Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Kamar (Part2)


__ADS_3

Assalamu'alaikum Warahmatullah...


Assalamu'alaikum Warahmatullah...


Fazila dan Refal. Mereka berdua menoleh ke kanan dan kekiri, menandakan Shalat mereka telah selesai.


Entah kebaikan apa yang telah Refal perbuat sampai Allah memberkatinya dengan semua kebahagian. Yang dulunya ia melihat warna hitam, gelap dan pekat, dan sekarang ia hanya melihat pelangi penuh warna.


Beribu-ribu tanda syukur pun tidak akan bisa menggantikan semua nikmat yang Allah berikan. Bahagia? Tentu saja hanya itu yang saat ini Refal rasakan. Sungguh, tidak ada yang kurang dalam kehidupannya. Ia bahkan pernah mendengar sahabatnya mengatakan 'Jangan buru-buru mengatakan aku bahagia, karena sesungguhnya saat-saat tersulit pernikahan itu akan di mulai di angka lima tahun pertama, jika kau sanggup menghadapi cobaan di lima tahun pertama anggap saja kau sudah lulus'


Omong-kosong. Gumam Refal setelah mengingat ucapan sahabatnya.


Aku tidak akan pernah mengalami masa yang sulit selama istri yang mendampingiku sebaik Fazila. Batin Refal lagi, ia menerima uluran tangan Fazila, tanpa Refal duga Fazila mulai mencium punggung tangannya dengan takzim, menempelkan punggung tangan Refal di keningnya sambil meneteskan air mata.


Air mata kesedihan? Tentu saja jawabannya bukan itu, karena saat ini tidak ada yang lebih bahagia melebihi kebahagiaan yang di rasakan oleh Refal dan Fazila.


"Aku bahagia, terima kasih sudah memilihku walau awalnya dengan terpaksa." Fazila mulai membuka suara di antara senyapnya udara.


Jam di dinding menunjukan pukul 23.30 namun tidak ada tanda-tanda kalau Refal dan Fazila merasakan kantuk.


"Tidak perlu berterima kasih, karena sesungguhnya aku lah yang di menangkan dalam kondisi ini. Aku merasa aku telah mendapatkan harta yang tak ternilai harganya." Balas Refal sambil menangkup Wajah cantik Fazila yang saat ini masih terbalut mukena biru yang di berikan Mama mertuanya, Nyonya Asa.


Waktu terus berlalu, cinta kian menggebu, di nadiku mengalir deyut kebahagiaan tiada tara, tumbuh bersama dengan rasa syukur yang terus saja ku panjatkan. Untuk kesekian kalinya Refal kembali bergumam tanpa melepaskan tatapan matanya dari netra indah Fazila. Seolah tatapan itu membelai lembut lubuk hati terdalamnya. Semua ketakukan dan kesedihan yang dulu menghampirinya telah terbayar lunas dengan semua kebahagiaan yang saat ini di rengkuhnya.


Bismillah. Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.

__ADS_1


Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan Setan, dan jauhkanlah Setan supaya tidak mengganggu apa yang akan engkau rezekikan untuk kami. Refal mendekatkan dirinya pada Fazila sembari membaca do'a.


Perlahan, Refal mulai melepas ikatan mukena Fazila. Menampakkan wajah sempurna Fazila tanpa kain penutup kepala. Rambut hitam nan panjang milik Fazila terlihat berkilau di terpa cahaya lampu gantung yang terletak di atas kepalanya.


"Rambut indah nan panjang yang selalu terbungkus ini, apa aku orang pertama yang melihatnya?" Refal bertanya sambil memegang rambut Fazila, aroma mawar yang menguar dari rambut itu membuat Refal ingin berlama-lama menghirup wanginya.


Sementara Fazila? Tidak ada balasan yang keluar dari lisannya. Ia hanya ingin menikmati malam ini bersama dia, pria pertama yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Tanpa aba-aba Refal langsung berdiri dari atas sajadahnya, kemudian menggendong Fazila dengan segenap kekuatannya. Lagi-lagi Fazila hanya bisa pasrah. Ia bahkan mengalungkan tangannya di leher Refal tanpa bisa melepas senyuman menawan dari bibir tipisnya.


Perlahan, Refal meletakkan Fazila di ranjang empuk yang mereka tempati hampir sebulan ini. Dan anehnya, mereka tidak pernah melakukan apa pun selain saling menatap dalam kekaguman. Dan satu lagi, berbaring dalam keadaan saling berpegangan tangan. Itu memang aneh, namun itulah kebenarannya. Tidak mudah mendekatkan diri dengan orang asing, butuh sedikit waktu untuk itu, sementara Refal dan Fazila, mereka butuh satu bulan untuk itu.


