
"Orang itu datang lagi, Bi. Dia datang!" Air mata Bu Fatimah langsung tumpah.
"Iya, apa yang Abi pikirkan itu memang benar. Orang itu datang lagi. Kali ini dia pun melakukan hal yang sama." Bu Fatimah menyodorkan selembar kertas yang di tulis dengan tinta merah. Fazila yang sejak tadi berdiri di depan pintu hanya bisa menahan tangis mendengar kedua orang tuanya bicara dengan nada kekhawatiran tingkat tinggi.
Tok.Tok.Tok.
Tuan Alan dan Bu Fatimah saling menatap, mereka menoleh kearah pintu dan mendapati Fazila yang berdiri disana, betapa terkejutnya Bu Fatimah sampai-sampai kertas yang ada di tangannya jatuh kelantai dan dengan cepat beliau memungutinya.
"Apa Fazila boleh masuk?" Fazila tersenyum, namun hatinya bergemuruh.
Kesedihan!
Satu kata itu terasa sangat menakutkan, jika di tanya apa yang paling membuat Fazila ketakutan maka jawabannya hanya satu kata itu, kesedihan. Ia tidak ingin melihat Ummi dan Abinya bersedih walau di dalam mimpi sekalipun. Dan hari ini? Bukan hanya di dalam mimpi, namun ia melihat sendiri bagaimana Umminya meneteskan Air mata hanya karena sebuah surat ancaman. Ancaman dari sosok tidak berguna yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
"Apa Fazila boleh masuk?" Fazila kembali mengulangi pertanyaan yang sama karena tidak ada jawaban dari Ummi dan Abinya.
"Masuk, sayang. Tidak perlu meminta izin karena ini rumahmu, jadi kau berhak melakukan apa pun yang di inginkan hatimu." Jawab Tuan Alan sambil berdiri, ia merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putri berharganya.
"Berada dalam pelukan Abi terasa sangat menenangkan, terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku dan Ummi." Ucap Fazila sambil mengeratkan pelukannya di tubuh kekar Abinya.
Sementara itu, Bu Fatimah. Ia menoleh kearah lain sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Berharap Fazila tidak akan mengetahui aksinya saat sedang menangis.
"Ummi, apa Ummi menghindariku? Kenapa Ummi menoleh kearah lain?"
"Tidak mungkin sayang. Ummi tidak akan pernah menghindarimu, sepertinya ada debu yang masuk kedalam mata Ummi." Ucap Bu Fatimah, tentu saja dia hanya berbohong. Dan beruntungnya dia pembohong yang buruk sampai-sampai Fazila bisa menebaknya hanya dalam sekali lihat saja.
Fazila melepas pelukannya dari Tuan Alan dan beralih memeluk tubuh Umminya.
"Aku suka wangi Ummi, ini benar-benar sangat menenangkan." Ucap Fazila lagi.
__ADS_1
Setelah puas memeluk Umminya, perlahan Fazila mulai melepaskan tubuh ramping Bu Fatimah. Dalam hati Fazila sedang menyusun kata-kata apa yang harus ia ucapkan agar kedua orang tuanya tidak ketakutan.
"Apa sekarang Ummi dan Abi tidak takut lagi?"
"Takut? Kenapa kami takut?" Jawab Tuan Alan dengan penuh keyakinan, padahal hanya ia sendiri yang tahu kalau saat ini ia benar-benar merasakan kekhawatiran berlebihan.
"Abi dan Ummi tidak perlu berpura-pura di depan Fazila, karena Fazila tahu segalanya. Apa ini menyangkut peristiwa penembakan belasan tahun silam?" Fazila bertanya sambil menatap wajah Tuan Alan dan Bu Fatimah.
"Jika itu masalahnya maka Ummi dan Abi tidak perlu mengkhawatirkannya. Sekarang Fazila sudah besar, Fazila juga bisa menjaga diri." Sambung Fazila lagi, ia menggenggam jemari Umminya sangat erat sampai kekawatiran sekecil apa pun tidak akan bisa melemahkan semangatnya.
"Apa Abi masih ingat? Dulu, Kakek Buyut selalu percaya kalau Fazila bisa mengalahkan semua tantangan yang ada. Karena Kakek Buyut tahu di dalam darah Fazila mengalir darah seorang Perwira.
