
"Selamat Tuan Alan!" Tuan Anton menjabat tangan Tuan Alan yang sudah sah menjadi besannya. Tidak hanya menjabat tangan, ia bahkan sampai berani memeluk Tuan Alan. Wajahnya memamerkan senyuman kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak bisa ia ukur dengan sekedar kata-kata.
"Sekarang kita menjadi besan. Saya berharap hubungan ini akan selalu mendapat ridho dari yang Kuasa sehingga anak-anak kita tidak akan mengalami kesedihan sekecil apa pun." Sambung Tuan Anton lagi.
"Aamiin. Selamat juga untuk Tuan Anton. Tolong perlakukan Fazila seperti putri Tuan sendiri."
"Itu pasti. Sekarang Fazila adalah anak kami. Jadi Tuan Alan tidak perlu mengkhawatirkannya lagi."
"Selamat juga untuk Nyonya Fatimah, sekarang Refal menjadi bagian dari keluarga kalian. Tolong perlakukan dia seperti putra kalian sendiri." Kali ini Nyonya Asa mulai angkat suara, dia sangat menghormati besannya.
"Iya, selamat untuk kita semua." Balas Bu Fatimah, ia memeluk tubuh ramping Nyonya Asa kemudian menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk rasa hormatnya pada Tuan Anton.
"Berhubung Refal masih aktip bekerja, maka tidak ada salahnya jika kita memintanya dan Fazila tinggal di rumah saja. Bagaimana menurut Papa?" Tuan Anton yang di tanya terlihat berpikir sebentar.
"Mama tidak mau Fazila sendirian di rumah dinas jika Refal berangkat kekantor. Dia masih pengantin baru, Mama rasa tidak akan mudah baginya tinggal di rumah sebesar itu." Celoteh Nyonya Asa lagi.
Tuan Alan dan Bu Fatimah yang mendengar pembicaraan besannya hanya bisa diam. Mereka tidak ingin berkomentar apa pun karena takut menyinggung perasaan mereka.
"Papa setuju dengan pendapat Mama, tapi..." Ucapan Tuan Anton tertahan di tenggorokannya. Ia menatap secara bergantian wajah ketiga orang yang duduk di depannya. Yakni Kedua besannya dan berakhir pada istri cantiknya.
"Tanyakan pada Refal. Jika dia setuju maka Papa tidak punya hak untuk menolak. Kebahagiaan anak-anak jauh lebih utama dari pada kita memaksakan kehendak padanya.
Papa yakin Fazila akan merasa aman dan nyaman tinggal dimana pun selama dia hidup bersama suaminya. Mama tidak perlu khawatir. Refal akan menjaganya. Yang perlu kita lakukan hanya mendoakan mereka agar tetap bahagia." Sambung Tuan Anton lagi,
Nyonya Asa tampak kecewa karena suaminya sendiri tidak mendukungnya, padahal ia hanya ingin dekat dengan menantunya. Apa itu salah? Rasanya Nyonya Asa ingin berontak, tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan itu. Sebagai istri yang baik, yang bisa ia lakukan hanya menurut, menurut pada kehendak suaminya.
"Iya, Mama akan menuruti semua keinginan Papa. Tapi ingat, jika Refal atau Fazila setuju Papa tidak boleh melarang mereka."
Lagi-lagi, Tuan Alan dan Bu fatimah hanya bisa tersenyum tipis melihat perdebatan besan mereka. Dan ini untuk pertama kalinya, pertama kali mereka melihat tingkah menggemaskan besannya.
Ya Allah... Terima kasih atas Rahmat yang kau berikan padaku dan pada semua anggota keluarga. Bimbing kami untuk selalu taat dalam menjalankan perintahmu... Batin Bu Fatimah sambil meraih teh hijau miliknya yang masih menyisakan setengah cangkir di atas meja.
"Bu besan, seperti pembahasan kita sebelumnya, pesta pernikahan anak-anak kita akan kita adakan sebulan lagi di mulai dari sekarang. Sampai hari itu tiba semoga tidak ada masalah yang akan mendekati kita semua.
__ADS_1
Karena keinginan Pak besan dan Bu besan, saya mengizinkan Refal dan Fazila menginap disini. Tapi sekarang, kami harus pulang. Saya akan melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan Fazila untuk pertama kalinya di kediaman Shekar." Ucap Nyonya Asa sambil bangun dari posisi duduknya.
Perpisahan antara kedua besan itu tidak dapat di elakkan lagi. Mereka saling peluk sebagai tanda perpisahan. Sementara kedua pengantinnya telah masuk kedalam kamar pengantin.
...***...
Di kamar pengantin.
Fazila berdiri di balkon sambil menatap kearah langit. Cahaya Rembulan malam ini sangat terang. Sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikan kegugupannya, tetap saja itu akan nampak di wajah cantiknya. Tidak ada pilihan lain untuk Fazila selain berdiri di balkon setelah menyelesaikan Shalat Isya.
Mmmm!