Mereka lalu memainkan melodi cinta terindah yang pernah dinisbatkan manusia. Bertasbih dalam ******* mereka berdua untuk melahirkan generasi-generasi mulia. Berpelukan erat dalam rangkulan ibadah, menumpahkan semua nafsu yang telah halal dalam gelimang keringat saat sedang bersama. Sebuah wujud cinta paling sempurna dalam kehidupan manusia.


...***...


Waktu telah menunjukan pukul 3.00 pagi ketika Fazila bangun dari tidur lelapnya. Ia menyadari tubuh rampingnya berada dalam pelukan hangat Refal, dan hal itu membuatnya tersenyum sambil memandangi sosok sempurna yang saat ini ada di sampingnya.


Rasanya Fazila ingin tersenyum mendengar satu kata itu, sebenarnya pria sempurna itu tidak ada, wanitalah yang mengidealkan mereka seperti apa.


Sementara Fazila, pria ideal menurutnya adalah sosok yang selalu menggenggam erat tangannya dalam suka dan duka, mendengarkan ucapannya ketika ia memintanya untuk datang, dan pergi ketika dia diminta untuk pergi. Sungguh sederhana bukan? Tapi itulah cinta, terkadang kita butuh waktu untuk sendiri, dan adakalanya pula kita butuh bahu sebagai sandaran.


"Refal, aku sudah menyerahkan semua yang kupunya. Aku berdoa kepada Yang Kuasa agar hubungan ini tidak hanya sampai di dunia, tapi sampai ke-Surga.


Terima kasih untuk malam indah yang sudah kau persembahkan untukku. Aku bahagia, dan aku merasa sempurna." Ucap Fazila dengan suara pelan, sedetik kemudian ia mulai melayangkan kecupannya di puncak kepala Refal. Saat ini tubuh kedua anak manusia itu hanya terbalut selimut tebal, setelah melakukan ibadah antara pasangan suami istri, Refal dan Fazila memilih untuk tidur dalam pelukan hangat masing-masing.


"Tidurlah sebentar lagi, aku akan membangunkanmu nanti." Ucap Fazila lagi sambil tersenyum kearah Refal yang masih terlelap.

__ADS_1


Baiklah. Sekarang waktunya untuk bangun. Sadar Fazila. Batin Fazila sembari menguncir rambut panjangnya.


Mandi! Hanya itu yang terlintas dalam benak Fazila saat ini, ia harus mandi sedingin apa pun airnya karena ia harus melaksanakan Shalat Tahajud.


Tidak ada tempat mengadu terbaik selain di atas sajadahmu, Tidak ada waktu terbaik untuk mengadu selain di sepertiga malammu. Sebab saat itu Rabb mu turun untuk merangkul hatimu, dan melapangkan dadamu.


Allah menunggu.


Percayalah, setumpuk pedihmu. Segudang inginmu, luasnya lelahmu akan terjawab di sepertiga malammu. Doa yang kau panjatkan saat tahajud, sama dengan lesatan anak panah yang tidak meleset dari targetnya.


Tiga puluh menit berlalu sejak Fazila selesai mandi kemudian melaksanakan Shalat Tahajud Empat Rakaat, saat ini ia masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya, berzikir kemudian memanjatkan doa pada Yang Kuasa.


Yaa Allah, Wahai Dzat yang maha pengasih di antara semua pengasih. Jadikanlah aku dan suamiku berada di antara orang-orang yang memohon ampunan. Jadikan aku dan suamiku sebagai hamba-Mu yang Sholeh dan Sholehah dan setia. Serta jadikanlah aku dan suamiku di antara Auliya-Mu yang berada dekat di sisimu. Dengan kelembutan-Mu.


Yaa Allah, jadikanlah bagi suamiku lisan yang selalu berzikir. Hati yang selalu bersyukur. Dan berilah dia rezeki cinta kepadaku, dan cinta kepada orang yang mencintaiku, serta jadikanlah urusannya kepada kebaikan.


Do'a yang bersumber dari hati akan membuatmu meneteskan air mata tanpa di rencanakan, dan saat ini itulah yang terjadi pada Fazila. Suaranya serak, lisannya meminta namun suaranya nyaris tak terdengar oleh isakan tangisnya.


Sementara itu, Refal? Ia hanya bisa berpura-pura tidur melihat dan mendengar setiap ucapan yang keluar dari lisan Fazila, ia sadari atau tidak dadanya kembali berdebar sangat kencang.


Yaa Allah, wahai harapan orang-orang yang rindu. Sediakanlah untukku sebagian dari Rahmat-Mu yang luas, berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang. Serta bimbinglah aku dan suamiku menuju kepada kerelaan-Mu yang penuh dengan kecintaan-Mu.


Aamiin. Ucap Refal dan Fazila bersamaan.


Yaa Allah, aku tidak punya alasan untuk tidak mencintai wanita di depanku ini? Dia jauh lebih baik dari persangkaanku. Gumam Refal sembari menutup kepala dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya. Sementara bibirnya tak bisa berhenti mengukir senyuman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2