Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Bertemu lagi (Fazila&Refal)


__ADS_3

"Kau tahu kan, nak? Abi sangat menyayangimu. Abi juga tidak pernah memaksa mu. Apa pun yang menjadi keinginan dan keputusan mu selalu Abi dukung, karena Abi tahu putri Shaliha abi tidak mungkin salah.


Kali ini Abi mohon dengan sangat tulus. Tolong ikuti keinginan Ummi mu, kau tahu sendiri kan Ummi hanya ingin putri cantiknya menerima hubungan dengan keluarga Pak Sekar."


Fazila hanya bisa menelan saliva mendengar permintaan tulus Abinya. Sebelumnya dia tidak pernah merasakam dilema sebesar ini. Entah mantra apa yang di letakkan Tuan Alan dalam setiap ucapannya. Karena dalam setiap ucapan yang sudah ia paparkan berhasil membuat Fazila merasa tidak tega untuk menolak, Fazila merasa sedih melakukan hal yang tidak selaras dengan keinginan hatinya.


"Turuti saja keinginan Ummi, Abi janji jika kau tidak menyukainya, maksud Abi tidak menyukai putra Tuan Sekar. Maka rundingan tentang hubungan mu dengan keluarga itu Abi anggap tidak pernah terjadi."


Tidak ada bantahan dari Fazila, ia hanya bisa mengangguk sembari memamerkan senyuman tipis di wajah cantiknya, dan tentu saja senyuman yang coba ia paksakan agar terlihat setulus mungkin sehingga Abinya tidak akan curiga kalau dia tidak nyaman dengan pembicaraan ini.


"Kita akan bertemu di Hotel pukul 17.00. Ummi dan Abi akan datang lebih awal. Tante Sabina dan Om Araf mu juga akan datang. Apa pun yang terjadi kami hanya bisa berharap yang terbaik untuk mu, Nak."


Hhhmm!


Untuk kesekian kalinya Fazila kembali menghela nafas kasar. Mengingat pembicaraan singkat dengan Abinya dua hari yang lalu membuatnya tak bisa berkutik.


"Hay... Nona pemarah."


Fazila menghentikan langkah kakinya saat seseorang yang berdiri jarak lima langkah di belakangnya menyapa dengan senyuman menawan.


Nona Pemarah!


Fazila masih mengingat dengan jelas pria yang ia temui dua pekan lalu, pria sok keren yang mencoba dekat dengannya.


"Kita tidak sedekat itu sampai mewajibkan anda menyapa ku sambil tersenyum." Fazila membuka suara sambil menghentikan langkah kakinya.


"Haha! Aku terlalu bahagia saat melihat mu." Balas pria muda itu, wajah tampannya memancarkan cahaya kebahagiaan. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu, dia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum setelah melihat bayangan Fazila sejak ia keluar dari dalam Lift.


"Nona pemarah, dari mana kau tahu kalau aku tinggal di hotel ini? Apa kau memata-matai ku?"

__ADS_1


Fazila menatap pria rupawan yang berdiri di depannya sembari melipat kedua lengan di depan dada. Rasanya aneh saja bagi Fazila bicara dengan pria asing yang bahkan tidak ia ingat namanya.


"Nona pemarah, apa kau sedang puasa bicara? Kau bahkan tidak menatap ku dengan benar. Apa kau takut mencintai ku di detik selanjutnya?" Guyon pria rupawan itu lagi, rasanya ia ingin memeluk Fazila, namun sekuat tenaga dia berusaha menahan dirinya.


Fazila yang di tatap hanya bisa menahan kekesalannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada pria yang berani mendekatinya tanpa ragu-ragu.


"Hay Nona pemarah, melihat caramu mengabaikan ku, aku yakin kau tidak mengingat ku. Aku pria di Restorant itu, apa kau tidak ingat?"


Alih-alih memberikan komentarnya, Fazila malah meninggalkan pria itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang VIV.


"Hay Nona pemarah, aku sedang bicara dengan mu. Jika kau tidak ingat nama ku maka aku akan mengingatkan mu. Namaku Matthew."


"Maaf. Saya sedang buru-buru, dan saya tidak bisa bicara dengan orang asing yang berusaha mendekatkan dirinya dengan ku." Gerutu Fazila setelah ia menghentikan langkah kakinya lagi.


"Aku tidak salah saat memanggil mu Nona pemarah, buktinya sekarang kau sedang marah padaku! Iya, kan?" Goda Matthew sambil tersenyum tipis. Matthew hanya mencoba bersikap santun. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berusaha mendekati seorang gadis, gadis yang bahkan tidak tertarik padanya. Bukankah ini aneh? Banyak gadis yang mengejarnya di Pulau Dewata namun ia selalu mengabaikan mereka sebaik apa pun gadis yang datang. Tapi sekarang berbeda, Fazila bertingkah acuh padanya, dan bagi sosok sempurna seperti Matthew, ini hanya rintangan kecil yang akan ia menangkan bagaimana pun caranya.


