Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Kediaman Shekar


__ADS_3

"No-nona Fazila, tolong maafkan kami. Tolong kembalilah keruang siaran, semua orang menanyakan kapan Nona Fazila kembali." Wajah Pak Dilon terlihat pucat, ia bahkan tidak berani menatap wajah Fazila. Berhadapan dengan orang yang sama namun dengan status lebih tinggi darinya membuatnya merasa tertekan.


"Istriku tidak akan kembali ke tempat sialan itu, kau bisa pergi dan jangan pernah kembali lagi. Melihat wajahmu membuatku kesal luar biasa. Menurutmu, bagaimana pendapatku jika aku sampai melihat istriku menginjakkan kaki disana, hah?" Refal datang dan duduk di samping Fazila, ia menggenggam jemari Fazila kemudian menatap Pak Dilon dengan tatapan tajam, seolah tatapannya akan menguliti Pak Dilon hidup-hidup. Sementara yang di tatap malah berkeringat dingin.


"Ma-maaffff kan sas-saya Pap-pak!" Ucap Pak Dilon gugup. Wajah Pak Dilon terlihat semakin tua, berhadapan dengan Refal membuat nyalinya menciut.


"Sekarang, Pak Dilon bisa pergi bersama Angga." Ucap Fazila dengan nada suara pelan. Ia menatap wajah Pak Dilon, atasannya selama di stasiun siaran, wajah itu tampak kecewa, berhadapan langsung dengan Refal justru membuatnya semakin ketakutan.


"Aku akan memikirkannya, apa pun keputusan yang ku buat nanti, tolong jangan kecewa. Aku akan menghubungi anda, segera." Ucap Fazila sambil bangun dari kursi Jati yang ia duduki sejak lima belas menit yang lalu.


"Terima kasih Nona Fazila, permisi." Pak Dilon menangkupkan kedua tangan di depan dada namun ia benar-benar tidak berani menatap wajah dua orang yang berdiri di depannya, Refal dan Fazila.


"Kak Zii, aku pulang. Aku berharap Kakak akan kembali bersama kami. See you, bye..." Ucap Angga sambil tersenyum.


"Pak Gubernur, jaga dia. Jika anda lengah, anda tidak akan tahu saat orang lain datang dan mengambilnya dari anda secara paksa." Ucap Angga sambil mengedipkan matanya kearah Fazila.


"A-apa si payah itu sedang meledekku? Kemari kau!" Refal mengayunkan kakinya hendak menendang Angga. Bukannya takut, Angga malah beranjak pergi sambil terkekeh.


"Sejak kapan kau mengenalnya? Dia terlihat seperti pria tidak waras." Keluh Refal sambil menatap wajah tersenyum Fazila.


Melihat ekspresi wajah kesal Refal, seketika sikap jahil dalam diri Fazila muncul begitu saja. Entah Fazila ingin membuat Refal cemburu, atau sekedar ingin menggodanya, Fazila sendiri tidak tahu itu. Yang dia tahu, dia hanya ingin melihat sisi berbeda dari suaminya, sisi yang di penuhi oleh cinta.


"Mmm!" Fazila berdeham sembari menahan tawa. Melihat wajah kesal Refal membuatnya semakin kesulitan menahan tawa.


"Aku rasa, apa yang di katakan Angga memang ada benarnya. Pak Gubernur harus berhati-hati, walau aku terlihat sederhana, aku terlahir dengan berjuta-juta pesona. Pria manapun akan mudah tergoda oleh pesona indahku." Ucap Fazila sambil memperlihatkan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga, empat. Ahhh, benar." Ucap Fazila lagi, kali ini ia menghitung jari-jari lentiknya. Untuk menguatkan ucapannya, ia bahkan sampai memegang jemari Refal.


"Sudah ada lima belas pria yang ku tolak. Pak Gubernur beruntung tidak masuk dalam daftar ke enam belas." Kali ini Fazila bersungguh-sungguh, memang sudah ada enam belas pria mapan yang datang dan berusaha meminangnya, namun sayangnya semuanya ia tolak begitu saja.


