
Waktu terus berjalan, cinta kian berkembang antara Refal dan Fazila, mereka bahkan tidak pernah berpikir bahaya bisa saja datang mengintai kebahagian mereka. Itu memang kenyataan pahit, namun begitulah kehidupan. Saat seseorang bahagia, terkadang ada saja orang yang datang membawa petaka, iri bisa saja datang dari orang yang tidak kita tebak, karena sesungguhnya tidak ada orang yang bisa membaca jalan pikiran orang lain.
Puluhan kilo meter jaraknya dari kantor Gubernur tempat Refal dan fazila berada, sekumpulan pria berdiri di ruang tengah rumah megah berlantai tiga sambil menatap pintu masuk. Mereka terlihat ketakutan, tubuh kekar mereka bahkan terlihat bergetar, entah sebesar apa ketakutan yang memenuhi rongga dadanya sehingga tidak ada hari yang lebih buruk dari hari ini, itu menurut persepsi mereka, dan mungkin saja ada cerita di balik wajah tegangnya.
"Bo-bos!" Ucap salah seorang pria jangkung dengan kepala plontos, ia terlalu tegang, itu tergambar dari wajahnya yang terlihat mengeluarkan keringat, padahal di rumah megah itu di tempatkan pendingin ruangan di setiap ruang, tak terkecuali di ruang kerja pria muda yang mereka panggil dengan sebutan bos.
"Berita apa yang kalian bawa. Jangan bilang, kalian gagal lagi? Apa aku benar?"
Tidak ada tanggapan dari sekumpulan pria berbaju hitam, mereka merunduk, mengisyaratkan kalau tebakan bos mereka memang benar.
"Huh!" Bos besarnya membuang nafas kasar dari bibir, ia kesal, sangat kesal sampai ingin menghabisi semua anak buahnya.
"Aku sudah bilang, jangan perlihatkan wajah kalian jika kalian datang untuk membuatku kesal! Apa kalian tahu? Saat ini aku ingin menghabisi kalian semua." Ucap Abbas dengan nada suara tinggi. Matanya memerah, ia tampak seperti singa yang akan menelan hidup-hidup siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya, tak terkecuali dengan anak buah yang hidup di bawah kendalinya.
"Kalian disini karena aku masih bersikap baik. Jika kalian tidak berguna, untuk apa aku menyimpan kalian, hah?" Lagi-lagi Abbas berteriak dengan suara keras, siapa pun yang mendengar ucapannya pasti akan berpikir, lebih baik tiada dari pada terlibat dengan Iblis sepertinya. Sky yang berdiri di belakang Abbas hanya berdiri mematung, ia tidak menyangka Tuannya akan lepas kendali.
"Katakan padaku, siapa yang bertugas mengawasi putri si bajingan Alan?" Abbas kembali bicara, giginya bergemeletuk.
__ADS_1
Untuk sesaat, tidak ada yang berani angkat bicara. Mereka tahu konsekuensi yang akan mereka terima. Sebenarnya, bicara atau diam sama saja, sama-sama mendapat hukuman berat.
"Siapa yang bertugas mengawasi wanita itu?"
"Sas-saya bo-bos?" Ucap pria bertubuh gembul, kepalanya tertunduk. Kakinya bergetar.
"Apa saja yang kau lakukan selama dua pekan ini? Putri Alan Wijaya masih berkeliaran bebas. Dan kau tidak tahu malu, menunjukkan wajahmu di depanku sama saja dengan menghinaku!" Untuk kesekian kalinya Abbas berucap dengan nada suara tinggi.
"Ma-maafffff boss."
"Diam....."
Abbas berteriak sambil menarik pelatuk senjata yang ada di tangan kanannya.
"Aku bilang diam!"
"Aku tidak suka di bantah."
__ADS_1
"Bahkan jika kau bangkit dari kubur, jangan pernah membantahku."
"Kau hanya anjing peliharaan, maka tetap bersikap seperti itu."
Abbas dengan kuasanya, dan tanpa rasa bersalah menatap anak buahnya dengan tatapan kebencian, kaki pria itu mengeluarkan darah cukup banyak, dan buruknya tidak ada tanda-tanda ia akan mendapatkan pertolongan.
"Kau tahu Sky, kuda yang pincang tidak berguna lagi. Singkirkan orang-orang ini atau aku akan menghabisi mereka semua." Ucap Abbas masih dengan amarah membuncah. Ia berjalan meninggalkan ruang tengah setelah melempar senjata yang ada di tangannya ke arah Sky, asisten kepercayaannya.
Lima menit berlalu sejak Abbas meninggalkan ruang tengah, saat ini ia ada di taman belakang memberikan ajing kesayangannya makan. Baginya, anjingnya lebih berharga dari nyawa orang, itu sebabnya ia tidak merasa bersalah saat dirinya baru saja melumpuhkan anak buahnya dengan senjata impor.
"Bos, lusa akan ada perayaan besar di hotel Alan Wijaya. Semua orang akan berkumpul disana, termasuk besan Alan Wijaya. Kabarnya, putrinya akan menjadi pembicara dalam acara penting itu. Menurut bos, apa yang harus kita lakukan agar hidup Alan Wijaya berakhir besok malam?" Sky memberikan laporan pentingnya, mata-mata yang ia punya membuatnya lega.
"Kita tidak bisa melewati moment ini, Sky. Apa pun yang terjadi, aku ingin putri bajingan itu ada di hadapanku secepatnya. Aku tidak perduli bagaimanapun caranya. Jika kau gagal lagi kali ini, aku sendiri yang akan meledakkan kepalamu." Abbas menatap Sky dengan tatapan setajam belati, ia tidak bercanda dengan ucapannya, bahkan wajah tampannya terlihat di penuhi oleh energi kegelapan.
"Baik, Bos. Saya janji, kali ini bos bisa memegang ucapan saya. Sekeras apa pun usaha Gubernur bodoh itu melindungi istrinya, hal itu tidak akan bisa mencegah kematiannya." Ucap Sky tegas, ia sudah bertekad dan kali ini tidak ada yang akan bisa mencegah dirinya.
Menyusun Rencana! Hanya itu yang bisa di lakukan manusia, namun hasil akhirnya tetap ada pada yang Maha Kuasa, Allah. Bahkan jika semua manusia berkonspirasi untuk menentangmu, rencananya tidak akan berhasil tanpa seizin Rabb-mu. Jadi, tidak ada yang perlu di takuti.
__ADS_1
...***...