
"Lalu sekarang, apa yang akan Tuan lakukan? Memberikan pelajaran pada putri Tuan Alan tidak semudah yang kita bayangkan. Apa lagi sekarang, dia merupan istri Gubernur kota ini, Belasan Bodyguard menjaganya tanpa sepengetahuannya." Lapor Sky sambil menyalakan lilin di depan potret Papa angkat Abbas, itu memang perintah Abbas supaya tidak membiarkan lilinnya padam agar Ia bisa mengingat masih ada kemarahan besar di hatinya layaknya kobaran api yang tidak bisa di padamkan.
"Akan ku pikirkan, sekarang tinggalkan aku sendiri."
"Baik, Tuan." Balas Sky sambil membungkukkan badan.
Lima menit kemudian suasana kembali hening, dan Abbas pun kembali di dera perasaan sepi. Ia memiliki segalanya namun kebahagiaan kian menjauh darinya, jika saja ada yang menjual kebahagiaan, maka dia lah orang pertama yang akan mencalonkan diri untuk merengkuh bahagia itu, entah sudah berapa lama Ia tidak pernah tertawa lepas, Ia sendiri lupa bagaimana rasanya tersenyum dengan tulus.
Hhhmmm!
Abbas menghela nafas kasar kemudian berjalan pelan kearah sofa, berbaring di sana dan berharap rasa kantuk kan datang menyapanya. Terkadang, seseorang berhati baik bisa berubah menjadi Iblis jahat karena keadaan. Dan mungkin saja Abbas salah satunya.
...***...
__ADS_1
Minggu pagi.
Sesuai dengan janji kedua belah pihak keluarga Wijaya dan Shekar, hari ini semua orang akan menginap di Villa keluarga Wijaya yang ada di Puncak untuk menambah kedekatan.
Bu Fatimah dan Tuan Alan sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati Teh hangatnya. Ada juga Nyonya Asa dan suaminya.
"Mbak yu... Melihat kedekatan Anak-anak kita, Aku yakin sebentar lagi kita akan menjadi Kakek dan Nenek. Rasanya Aku tidak sabar lagi untuk menimang Cucu." Ujar Nyonya Asa tanpa melepas tatapannya dari Refal dan Fazila yang saat ini duduk di teras sambil saling menyuapi Biskuit.
Dek! Sejak hari pernikahan Fazila, Bu Fatimah selalu memanggil besannya dengan sebutan Dek, maklum saja usianya dua tahun di atas Nyonya Asa. Dan hal itu bukan masalah baginya untuk saling memanggil Kakak-Adik.
"Anak-anak yang lain di mana Mbak? Aku tidak melihat mereka." Nyonya Asa kembali mengurai tanyanya. Sementara suami mereka sibuk membahas urusan bisnis.
"Mereka bilang keluar sebentar, Aku tidak tahu sebentar yang mereka maksud akan memakan berjam-jam." Keluh bu Fatimah sambil menatap jam di dinding yang terletak di ruang tengah.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda, berjalan Fatih, Umang dan Regan saling beriringan. Wajah tampan mereka terlihat prustasi. Bagaimana tidak, setengah jam yang lalu Fatih dan kedua saudara kembarnya hampir saja di hajar Massa gara-gara kesalah pahaman dan hal itu membuat Fatih terlihat geram. Kemarahan Fatih memang memiliki dasar, selama ini dia terkenal play boy di kampusnya, namun tak pernah sekalipun Ia berniat melecehkan gadis mana pun. Dan hari ini? Gadis tidak tahu malu itu berani menuduhnya dan kedua saudara kembarnya. Jika bisa, rasanya ingin sekali Ia menghajar gadis tidak tahu malu itu bersama dengan dua rekannya.
"Jangan katakan apa pun di depan Ummi dan Kak Zii kalau tadi kita bertemu dengan gadis gila. Jika mereka sampai tahu, habislah kita." Fatih membuka suara sambil menatap kedua saudara kembarnya secara bergantian.
"Tidak akan. Aku juga tidak mau menjadi bulan-bulanan Kak Zii. Aku sudah kapok, terakhir kali Kak Zii tidak mahu bicara dengan kita gara-gara insiden jatuh menimpa kakak Ipar di kampus. Dan sekarang masalah ini!" Balas Umang sambil menatap wajah bahagia Fazila yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Glekkkk!
Fatih menelan saliva, begitu juga dengan Umang dan Regan, mereka sama terkejutnya. Bagaimana tidak, wanita yang Ia temui di Kafe setengah jam lalu dan berani menuduhnya melakukan pelecehan sedang duduk manis dan tertawa tanpa beban bersama Kakak perempuannya, Fazila.
Amarah yang tadinya meredup kini kembali membara, ingin rasanya Fatih menyentil jidat wanita itu untuk mengekspresikan kekesalannya, sayangnya Ia tidak bisa melakukan itu karena di depannya ada Kakak perempuannya yang selalu siap memarahinya jika Ia berani menyakiti perempuan mana pun.
...***...
__ADS_1