"Anda pikir saya bisa nyaman bicara dengan orang asing yang bahkan tidak saya ingat namanya? Bukan hanya itu, anda juga terus saja mengatakan Nona pemarah, nona pemarah." Celoteh Fazila dengan nada suara kesal.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja kau terlalu manis untuk di tinggal sendirian." Ujar Matthew berterus-terang.


"Baiklah. Karena anda pikir aku manis maka biarkan aku pergi, karena aku tidak mau anda terkena diabetes setelah melihatku." Ujar Fazila dengan senyum tipis yang coba ia paksakan.


Tidak ada balasan dari Matthew selain mencoba melepaskan gadis yang sangat ia kagumi selama dua pekan ini.


...***...


Sementara itu di area parkir, berdiri Refal dengan perasaan tak menentu. Sejak ia memutuskan akan menemui gadis yang di pilihkan oleh kedua orang tuanya, bahagianya seolah menguap keangkasa.


"Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasi tentang putri Tuan Alan?" Refal bertanya sambil berjalan pelan, di ikuti oleh Bima di belakangnya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Sekuat apa pun saya mencari informasi tentang putri Tuan Alan, hasilnya selalu saja kembali ke titik awal. Maksud saya, saya tidak bisa menemukan berita apa pun. Seperti yang saya dengar, putri Tuan Alan lebih memilih hidup sederhana dan menghabiskan waktunya di tempat yang sunyi."


"Cihh... Entah apa yang Mama dan Papa pikirkan sampai ingin menjodohkan ku dengan keturunan Wijaya?" Gerutu Refal sembari mempercepat langkah kakinya.


"Bapak tidak perlu memaksakan diri terlalu keras, toh sekarang kalian akan bertemu. Saya hanya berharap semuanya berjalan dengan lancar." Bima yang berdiri di belakang Refal tampak menyemangati. Namun sayangnya, bagi Refal, setiap ucapan yang keluar dari lisan Asistennya itu terdengar bagai sampah.


"Bisa-bisanya kau memintaku tidak memaksakan diri, berada dalam posisi ini saja membuat ku sangat kesal.


Di dalam, gadis itu pasti duduk manis bersama keluarganya, menggunakan pakaian seksi dan make up tebal hanya untuk menarik perhatian ku. Lagi pula gadis mana yang akan menolak pria mapan seperti ku? Aku benci berada dalam posisi ini." Ujar Refal semakin mempercepat langkah kaki karena Mamanya terus saja menelpon namun ia abaikan dengan cara tidak menerima panggilannya.


Tok.Tok.Tok.


Lima menit kemudian Refal sudah berdiri dan mengetuk daun pintu, seperti prediksinya. Suara Mamanya terdengar penuh semangat dari balik daun pintu. Tentu saja itu yang akan terjadi, karena Mamanya akan bertemu dengan gadis yang seratus persen dia dukung menjadi menantunya.


"Sayang, kau sudah sampai?" Nyonya Asa menyambut Refal sembari berjalan mendekati putra tersayangnya. Pelukan singkat pun tak bisa di elakkan.


"Ummi Fazila, kenalkan, dia putra ku. Karena kesibukannya, aku sendiri sangat jarang bertemu dengannya." Ujar Nyonya Asa sambil tersenyum tipis.


"Assalamu'alaikum... Om, Tante." Refal menyapa Bu Fatimah dan Tuan Alan sambil menjabat tangan mereka. Suasana di ruang VIV sore ini terasa begitu hangat.


"Ummi, sepertinya putra ku tidak sabar menunggu kedatangan Fazila. Apa kita nikahkan saja mereka setelah pertemuan ini?" Guyon Nyonya Asa, karena dia hanya ingin monggoda Refal.


Tanpa di duga, Fazila tiba-tiba muncul dan menghentikan candaan mereka.


"Assalamu'alaikum... Maaf, Fazila terlambat." Fazila berjalan mendekati Ummi dan Abinya, memeluk mereka, setelah itu berjabat tangan dengan Nyonya Asa dan Tuan Anton.


Glekkkk!


Refal menelan saliva, melihat sosok sempurna yang berdiri di depannya membuat tenggorokannya mengering. Netra teduhnya menatap Fazila dengan intens, terdapat ribuan pertanyaan di benaknya, karena terkejut ia bahkan hanya bisa membisu. Mencoba mencerna keadaan yang ada.

__ADS_1


Mungkinkah dia orangnya? Wanita yang ingin Mama perkenalkan dengan ku? Dan akhirnya kami bertemu lagi dalam nuansa berbeda. Apa ini termasuk berkah atau musibah? Aku benar-benar tidak tahu. Batin Refal tanpa mengedipkan mata. Ia sama terkejutnya dengan Fazila.


...***...


__ADS_2