Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kesetiaan


__ADS_3

Huahhhh!


Refal berteriak. Ia melempar semua yang ada di dekatnya termasuk vas bunga yang terletak di atas meja depan sofa. Ia terlalu kesal sampai tidak bisa mengendalikan amarahnya. Mengetahui kebenaran di balik kematian tragis yang menimpa Hilya membuat jiwanya tergoncang, Ia merasa bersalah.


Saat Fazila datang, rasanya Ia ingin berhambur kedalam pelukan wanita yang sangat Ia rindukan sejak pagi. Baru saja Ia akan melangkahkan kaki untuk mendekati wanitanya, tiba-tiba foto-foto sampah masuk kedalam ponselnya. Entah orang kurang ajar mana yang telah berani melakukan itu. Sungguh, amarah Refal langsung meledak saat menatap istri cantiknya berada dalam pelukan pria asing. Siapa yang salah? Sejatinya dua-duanya benar, hanya saja semua ini terasa sangat menyakitkan untuk hati Refal yang belum bisa menerima wanitanya di lecehkan hingga tiada, kemudian istri cantiknya di peluk oleh pria lain, hal itu kembali memantik amarah Refal yang sejatinya belum padam.


"Pak Gubernur, apa saya boleh mengatakan sesuatu?" Bima yang berdiri di dekat pintu berusaha menyapa Refal yang terlanjur larut dalam kesedihan.


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun jika ucapanmu hanya akan membuat amarahku semakin memuncak."


Hmmm!

__ADS_1


Bima menghela nafas kasar sambil menatap wajah atasannya yang terlihat menyedihkan.


Jika Bima bisa, rasanya Bima ingin memukul wajah tampan Refal, bagaimana tidak, setelah mengeluarkan semua racun yang ada di hatinya Ia malah duduk di kursi kebesarannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Walau Bapak marah saat mendengar apa yang akan saya ucapkan, saya tetap akan mengatakannya. Dan jika saya tidak mengeluarkan semua yang ada di hati dan pikiran ini, saya tidak akan bisa tidur, atau bisa saja saya tiada dalam penyesalan." Celoteh Bima tanpa menanggapi Refal yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Seharusnya Bapak tidak perlu membentak Nyonya. Jika kemarahan Bapak di tujukan pada orang lain, saya bisa terima semua itu. Nyonya terlihat sangat sedih, beliau bahkan meninggalkan kantor sambil menangis." Sambung Bima lagi. Dalam hati Ia telah mempersiapkan diri bila Refal tiba-tiba menghajarnya karena telah lancang mencampuri urusan rumah tangga atasannya.


"Siapkan mobil, Aku akan pulang dan Kau tidak perlu menemaniku. Aku tahu Kau mata-mata Mama, tapi pastikan masalah yang terjadi antara Aku dan istriku tidak keluar dari pintu kantorku.


Jika Mama sampai tahu dan mengungkit masalah ini, maka sudah di pastikan semua itu keluar dari mulutmu. Karena Aku tahu Fazilaku tidak akan pernah mengadu." Ucap Refal sambil memasang jas yang Ia sampirkan di sandaran kursi.

__ADS_1


"Pak Gubernur, Aku tahu anda sangat mencintai Nyonya Fazila, lalu kenapa anda sangat bodoh sampai mencampur adukkan masa lalu dan masa depan anda? Hari ini karena terluka oleh masa lalu, anda sampai menyakiti Nyonya.


Aku tahu apa yang menimpa Nona Hilya tidak bisa di terima, walau seperti itu anda harus melupakan segalanya. Biarkan Aku yang bekerja, Aku berjanji akan menemukan bajingan yang telah menyakiti hati dan perasaan anda. Bahkan jika mereka mencoba bersembunyi di lubang tikus sekalipun, Aku pastikan akan membawa mereka ke hadapan anda." Batin Bima sambil menatap punggung Refal. Refal berjalan semakin menjauhinya.


Kesetiaan?


Empat tahun yang lalu, tepatnya di sebuah jalanan yang sepi, ada seorang pemuda yang di keroyok oleh sekumpulan pria di tengah jalan. Untungnya, keberuntungan masih berpihak pada pemuda yang di zolimi itu. Yang Kuasa mengirim bala bantuan, sebuah mobil melintas. Dan saat itu lah seorang pahlawan turun dari mobil dan menawarkan bantuan, hingga saat ini Bima merasa berhutang budi pada Refal yang telah menyelamatkan nyawanya.


Selama ini Bima selalu berdiri di belakang Refal layaknya bayangan, Refal sendiri tidak pernah tahu apa saja yang telah Bima lakukan untuknya. Di dalam hatinya, Bima selalu mengharapkan kebahagiaan untuk Tuannya, karena itulah Ia bertekat untuk selalu setia sampai nafas terakhirnya.


Baik cinta atau pun persahabatan, selalu di butuhkan kesetiaan dalam menjalaninya. Saat ini kesetiaan dan kesabaran Refal sedang di uji. Semoga cintanya tidak membawa derita.

__ADS_1


...***...


__ADS_2