Refal berdeham berusaha memecahkan keheningan dan kecanggungan. Fazila yang mendengarnya langsung menoleh. Malang tak bisa di hindari, karena terkejut kaki Fazila menabrak pot bunga yang lumanyan besar di dekat tempatnya berdiri dan...
Aaaaa!
Gdebukkk!
Fazila terpelanting kelantai, ia tidak berani membuka matanya.
Netra Fazila dan Netra teduh Refal bertemu untuk kesekian kalinya.
Cesss!
Dada Fazila berdebar, ada getaran indah yang saat ini menyelimuti lubuk hati terdalamnya.
"Sakit?" Fazila bertanya dengan nada suara pelan.
"Lumayan!" Balas Refal singkat.
"Haha! Maaf, aku berat ya?" Fazila kembali bertanya, kali ini sambil beranjak bangun dari tubuh kekar Refal yang berada di bawahnya, ia mengulurkan tangan untuk membantu Refal, tanpa berpikir panjang Refal langsung meraih jemari lentik itu dan mulai berdiri mensejajarkan dirinya di samping Fazila.
"Tadinya aku bingung mencari kamar Nona Fazila, aku masuk kedalam tiga kamar berbeda. Dan terakhir, ketika aku akan masuk ke kamar Fatih, anak itu keluar dari kamarnya sambil menatapku dengan tatapan heran.
__ADS_1
Dia bertanya apa aku mencari kakaknya atau tidak? Setelah itu dia menunjuk kamar ini dan mengantarku sampai depan pintu sambil berucap semoga sukses." Ucap Refal membeberkan kejadian sebelum ia masuk kedalam kamar pengantinnya. Netranya menatap kearah langit, cahaya Rembulan malam ini masih menemani mereka.
"Apa Fatih mengatakan sesuatu? Apa dia mengganggu Pak Gubernur? Anak itu sangat nakal, dia bahkan tidak memberikan orang lain tahu kalau aku adalah kakaknya, selama di kampus dia bersikap seperti orang asing." Celoteh Fazila sembari menghadirkan wajah adik tersayangnya di benaknya.
"Aku bisa mengerti kondisi Fatih, dia pasti tidak ingin tahu kalau Dosen yang di segani di seluruh kampus adalah kakak perempuannya, dia hanya ingin berdiri di atas kakinya sendiri tanpa memberikan orang lain hak untuk membanding-bandingkan dirinya dan kakak cerdasnya. Apa aku salah?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu." Balas Fazila pelan, ia melirik Refal yang duduk di kursi sebelahnya. Tatapan mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya, namun kali ini tak lebih dari sepupuh detik. Fazila tersenyum, kemudian menoleh kearah lain. Sesekali ia merunduk sambil membuang nafas lega.
"Dua kali! Dua kali sudah kita terjatuh seperti tadi, Nona Fazila di atas dan aku di bawah. Ketiga adik Nona Fazila bilang waktu itu Nona Fazila sangat murka. Lalu bagaimana dengan malam ini?"
"Iya, Pak Gubernur benar! Waktu itu aku sangat marah, aku tidak pernah berpikir akan mendapati diriku berada dalam dekapan pria asing, itu benar-benar musibah besar untukku.
Karena kesal aku tidak bicara dengan ketiga adikku selama tiga hari, aku menghukum mereka berdiri dengan satu kaki selama setengah jam. Tapi sayangnya itu bahkan tidak mengurangi kekesalanku.
Hari itu, aku sangat terkejut sampai tubuhku bergetar hebat saat menyadari kedua orang tua kita menjodohkan kita. Rasanya aku ingin menolak, sayangnya aku tidak bisa melakukannya karena aku takut Ummi dan Abi akan kecewa.
Aku meminta ketiga anak itu datang kekantor Pak Gubernur untuk meminta maaf, bukan karena aku setuju untuk menikah. Hanya saja, aku melakukan itu agar amarahku lekas menghilang."
"Lalu, bagaimana dengan malam ini? Apa Nona Fazila marah seperti dulu?"
"Aku marah karena adik-adikku sangat nakal, lagi pula saat itu kita hanya orang asing yang tidak saling mengenal. Dan kali ini berbeda. Kita memiliki ikatan yang kuat. Entah Pak Gubernur menyentuh disini." Ucap Fazila sambil menunjuk keningnya.
"Atau disini!" Kali ini Fazila menunjuk Pipi kanannya.
"Atau disini." Ucap Fazila lagi sambil menunjuk pipi kirinya.
"Atau... Bisa juga disini." Dan terakhir Fazila menunjuk bibir seksinya.
"Aku tidak akan marah. Selamanya." Ucap Fazila sambil tersenyum tipis.
Sungguh, dada Refal berdebar sangat kencang. Cara Fazila bicara dan cara gadis itu menunjuk setiap bagian dari wajah cantiknya membuat Refal tidak bisa menahan gelora yang ada di hatinya. Ini lah alasannya kenapa seorang pria dan seorang wanita yang tidak memiliki ikatan tidak bisa tinggal di dalam kamar yang sama, di khawatirkan akan terjadi Zina.
Kamar Pengantin yang di hias dengan begitu indah membuat suasana malam ini terasa sangat romantis.
__ADS_1
...***...