
"Mbak yu..." Nyonya Asa buru-buru masuk kedalam kamar tempat Fazila di rawat setelah menyudahi panggilannya.
Ummi Fatimah yang baru saja menyelesaikan Shalat Zuhur sedikit heran melihat tingkah besannya itu. Bukan tanpa sebab, karena biasanya besannya itu selalu bertingkah anggun layaknya ratu tanpa celah.
"Maaf, apa aku mengganggu Shalat Mbak yu?" Nyonya Asa mengajukan pertanyaan sembari meletakkan ponselnya di samping Ummi Fatimah yang sedang melipat mukena yang ia gunakan.
"Tidak. Memangnya ada apa?"
"Peristiwa besar!" Ucapan Nyonya Asa tertahan di tenggorokannya, ia berusaha mengatur nafasnya yang terasa mulai berat.
"Relax. Tarik nafas, kemudian buang perlahan dari bibir. Sekarang katakan, peristiwa besar apa yang terjadi tanpa sepengetahuanku." Ummi Fatimah memengang lengan Nyonya Asa kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Mbak yu, tadi Refal telpon. Katanya, Matthew Mualaf. Tepatnya setelah Shalat Jumat."
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Ummi Fatimah, tanpa ia sadari air matanya menetes untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Ini bukan sekedar peristiwa besar, tapi ini adalah keajaiban Tuhan.
Matthew Mualaf? Itu terdengar mustahil, tapi lihatlah, ketika Tuhan berkehendak Ia cukup mengatakan jadi, maka terjadilah semuanya dalam sekejap mata.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Apa saya tidak salah dengar? Apa ini nyata?"
"Iya, Mbak yu. Semua ini nyata. Bahkan, Refal bilang, sekarang Nak Matthew sudah di larikan kerumah sakit karena pingsan. Atau mungkin saja dia sudah ada di ruang inap." Nyonya Asa mengabarkan beritanya dengan semangat empat lima, biasanya ia tidak suka membicarakan orang lain. Nyonya Asa bertemu dan bicara dengan Matthew hanya beberapa kali saat berkunjung ke Mansion Wijaya, sepertinya hal itu membuatnya dekat dan merasakan haru luar biasa.
"Jika Matthew benar ada disini, aku akan menemuinya." Ujar Ummi Fatimah sembari meletakkan perlengkapan Shalatnya di atas nakas. Baru saja Ummi Fatimah bergegas akan keluar, tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
"Refal, sayang. Kau sudah kembali Nak?" Nyonya Asa menyapa putra kebanggaannya dengan senyuman tipis yang menghiasai wajah cantiknya. Iya, wajahnya terlihat cantik walau usianya tidak muda lagi.
"Dimana Abi-Mu? Apa beliau sudah menghubungi Tuan dan Nyonya Dewa?" Ummi Fatimah terlihat khawatir, ia sangat bahagia mendengar kabar Matthew menjadi seorang Mualaf, namun setelah mendengar Matthew tidak baik-baik saja perasaan khawatirnya mengalahkan kebahagiannya.
"Baguslah." Ucap Ummi Fatimah sembari membuang nafas dari bibir. Ia merasa lega.
Sedetik kemudian, kedua wanita paruh baya itu keluar dari ruang inap putri mereka. Meninggal Refal sendirian bersama istri cantiknya. Cukup lama Refal terdiam, mengamati wajah pucat Fazila sambil meneteskan air mata.
"Sayang, apa kabar? Bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Kita tidak bicara selama hampir dua pekan, apa kau tidak merindukan Refal-Mu?" Refal berucap sembari mengelus wajah pucat Fazila.
"Aku punya berita baik untukmu."
__ADS_1
"Aku yakin jika mendengarnya kau juga akan turut bahagia."
"Matthew! Pria jangkung dengan sejuta pesona itu memutuskan menjadi Mualaf."
"Dari yang ku lihat, dia sangat mencintai Fazila-Ku."
"Apa aku marah?" Refal bertanya pada dirinya sendiri seolah pertanyaan itu datang dari Fazila.
"Iya, aku marah. Aku marah karena pria itu sudah berani mencintai istriku. Rasanya aku ingin memukulnya. Namun..." Refal menjeda kalimatnya, ia merunduk untuk sesaat, kemudian melayangkan kecupan di puncak kepala Fazila.
"Namun aku tersadar, entah aku atau Matthew, kami tidak akan bisa mengontrol dengan siapa kami jatuh cinta."
"Dan satu lagi berita besarnya, aku sangat bahagia karena tanpa paksaan Matthew secara suka rela membaca Syahadat di hadapan ribuan jama'ah Shalat Jumat."
Mendengar ucapan Refal, dan tanpa Refal sadari jemari lentik Fazila mulai bergerak, bukan hanya jemarinya saja yang bergerak namun air matanya tiba-tiba terjun bebas.
...***...
__ADS_1