Pria memang berhak memilih gadis manapun yang di inginkan oleh hatinya, namun wanita pun berhak menolak jika ia tidak suka pada pria yang datang meminangnya. Bukan bermaksud sombong atau merasa lebih hebat dari pria yang datang. Namun bagi seorang wanita, menikah adalah ibadah terlama, jika tidak nyaman dalam pertemuan pertama, kedua atau ketiga, maka lebih baik menolak dari pada menyesal. Setidaknya itu yang Fazila pikirkan, ia menolak pria yang datang karena hatinya tidak menginginkannya.


"Benarkah aku masuk dalam daftar sebanyak itu?" Refal bertanya dengan wajah tak percaya.


"Iya, tentu saja. Bahkan, dulu. Ketika aku masih kecil ada anak setinggi ini menyatakan cintanya padaku." Kenang Fazila sambil menghadirkan bocah nakal yang berani memberinya hadiah saat masih tinggal di Malang.


"Ternyata istriku orang yang sangat terkenal. Aku beruntung tidak masuk kedalam daftar pria payah itu.


Jadi, secara tidak langsung. Fazila ku sedang mengungkapkan kalau dia sangat mengagumiku. Iya, apa iya?" Refal balas menggoda Fazila.


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


"Mam-maaf, aku tidak sengaja." Ucap Refal menyesal. Ia mengusap punggung Fazila pelan, berharap apa yang ia lakukan akan menghilangkan rasa sakit Fazila.


"Tidak. Tidak. Aku tidak apa-apa." Ucap Fazila cepat sambil memegang jemari Refal dan menggenggamnya erat, bibir tipisnya kembali menyunggingkan senyuman menawan.


"Jujur, aku tidak pernah memilih Pak Gubernur sebagai pendamping hidupku. Allah yang memilih Pak Gubernur secara langsung untukku. Pak Gubernur adalah hasil dari Salat Istiharah dan Tahajudku.


Aku menyebutnya hasil karena secuilpun aku tidak merasakan ragu." Ucap Fazila membeberkan saat ia memutuskan menerima lamaran Refal.


Refal yang mendengar ucapan Fazila hanya bisa tersenyum tipis.

__ADS_1


"Jangan tersenyum seperti itu, ada banyak anak-anak disini." Protes Fazila tanpa melepas pandangannya dari wajah tampan suaminya.


"Memangnya kenapa? Apa masalahnya aku tersenyum dengan anak-anak itu?" Tunjuk Refal kearah beberapa anak yang sibuk mengulang hafalannya.


"Masalahnya, aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak mencium wajah tampanmu. Haha!" Fazila beranjak pergi sambil terkekeh. Ia bahkan tidak tahu kalau Refal yang ia goda sejak tadi ingin menerkamnya.


"Dia sangat manis." Celoteh Refal setelah Fazila tak nampak lagi di netra teduhnya.


Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan, aku ingin hari depanku selalu bersamamu... Refal Bergumam sambil tersenyum lebar.


...***...


16.39 Di kediaman Shekar.


Rumah megah berlantai dua itu terlihat berkilau, semua orang yang ada di dalamnya terlihat sangat antusias, sejak pagi mereka menghias semua bagian dari kediaman Shekar hanya untuk menyambut putra berharga rumah itu dan menantu barunya, Refal dan Fazila.


"Mam. Kenapa Kakak dan Kakak Ipar belum sampai? Bukankah Mama bilang mereka hampir sampai?" Melani, putri bungsu dari Nyonya Asa bertanya sambil menoleh kearah gerbang.


"Tunggu sebentar lagi, Mereka hampir..." Senyuman Andra langsung mengembang begitu ia melihat mobil dinas Kakak kesayangannya memasuki gerbang.


"Mam... Mereka sudah sampai." Tunjuk Andra kearah gerbang.


"Selamat datang, sayang. Selamat datang." Ucap Nyonya Asa menyambut Fazila begitu Fazila turun dari mobil. Ia memeluk menantu berharganya di hari pertama Fazila menginjakkan kaki di kediaman Shekar.


"Selamat datang, sayang." Kali ini giliran Tuan Anton yang membuka suara, ia menyentuh kepala Fazila sambil mendo'akan menantunya agar selalu bahagia selama hidup bersama putra nakalnya.

__ADS_1


"Ma. Pa. Terima kasih karena menyambutku semeriah ini. Aku merasa terharu." Ucap Fazila sambil menghapus sudut matanya.


...***...


__ADS_2