
"Honey, terima kasih karena kau memilih untuk tetap bertahan dan berdiri di sampingku!" Ucap Refal sembari mengeratkan pelukannya di tubuh ramping Fazila. Dua pekan tidak bicara dengan wanitanya membuat Refal tidak bisa jauh walau untuk sekejap saja.
"Melihatmu terluka dan megeluarkan banyak darah membuat jantungku berhenti berdetak. Jangan pernah terluka lagi jika kau tidak ingin aku tia..." Ucapan Refal tertahan di tenggorokannya karena Fazila langsung menutup bibir Refal dengan telapak tangannya.
"Fazila-Mu akan selalu berada disisi-Mu, jadi tetaplah sehat. Aku mencintai Mu!" Ucap Fazila sambil tersenyum, ia mendaratkan kecupan singkatnya di bibir lembut Refal yang kemudian di balas oleh Refal dengan mendaratkan kecupan di puncak kepala wanitanya. Mereka saling memeluk di atas tempat tidur pasien yang Fazila tempati sejak dua pekan terakhir. Sungguh, Fazila merasa nyaman menyandarkan kepalanya di dada bidang Refal.
"Apa aku boleh bertanya?" Refal kembali membuka suara setelah lama mereka terdiam.
"Mmm!" Jawab Fazila singkat, ia terlalu menikmati moment indah ini sampai-sampai tidak ingin mengatakan apa pun. Menumpahkan semua rasa di hatinya dengan cara saling memeluk membuatnya terdiam.
"Fazila hanya milik seorang Refal Mahendra Shekar, dan ia akan menjawab semua pertanyaan Refal-nya tanpa ada kebohongan sedikit pun." Sambung Fazila lagi sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Refal.
__ADS_1
"Saat kau membuka mata, siapa yang kau cari? Ku lihat Fazila ku mengedarkan pandangannya kesetiap sisi ruangan ini padahal aku ada di depannya." Refal mulai mengurai tanyanya, berharap Fazila tidak akan salah paham sehingga perdebatan sekecil apa pun bisa di hindari.
"Aku bermimpi!" Jawab Fazila singkat.
Refal yang mendengar ucapan istrinya hanya bisa mengerutkan keningnya, penasaran dan juga tak percaya.
"Aku mimpi bertemu dengan Matthew di pelataran Masjit yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Masjit itu sangat indah." Ujar Fazila membuka ceritanya.
"O iya, aku bertemu Matthew saat ia baru saja menyelesaikan Shalat Dhuha-nya. Aku bertanya kenapa pakaiannya terlihat berbeda. Dia tidak mengatakan alasannya, dia hanya bilang, aku akan tahu saat aku terbangun. Memangnya apa yang terjadi dengannya?" Selidik Fazila karena ia benar-benar tidak tahu apa pun.
Berat!
__ADS_1
Satu kata itu yang saat ini memenuhi rongga dada Refal. Iya, dia merasa berat menceritakan tentang kesedihan semua orang karena kepergian Matthew yang secara tiba-tiba. Masih hangat dalam pikiran seorang Refal saat Matthew mengucap Syahadat, kemudian dalam sepuluh jam kedepan pria tampan itu kembali pada pemiliknya, Allah.
"Dia, Matthew. Telah kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik."
"Maksudku, dia sudah meninggal."
"Dia di makamkan siang tadi. Maaf aku tidak bisa memberitahukan Mu karena aku takut kau akan terkejut." Ujar Refal dengan deru nafas yang terasa berat.
"Innalillahi wainna ilaihiroji'un." Fazila berucap dengan nada suara hampir tak terdengar. Ia terkejut, dan kejutan ini terasa menusuk kejantungnya. Wajah pucatnya terlihat semakin pucat.
"Apa aku tidak salah dengar?" Fazila bertanya hanya untuk menyakinkan hatinya, walau dia tidak dekat dengan Matthew, namun ketiga adik lelakinya dan kedua orang tuanya tahu betul nilai Matthew dalam keluarga Wijaya.
__ADS_1
...***...