


"Kau yakin semua laporan itu bisa di percaya?" Refal bertanya sambil menatap tajam Asistennya.


"Hanya karena Aku mendesak mereka, jangan sampai mereka melaporkan sampah padaku. Jika itu sampai terjadi, apa Kau tahu apa yang akan Ku lakukan padamu?"


"Iya, Pak. Saya yakin. Semua data ini bisa di percaya karena ada beberapa foto yang memperkuat semua buktinya."


"Bagus."


"Oh iya, apa istriku sudah kembali kerumah?"


"Belum, Pak."

__ADS_1


"Belum? Apa maksudmu? Apa orang suruhanmu tidak bisa bekerja dengan benar? Minta mereka mengirimkan kegiatan istriku hari ini. Aku tidak bisa menghubungi istriku bukan berarti Aku tidak ingin mengetahui kegiatannya." Ucap Refal ketus, Bima yang mendengar ucapan atasannya hanya bisa mengelus dada.


"Saya permisi keluar, Pak. Saya akan menghubungi Bodyguard yang bertugas." Bima undur diri, Ia meraih ponsel disaku celananya kemudian berusaha mencari nomor orang suruhannya.


Sementara itu Refal? Setelah Bima pergi, fokusnya berpindah pada amplop coklat yang di berikan Bima sepuluh menit yang lalu. Ia sangat penasaran sampai tidak sabar untuk segera mengetahui isi amplop yang ada di tangannya.


Refal mulai membaca laporan dari detektif kepercayaannya. Setiap kata yang Ia baca benar-benar membuat dadanya bergemuruh. Amarah! Hanya satu kata itu yang memenuhi rongga dada seorang Refal Mahendra Shekar.


"Ternyata Hilya Ku tiada dalam keadaan mengerikan. Aku bersumpah, kemanapun Iblis-iblis itu pergi Aku akan tetap mencarinya." Ujar Refal sambil melempar vas bunga ke arah dinding. Matanya merah menyala. Nafasnya turun naik, sudah lama sejak terakhir kali Refal menangis, entah kenapa malam ini air matanya seolah di perintahkan untuk segera keluar. Air mata itu tumpah dan Ia mulai berteriak histeris. Jika hati merasakan sakit, entah laki-laki atau pun perempuan sama saja, tidak ada bedanya, hanya tangisan yang bisa mengekspresikan segala duka yang memenuhi rongga dada.


Huaaaaa!


"Penjaga toko brengsek itu berbohong padaku. Aku bukan lagi Refal sang Gubernur yang bisa di ajak bicara, akan Ku musnahkan kalian semua, dan Aku pasti akan melakukan itu." Refal merasa sesak. Ia kesakitan, mungkin tidak sesakit seperti yang di alami Hilya, namun perasaat sakit ini melumpuhkan jiwanya. Ia mulai mematikan semua lampu yang ada di kantornya kecuali lampu yang ada di balkon, duduk bersimpuh di lantai dengan harapan rasa sedihnya akan segera menghilang.


Satu setengah jam Refal berkabung dengan perasaan sedihnya sampai Ia memutuskan untuk bangun dan duduk di kursi kebesarannya. Walau seperti itu rasa sakit masih saja menyiksanya.


"Bukankah Aku sudah memintamu untuk pergi?"

__ADS_1


"Kenapa Kau kembali?"


"Apa Kau sudah bosan bekerja denganku?"


"Aku bilang tinggalkan Aku sendiri!" Refal berteriak, dan bodohnya Ia tidak tahu dengan siapa Ia bicara. Ia hanya menebak Bima lah yang ada di depannya.


Begitu Ia menyadari sosok yang sangat dirindukannya ada di depannya, Ia hanya bisa menyesali tindakan bodohnya.


Refal masih berdiri mematung di depan meja kerjanya. Ia menatap Fazila namun bibirnya tak bisa berkata-kata. Ada perasaan sedih yang saat ini memenuhi rongga dadanya, bagaimana tidak, pagi ini Ia menggombali Fazila dengan ungkapan cinta tiada tara, dan lihatlah apa yang terjadi di lima belas jam selanjutnya, bukan ungkapan cinta, yang ada hanya ungkapan yang berhasil menyesakkan dada sebagai ucapan selamat datang bagi wanitanya.


Rasanya Refal ingin memaki dirinya sendiri karena telah melakukan hal bodoh yang harusnya tidak Ia lakukan.


"K-kau ada disini? Ma-maafff, Aku tidak tahu itu." Ucap Refal cepat. Ia gugup, Ia merasa bersalah. Baru saja Refal akan berjalan mendekati Fazila, langkahnya di hentikan oleh suara yang bersumber dari ponselnya yang terletak di atas meja kerjanyal.


"Tunggu sebentar, Aku akan memeriksa pesan ini. Setelah itu kita akan bicara." Ujar Refal sambil menyalakan lampu.


"Mmm!" Balas Fazila singkat. Ia masih berdiri, namun rasa terkejut karena teriakan Refal membuatnya merinding. Bahkan nafasnya terdengar tak beraturan, pelan Fazila mulai menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Untuk sesaat, Fazila mulai memberanikan diri untuk menatap Refal yang masih berdiri di depan meja kerjanya, entah apa yang membuat wajah tampan itu memamerkan kekesalan.

__ADS_1


Apa Aku datang di saat yang tidak tepat? Kenapa Pak Gubernur terlihat kesal? Dia menatapku dengan tatapan tak terbaca. Ya Tuhan, perasaan Ku benar-benar tidak enak. Aku merasa akan ada badai yang datang, tapi apa? Batin Fazila sambil berjalan mundur hingga membentur sofa yang ada di belakangnya.


...***...


__ADS_2