Fazila juga yakin kalau Ummi dan Abi masih ingat dulu putri kalian ini pernah hampir tiada. Dan lihatlah sekarang? Fazila masih berdiri disini bersama Ummi dan Abi. Fazila tidak akan kemana-mana karena Fazila tahu Allah selalu menyertai setiap langkah Fazila.
Bukankah Ummi juga percaya bahwa selembar daun tidak akan jatuh dari pohonnya tanpa seijin Tuhannya? Sekarang katakan pada Fazila, apa Fazila bisa terluka jika Allah sendiri yang menjaga Fazila?" Fazila menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Tidak ada balasan dari Ummi Fatimah selain gelengan kepala menandakan setiap ucapan putrinya berada dalam kebenaran, atau tepatnya tidak ada yang salah.
"Sudahlah, Ummi. Kita pasrahkan saja semuanya hanya pada Allah. Hanya pada Allah." Ucap Tuan Alan penuh penekanan.
"Sekarang berikan surat itu pada Fazila. Aku juga ingin mengetahui apa yang di katakan orang payah itu."
Bu Fatimah menatap wajah penuh percaya diri putrinya, sedetik kemudian ia mulai menyerahkan apa yang ia sembunyikan di bawah selimut.
...Aku yakin kalian sudah melupakanku! Tapi aku tidak bisa melupakan kalian, sedetik pun....
...Apa kalian tahu? Sejak putri kalian bangkit dari kematian aku selalu berdoa agar yang Kuasa menghancurkan kesombongan kalian....
...Malam ini kalian akan bersuka cita, tapi aku di sini menderita. Setiap saat aku selalu menunggu saat-saat dimana aku akan mengirim Fazila kalian ke Surga....
__ADS_1
...Tidak akan seru jika kita bertemu, karena itulah aku memilih untuk memantau kalian dari jarak yang tidak akan bisa kalian prediksi....
...Gubernur!...
...Bukankah menantu kalian seorang Gubernur? katakan padanya kalau dia akan menjadi seorang duda sebelum dia sempat duduk di pelaminan....
...Hahaha. Apa kalian takut? Kalian memang harus takut padaku. O iya, satu lagi, bukankah putri kalian seorang Dosen? Akan mudah untuk melukainya di jalan dengan alasan kecelakaan. Tunggu saja, kejutan untuk putri kalian berada dalam perjalanan....
Tulisan tangan yang di tulis dengan rapi itu berhasil membuat Tuan Alan menelan saliva. Ia berpikir keras siapa yang selama ini menjadi musuhnya.
"Ummi dan Abi tidak perlu takut lagi, rasa takut hanya akan menyempitkan hati dan melemahkan jiwa dari rasa percaya kepada Allah. Sekarang Ummi harus bersiap, kita akan berangkat sebentar lagi." Fazila menatap mata basah Umminya sambil meremas surat kaleng yang ada di tangan kirinya.
Sedetik kemudian bibir Fazila kembali mengukir senyuman, namun tangannya sibuk menghapus air mata Umminya.
Tok.Tok.Tok.
"Nyonya, maaf. Pak Gubernur meminta anda segera turun."
"Ummi lihat? Menantu Ummi itu tidak sabaran." Fazila bangun dari posisi duduknya.
"O iya, satu lagi. Pak Gubernur tidak boleh tahu tentang apa yang kita bicarakan hari ini. Aku tidak ingin beliau khawatir. Aku akan menunggu Ummi di bawah. Assalamu'alaikum..." Ucap Fazila, ia berjalan kearah pintu dan mengikuti langkah Art yang sudah berjalan di depannya.
Sementara itu di ruang tengah duduk Refal, Fatih, Umang dan Regan. Di antara keempat orang itu hanya Refal yang terlihat tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar payah. Semua ini karena kesalahanmu. Kau bahkan tidak bisa menjaga Kakak ipar agar kita tidak kalah. Wahhh... Aku sangat kesal." Celoteh Fatih sambil menatap tajam pada Umang dan Regan.
"Gara-gara kau kita kalah dalam taruhan." Sambung Fatih lagi.
"Taruhan? Kalian?" Fazila berjalan mendekati ketiga adiknya. Sementara yang di tatap terlihat ketakutan.
__ADS_1
...***...