Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Hotel


__ADS_3

Acara sambutan atau pengajian yang di adakan di kediaman Shekar benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri untuk Fazila. Sejak meninggalkan ruang tengah dan berdiri di balkon kamarnya dan Refal yang terletak di lantai dua, Fazila bahkan taidk bisa berhenti tersenyum. Hatinya di penuhi oleh rasa syukur.


Gdebukkk!


Aauuuu!


Refal meringis menahan sakit, siku keras Fazila tepat mengenai perutnya.


"Maafff. Aku tidak sengaja." Ucap Fazila spontan setelah melihat Refal menahan sakit.


"Seharusnya pak Gunernur memberikan aba-aba. Maksudku, seharusnya Pak Gubernur tidak perlu memelukku secara diam-diam dari belakang. Karena terkejut aku bahkan tidak sengaja menyakitimu." Celoteh Fazila sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ia benar-benar menyesal.


"Iya, kau sudah menyakitiku. Baru sekarang aku merasakan bagaimana pedihnya KDRT." Celoteh Refal sambil berpura-pura menahan sakit.


"Haha! Jangan membuatku tertawa, Pak Gubernur bahkan bukan seorang pelawak." Balas Fazila sambil mencubit perut Refal.


"Aku ini seorang Dosen. Aku tahu kapan seseorang sedang berbohong padaku dan kapan dia berusaha mencari perhatianku." Kali ini Fazila meraih kedua lengan Refal, melingkarkannya di pinggang rampingnya kemudian saling menatap dalam diam, ditemani cahaya Rembulan yang bersinar sangat terang.


"Katakan padaku, apa Pak Gubernur berusaha mencari perhatianku?" Fazila bertanya tanpa melepas tatapan tajamnya dari wajah tampan Refal.


"Ti-tidak." Jawab Refal gugup.


"Tidak perlu malu padaku. Aku justru bahagia mengetahui hal itu. Bagi Pak Gubernur, aku memang berada bukan dalam urutan pertama kisah cintamu. Tapi bagiku? Pak Gubernur lah yang pertama dan terakhir untukku.


Iya, ku akui aku bukan orang yang mudah. Tapi aku bisa pastikan. Aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi sosok yang bisa Pak Gubernur banggakan.


Dan satu lagi, aku tipe wanita sederhana dan setia. Jadi, jangan pernah bermain api dengan wanita lain di belakangku. Aku benci perselingkuhan." Ucap Fazila sambil menangkup wajah Refal.


"Itu tidak akan terjadi, maksudku bermain api di belakangmu. Asal kau tahu, aku tipe pria setia yang pandai menjaga pandangannya. Hanya pada Fazila ku saja aku akan menatap dengan tatapan cinta, selain dirimu aku akan menutup mata." Balas Refal penuh percaya diri. Ia mulai mengecup kelopak mata kiri Fazila, kemudian beralih menuju kelopak mata kanan Fazila. Untuk sesaat ia tenggelam dalam gelora asmara.


Sedetik kemudian Refal kembali mengecupi puncak kepala Fazila, ia cukup lama berada dalam posisi itu sehingga ia bisa mendengar nafas Fazila yang terdengar tak beraturan. Sama dengan Fazila, dada Refal pun berdebar tak beraturan.

__ADS_1


Suasana yang romantis. Apa lagi yang harus ku tunggu? Aku berhak atas Fazila, dan kami pun saling mencintai. Batin Refal sambil menangkup wajah cantik Fazila.


Refal memiringkan kepalanya hendak meraih bibir ranum Fazila dengan bibir lembutnya. Baru saja dia bersiap akan melakukan itu tiba-tiba...


"Kakak, kau dimana?"


Gdebukkk!


Aaahhhhh!


Fazila dan Refal sama-sama meringis menahan sakit. Kepala keras mereka saling membentur.


"Uupss! Sorry!" Lagi-lagi Melan datang sebagai pengganggu.


Melan menutup matanya sambil berbalik menghadap pintu. Kebiasaan lamanya yang sering masuk kekamar Refal tanpa mengetuk pintu masih belum bisa di hilangkan.


"Ma-maaf, Kak. Aku tidak sengaja. Sumpah, aku tidak melihat apa pun. Aku juga tidak akan mengatakan apa pun pada Mama kalau Kakak ingin mencium Kak Fazila. Kaburrrr!" Ucap Melan sambil berlari sekencang-kencangnya.


"Haha! Adik mu sangat lucu." Ujar Fazila begitu Melan tak nampak lagi di netranya. Ia bahkan tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah lucu Melan yang mencoba menggoda Refal dengan tingkah polosnya.


