Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Pesta


__ADS_3

"Masya Allah, Nak. Sungguh, Ummi tidak pernah melihat pengantin mana pun secantik dirimu..." Sanjung Ummi Fatimah.


"Mama yakin, semua mata akan menatapmu dengan tatapan takjub." Kali ini giliran Nyonya Asa yang menyanjung menantunya, Fazila.


Dan benar saja ucapan kedua wanita kesayangan Fazila itu, saat ini semua mata menatap Fazila dengan tatapan takjub luar biasa, sejak ia melangkahkan kaki menuju Ballroom Hotel tak seorang pun yang tak menatapnya dengan tatapan takjub, Fazila memang pantas mendapatkannya karena itu memang kebenarannya.


"Pak Gubernur selamat atas pernikahan kalian. Anda harus menjaga Nyonya Fazila agar tetap berada di sisi anda, jika tidak orang lain pasti akan mengambilnya..." Bima, yang merupakan Asisten Refal berbisik di telinga Refal dengan ucapan penuh penekanan.


Mendengar ucapan Asistennya membuat Refal menatapnya dengan tatapan tajam. Hampir saja Refal melayangkan tinjunya di perut rata Bima namun dengan cepat Bima memeluk Refal sambil berbisik kembali.


"Eittsss! Hari ini anda tidak boleh marah, jika anda sampai melakukannya saya tidak bisa jamin untuk tidak memberitahukan Nyonya Fazila kalau anda pria yang kejam." Ucap Bima lagi.


"Apa kau ingin tiada? Berani sekali kau mengancamku!" Celoteh Refal masih dalam keadaan berbisik.


"Ada Apa? Kenapa kalian terlihat tegang? Apa ada masalah?" Fazila yang melihat ada yang tidak beres antara dua pria yang menjadi atasan dan bawahan itu hanya bisa menatap dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tidak Nyonya. Hanya saja Pak Gubernur...!"

__ADS_1


Hmmppp!


Dengan cepat Refal menyumpal mulut Bima dengan telapak tangannya, tidak ada balasan dari Fazila selain tatapan herannya.


Hehehe!


Refal dan Bima tertawa berbarengan hanya untuk menghilangkan sikap penasaran Fazila.


"Apa kalian yakin tidak ada yang terjadi? Atau Pak Gubernur berniat menyembunyikan hal lain dariku?" Fazila menyipitkan matanya, ia bertanya sambil memamerkan wajah penuh tanda tanya.


"Nyonya, tidak ada yang terjadi. Tadi itu Pak Gubernur hanya berbisik kalau dia ingin menyanyikan lagu cinta untuk Nyonya." Sambar Bima sebelum Fazila menanyakan hal lain.


Refal menelan saliva, ia cukup terkejut dengan ucapan Asistennya. Seandainya ia tidak berada di tengah kerumunan para tamu undangan dan berada bersama Fazila, sudah di pastikan amarahnya akan meledak-ledak seperti lahar panas yang akan menghancurkan.


"Wahhh... Benarkah? Ini kejutan besar dan aku sangat menyukainya!" Ujar Fazila dengan senyuman mengembang di wajah cantiknya.


Sementara itu, ribuan tamu undangan sedang asyik menikmati jamuannya. Ada yang sedang asyik bicara dengan rekan pejabatnya, ada juga yang sedang melebur dalam merdunya lagu cinta.

__ADS_1


"Pak Gubernur. Selamat!"


"Terima kasih, Pak Wakil!" Balas Refal sambil menjabat tangan wakilnya kemudian memeluk pria separuh baya itu. Refal tersenyum, ia bahagia.


Dari jarak sepuluh meja berdiri Pak Mentri, istrinya dan juga anak gadisnya. Pasangan suami istri itu terlihat menikmati pesta meriah yang diadakan oleh kedua keluarga Wijaya dan Shekar.


"Kau lihat wanita itu?" Fazila menunjuk kearah putri Pak mentri, mengisyaratkan hanya dengan gerakan matanya.


"Siapa?" Refal bertanya sambil menatap kearah yang di tunjuk Fazila.


"Ooo, gadis itu! Maksudmu putri Pak Mentri? Dia terlihat cantik dengan gaun bak cinderella." Refal menatap Fazila, berharap akan menangkap aroma kecemburuan dari raut wajah cantik itu. Dan benar saja Fazila terlihat cemberut.


"Dia memang cantik, tapi Ratuku ini jauh lebih cantik. Tidak ada gadis mana pun yang bisa menggantikan pesona indahnya. Jadi jangan pernah meragukan kesetiaanku." Sambung Refal lagi yang di sambut oleh senyuman manis Fazila.


Pesta?


Pesta memang akan berakhir, namun masalahnya bukan terletak di sana melainkan sanggupkah cinta itu bertahan hingga menua bersama? Dalam cinta akan selalu ada cobaannya, sanggupkah Fazila dan Refal menjadi contoh bagi kemurnian cinta itu?

__ADS_1


Di depan ribuan tamu undangan Refal mendekap Fazila dalam pelukan hangatnya, tidak ada rasa malu dalam dirinya walau ribuan pasang mata menatapnya dengan tatapan cemburu. Sementara Fazila? Dia benar-benar malu sampai tidak bisa berkata-kata.


...***...


__ADS_2