Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Menghilang! (Fazila)


__ADS_3

Cinta dan memberi adalah dua kata sejati dalam kamus nurani. Cinta dapat di umpamakan seperti pohon, tiap hari harus di siram dan diberi pupuk kesetiaan dan pengertian. Hal itu lah yang selalu Refal lakukan, memupuk cinta dan kesetiaannya walau Ia tidak selalu bisa berada di sisi Fazilanya, namun satu yang pasti, hatinya sepenuhnya milik wanita berparas ayu itu.


"Apa Bima sudah menyiapkan semua yang ku minta padanya? Awas saja jika dia berani melakukan kesalahan." Ujar Refal sembari melangkahkan kaki keluar dari lift, kemudian berjalan menuju kamar tempat Fazila bersiap.


Fazila bersiap di kamar 5010. Sungguh, Refal benar-benar tidak sabar untuk melihat penampilan Fazilanya menggunakan gaun yang di kirimnya, membayangkan kecantikan istrinya saja sudah membuat seorang Refal Mahendra Shekar tersenyum bahagia.


"Terbuka? Apa Fazila tahu aku di depan kamar sehingga dia membuka pintunya? Wahhh, dia benar-benar manis!" Ujar Refal penuh arti.


Kamar tempat Refal berada saat ini memiliki pemandangan yang sangat indah, pemandangan yang bisa ia nikmati dari dalam kamar, itu memang permintaan khusus Fazila. Dia bilang sangat menyukai tempat-tempat yang indah, hal itu membuatnya mengingat kembali memori masa kecilnya, masa kecil yang di penuhi dengan air mata dan juga kebahagiaan.


"Honey! Aku datang!"


"Kau dimana?"


"Keluarlah!"


"Aku hitung sampai lima. Jika kau tidak menampakkan diri setelah hitungan kelima. Maka, jangan salahkan aku, aku akan menggigitmu." Ujar Refal setelah menyadari Fazilanya tak kunjung datang.

__ADS_1


"Satu. Dua.Tiga setengah.Tiga."


Hmm!


"Sayang. Aku akan masuk, apa kau di kamar mandi?" Ujar Refal lagi, dan ini untuk kesekian kalinya ia bicara sendiri. Ia tidak menyadari kejanggalan yang ada di depan matanya. Seandainya ia bergerak dua langkah lagi, ia akan mendapati ponsel Fazila yang tergeletak di lantai dekat balon-balon yang menutupi setengah bagian kamar itu.


Tepat seperti yang Refal ucapkan sebelumnya, ia membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuknya. Netranya membulat, Ia tak percaya tidak menemukan Fazila disana.


"Kemana dia pergi dengan meninggalkan pintu kamar terbuka? Fazila berjanji tidak akan keluar kamar tanpa diriku, lalu kemana dia pergi secepat ini?"


"Aku benar-benar khawatir." Ucap Refal lagi, Ia meraih ponsel yang ada di saku kemudian berusaha menghubungi ponsel Fazila.


"Fazila ku tidak seceroboh ini! Dia pergi tanpa membawa ponselnya, tidak mungkin!"


"Pesan suara?"


"Dari siapa?"

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Refal langsung membuka pesan itu.


Bukankah kamu putri Alan Wijaya? Kamu terlihat cantik seperti biasa. Aku mengagumimu. Sayang sekali, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kau telah memilih Gubernur bodoh itu sebagai suamimu.


Refal merasakan panas di sekujur tubuhnya setelah mendengar pesan suara yang ada di ponsel Fazila. Ia ingin meremas orang tidak berguna itu karena telah berani mengancam Fazilanya.


Kau ingat Maya? Ahhh, seharusnya aku tidak perlu bertanya seperti itu. Kau bukan orang idiot yang akan melupakan segalanya. Bukankah aku orang yang tidak pengertian? Seharusnya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena orang sepertimu pasti tahu dengan ungkapkan bodoh, tak kenal maka tak sayang. Aku yakin setelah kau mengenalku dan mendengar pesan ini kau akan berlari kearahku.


Refal semakin di buat geram oleh sosok di balik pesan suara itu. Bagaimana tidak kesal? Jelas-jelas ia mengancam Fazila dengan ucapan sok manisnya.


Dulu kau mengacaukan pernikahan ku dengan Anak itu. Tapi sekarang, itu tidak akan terjadi lagi karena anak itu bukan lagi seleraku. Aku menunggumu, dan aku bersikeras agar kau datang. Jika kau tidak datang, jangan salahkan aku besok kau akan mendapati anak itu tak bernyawa lagi, bukan di rumah yang di tempati saudaranya, melainkan di rumah yang kau dirikan dengan kerja kerasmu, Rumah Tahfizd.


Ini bukan ancaman, melainkan ini bukti rasa hormatku padamu. Aku menghormatimu karena itu aku tidak meluluh lantakkan rumah itu setelah berbulan-bulan mengintainya.


O iya satu lagi, anak itu, Maya. Ada bersamaku. Jangan katakan apa pun pada siapa pun setelah kau mendengar pesan ini. Atau aku akan menghabisinya secepat yang ku bisa. Isi pesan suara itu.


Bukan sekedar ancaman biasa. Ada beberapa foto yang menguatkan ucapannya. Seorang gadis di vidio singkat menangis sambil memanggil nama Kak Zii.

__ADS_1


"Fa-fazilaku dalam bahaya. Kira-kira kemana mereka mengarahkannya?" Ucap Refal putus asa, ia berlari keruang kontrol setelah menghubungi Bima dan memintanya untuk menunggu di sana. Ini bukan masalah sepele, ini masalah besar, Fazilanya menghilang dan itu membuat Refal hilang akal.


...***...


__ADS_2