"Mmm! Manis sekali. Ternyata suamiku sangat manis saat dia sedang marah." Kali ini giliran Fazila yang menggoda Refal. Ia berjalan kearah sofa dekat pintu sambil tersenyum tipis. Jemari lentiknya meraih amplop biru yang di tinggalkan Melan di atas meja.


"Ada surat. Untuk mu." Ucap Fazila sambil menunjukkan amplop yang ada di tangan kanannya pada Refal.


"Untuk ku? Surat, semalam ini?"


"Aku rasa ini bukan surat resmi. Atau mungkin saja ini dari kolegamu. Apa tadi Pak Gubernur tidak bertemu dengan Pak Bima, Asistenmu?"


"Tidak. Aku tidak melihat Bima, aku bahkan tidak pernah bicara dengannya hari ini. Dia tahu aku sedang cuti dan dia bersikap baik dengan tidak menggangguku." Ujar Refal sambil meraih amplop biru yang disodorkan Fazila padanya.


"Surat undangan. Ini dari Pak Mentri. Beliau mengundang kita untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya. Dan untungnya, acaranya di gelar di Ballroom hotel milik Abi. Apa Nyonya Gubernur akan menemaniku?"

__ADS_1


Nyonya Gubernur?


Fazila tersenyum mendengar itu, terdengar masih aneh di telinga Fazila namun ia suka mendengarnya. Sangat suka.


"Baiklah. Aku akan pergi, hanya untukmu." Jawab Fazila dengan nada suara lembut.


"Dan iya, aku minta maaf. Aku akan datang sedikit terlambat. Besok, ada rapat penting di Kampus. Setelah itu aku akan bersiap untuk menemuimu di Hotel."


Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan, mengisyaratkan kalau dia tidak keberatan selama Fazila tetap datang hanya untuknya.


...***...


Di Ballroom Hotel.


Setelah Shalat Magrib, Refal benar-benar berangkat menuju hotel di temani Bima sebagai sopirnya. Sungguh, berada dalam keramaian tanpa kehadiran Fazila disisinya membuat Refal merasakan gundah. Dia menikah kurang dari satu bulan namun Fazila telah memenuhi hati dan pikirannya.


"Pak Gubernur, anda sudah sampai? Wah... Ini benar-benar kejutan besar." Ucap Pak Mentri setelah ia berdiri di depan Refal.


"Saya pikir Pak Gubernur tidak akan datang, tapi nyatanya saya salah." Ucap Pak Mentri lagi. Ia menjabat tangan Refal sangat erat. Berharap jalinan pertemanannya akan berubah menjadi hubungan baru yang memiliki nama.


"Saya sudah menikahkan putri saya, padahal sebelumnya saya sangat berharap Pak Gubernur lah yang akan mempersuntingnya. Nyatanya, itu hanya hayalan saya saja.


Tapi, saya tidak perlu khawatir. Saya masih punya satu anak gadis lagi. Saya sudah siap kapanpun Pak Gubernur datang kerumah kami untuk mempersunting Milea." Ucap Pak Mentri dengan wajah di penuhi senyuman, antara bercanda dan serius.


Refal yang mendengar ucapan mentri Luar Negri itu hanya bisa tersenyum tipis. Tidak ada yang tahu tentang pernikahannya dengan Fazila karena memang pernikahan itu di adakan secara tertutup hanya untuk keluarga dekat saja. Besok, undangan Resepsi pernikahan akan mulai di sebar. Saat itulah semua orang akan mengetahui kalau dirinya sudah tidak sendiri lagi dan dia pria beruntung karena mendapatkan wanita secantik dan sebaik istrinya, Meyda Noviana Fazila.


"Sepertinya, kali ini pun tetap sama. Kita tidak akan bisa menjadi seorang menantu dan mertua." Ucap Refal membalas candaan Pak Mentri yang seusia dengan Papanya.


"Saya perhatikan, Pak Gubernur selalu saja menatap pintu, apa pak Gubernur menantikan kedatangan seseorang?"


"Iya, Pak Mentri benar. Saya sedang menantikan kedatangan seseorang yang spesial. Dia bilang dia akan terlambat dan dia benar-benar menepati ucapannya." Jawab Refal spontan. Wajah tampannya kembali mengukir senyuman saat ia melihat Fazila berjalan mamasuki Ballroom Hotel sendirian.

__ADS_1


Refal benar-benar tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pesona indah Fazila, ia ingin meninggalkan Pak Mentri namun sayangnya etikanya tidak membiarkannya melakukan itu sebagai bentuk rasa hormatnya.


...***...


__ADS_2