Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Meneteskan Air Mata (Refal&Fazila)


__ADS_3

Sepekan berlalu sejak insiden yang menimpa Fazila di depan Mansion Wijaya, dan sepekan pula wanita cantik itu belum membuka matanya. Dokter Neti bilang, benturan keras di kepala Fazila membuatnya belum siuman sampai sekarang.


Kenapa benturan kecil membuatnya sampai koma? Masalahnya tidak sesederhana itu, setelah Tuan Alan menceritakan kisah Fazila yang pernah tertembak saat ia masih kecil, dan kali ini ia juga mendapatkan luka tembak tepat di bagian lengan. Kondisi buruk Fazila membuat Dokter Neti menyarankan agar wanita cantik itu di rawat di Singapura, namun Ummi Fatimah menolak dengan tegas, beliau bilang putrinya hanya tertidur.


Dan selama sepekan ini Refal tidak bisa jauh dari Fazilanya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor, ia akan berangkat menuju rumah sakit, seolah rumah sakit menjadi rumah keduanya.


"Assalamu'alaikum Bidadari Surgaku? Apa kabar?" Refal bertanya begitu ia masuk kedalam ruang tempat Fazila di rawat. Wajah cantik itu tampak pucat, namun hal itu tak mengurangi kecantikan seorang Meyda Noviana Fazila.


"Sayang, hari ini kau tampak cantik seperti biasa. Aku selalu mengagumimu. Bagiku Fazilaku yang tercantik dan akan sellau seperti itu." Ucap Refal sambil mengusap rambut Fazila yang tak tertutup kain penutup kepala.

__ADS_1


Selama di rumah sakit Refal selalu melepas kain yang menutupi rambut hitam nan panjang milik istrinya, tidak ada alasan di balik tindakannya, ia merasa tenang dan bebas melakukan itu karena ruang inap Fazila hanya boleh dimasuki oleh dokter wanita begitu juga dengan perawatnya. Bukankah Refal terkesan berlebihan karena tidak mengizinkan dokter pria mengobati istrinya? Yang Refal tahu Fazila juga akan melakukan hal yang sama.


"Sayang, aku merasa tersiksa tanpa kehadiranmu disisiku. Aku mohon, bangunlah." Pinta Refal sambil menggenggam jemari lentik istrinya. Sekuat apa pun ia bicara, tetap saja tidak ada pergerakan dari Fazila, dan hal itu membuat Refal tidak bisa menahan kesedihannya


"Maafkan aku. Aku menangis, semua ini kesalahanmu." Ucap Refal sembari menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Tangan kirinya meraih tisu kemudian membersihkan lendir yang keluar dari hidungnya.


"Sayang, kau ingat pria itu?" Refal menjeda ucapannya, ia memperbaiki selimut Fazila.


"Rekan bisnis Abi Alan, entahlah, aku tidak ingat namanya. Pria itu terlihat aneh, sebagai seorang pria aku tahu dia sangat mencintai istriku. Setiap kali melihatnya aku ingin menghajarnya? Apa aku salah jika berpikir ingin menghajar pria kurang ajar itu?" Refal bertanya seolah ingin menuntut jawaban, Dokter Neti bilang, walau Fazila tidak sadar ia bisa mendengar, dan Refal tidak punya pilihan lain selain bicara terus-menerus.

__ADS_1


"Aku tahu! Jika kau bisa bicara kau pasti bilang, sayang aku tidak bisa mengendalikan orang untuk tidak mencintaiku. Tolong maafkan dia. Apa benar seperti itu? Kau diam. Itu artinya iya." Celoteh Refal tanpa menyadari dokter Neti sedang menatapnya dari balik daun pintu.


Dokter Neti tersenyum melihat usaha Refal yang selalu mencoba bicara pada Fazila. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk memeriksa kondisi Fazila.


"Sayang, sungguh, aku akan tiada tanpa kehadiranmu disisiku. Kau sangat kuat hingga kau bertahan tanpa melihatku. Aku tidak sekuat itu. Aku bebar-benar akan tiada. Aku mohon, bangunlah." Refal kembali mengusap mata dengan punggung tangannya, entah kenapa jika berurusan tentang Fazila, air mata Refal seolah tidak ada habisnya. Tanpa Refal sadari air mata Fazila juga ikut menetes.


Sayang, aku ingin bangun. Bagaimana caraku? Sekujur tubuh ini terasa sakit dan mata ini tidak bisa terbuka. Rasanya Fazila ingin bicara seperti ini, namun bibirnya tidak bisa terbuka, jadilah ia meneteskan air mata dalam diam panjangnya. Yang membuatnya semakin terluka, Refal meneteskan air mata karena keadaan yang tidak pernah ia duga.


...***...

__ADS_1


__ADS_2