
"Mama tidak perlu khawatir, Pak Gubernur Pria yang sangat baik. Selama kami bersama beliau tidak pernah membentak apa lagi menatap Ku dengan tatapan merendahkan. Terima kasih karena sudah melahirkan pria sebaik Pak Gubernur." Ucap Fazila sambil menggenggam erat jemari Mama mertuanya.
"Terima kasih karena mengatakan hal seindah itu. Apa Kau tahu? Mama sangat bahagia mendengar ucapanmu, itu artinya didikan Mama tidak gagal.
Iya, Mama akui kalau putra Mama tidaklah sempurna. Dan Mama berdoa, semoga kehadiranmu akan selalu mengisi kekosongan di hatinya. Bagi orang tua, kebahagiaan anak-anak mereka adalah hal yang paling utama. Jadi tetaplah bahagia di mana pun kalian berada." Ucap Nyonya Asa bersungguh-sungguh, netra teduhnya mulai mengeluarkan tetesan demi tetesan air mata.
Mendengar ucapan Mama mertuanya, Fazila hanya bisa menganggukkan kepala. Sejujurnya, Fazila belum terlalu akrab dengan keluarga suaminya. Karena itu lah, setiap ada waktu luang, Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu itu. Karena jalan pintas untuk meraih kasih sayang dan cinta hanya dengan cara menyambung tali silaturrahmi. Bukankah itu mudah?
"O iya, sayang. Bagaimana keadaan Ummi dan Abi mu?"
"Mereka baik-baik saja, Ma. Ummi bilang mereka akan berangkat ke Bali lusa."
"Bali?"
"Iya, Bali!"
"Apa ada hal yang penting disana? Kemarin Ummi Mu tidak mengatakan apa pun, dan sekarang mereka akan berlibur? Ini benar-benar kejutan besar." Ucap Nyonya Asa.
__ADS_1
"Kalau saja Ummi memberitahukan rencana keberangkatannya menuju Bali saat kita tinggal di Villa kemarin, mungkin saja kita bisa mendiskusikannya dan berlibur bersama." Sambung Nyonya Asa sambil memamerkan wajah yang di penuhi kekecewaan.
"Ummi dan Abi akan pergi untuk menemui koleganya. Kebetulan, putra koleganya masih ada disini. Mama tidak perlu sedih, jika nanti Pak Gubernur memiliki waktu luang, kita sekeluarga akan berlibur bersama, bagaimana? Apa Mama suka?"
Tidak ada balasan dari Nyonya Asa selain memamerkan senyum penuh kepuasan.
"O iya, sayang. Mama sampai lupa memberitahukan alasan Mama memanggilmu kemari."
"Alasan? Alasan apa? Bukankah Mama memanggil Fazila kemari karena Mama merindukan menantu shaliha Mama ini?" Guyon Fazila sambil mengedipkan mata.
Pertemuan Nyonya Asa dan Fazila berlangsung hingga senja menyapa. Rasanya, Nyonya Asa ingin menahan Fazila, namun Ia sadar kalau dirinya tidak boleh melakukan itu. Lima jam bersama terasa sangat singkat. Fazila juga merasakan hal yang sama, berkumpul bersama Mama dan Papa mertuanya membuatnya bahagia. Mau bagaimana lagi, Ia harus pulang setelah Shalat Magrib dan kembali kedalam pelukan Gubernur kesayangannya, Refal Mahendra Shekar.
...***...
Tin.Tin.Tin.
Dua jam berlalu sejak Fazila meninggalkan kediaman Shekar. Berkendara di jam pulang kerja selalu saja menjadi moment yang membutuhkan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, di jam seperti ini kemacetan panjang selalu saja menjadi alasan terbesarnya.
__ADS_1
"Entah siapa pemilik mobil yang ada di belakang ku? Kenapa dia terus saja membunyikan klakson mobilnya? Ia bertingkah seolah-olah orang lain tidak merasakan kekesalan seperti yang di rasakannya." Gerutu Fazila, Ia mendengus kesal sambil mengepalkan tangan.
Setelah dua puluh menit terjebak dalam kemacetan panjang, akhirnya Mobil yang Fazila kendarai mulai bergerak pelan layaknya kura-kura yang sedang berjalan.
"Setidaknya ini jauh lebih baik dari pada harus berdiam diri di satu titik. Apa yang di lakukan Pak Gubernur? Entah kenapa Aku sangat merindukannya.
Senyumnya, tatapannya, caranya bicara dan tingkah nakalnya terus saja mengganggu pikiranku. Rasanya Aku ingin berlari dan tenggelam dalam pelukannya. Membayangkan itu saja membuatku merasa bahagia." Fazila tersenyum namun tatapannya tetap lurus kedepan.
"Mama bilang, saat Pak Gubernur merasa sedih beliau selalu meminta Bima membeli kue dari toko roti ini. Akan Ku lakukan hanya untuk membuatmu bahagi, Refal Ku." Ujar Fazila sambil memberhentikan mobilnya tepat di depan toko roti, Ia keluar dari dalam mobilnya dengan perasaan riang. Namun sikap riangnya seolah menguap keangkasa saat Ia mendapati seorang pria berhambur kedalam pelukannya.
Duar!
Bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuh Fazila merinding. Ia tidak menyangka, dan Ia tidak akan pernah berpikir akan ada pria yang datang memeluknya secara tiba-tiba di tempat umum.
"Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." Bisik pria yang saat ini berada dalam pelukan Fazila.
...***...
__ADS_1