
Shalat!
Hanya satu kata itu yang ada di benak Matthew, dan ia ingin melakukannya begitu matanya terbuka. Sayangnya, ia tidak bisa melakukannya karena Mamanya terus saja mengoceh tentang betapa tidak setujunya ia melihat Matthew meninggalkan dirinya, keluarganya, dan keyakinannya.
Sebesar apa pun kemarahan yang memenuhi rongga dada Nyonya Dewa, disinilah ia sekarang, duduk mematung bersama suaminya di sofa, menyaksikan Matthew dan Tuan Alan Shalat berjama'ah. Dengan Tuan Alan yang bertindak menjadi seorang Imam.
Jujur, Nyonya Dewa bergidik menatap putranya dan Tuan Alan melakukan gerakan-gerakan yang menurutnya terlihat aneh. Berdiri, duduk, dan terkadang mencium kain lembut yang tidak ia ketahui namanya dan kain itu adanya di lantai.
Tiga rakaat Shalat Isya telah tercapai dan tinggal satu rakaat lagi hingga salam tiba. Tuan Alan begitu khusyuk dengan Shalatnya sampai tidak menyadari Matthew yang terlihat kesakitan luar biasa. Melihat putranya kesakitan sontak membuat Tuan dan Nyonya Dewa beranjak dari sofa. Melihat istrinya akan berteriak, terpaksa Tuan Dewa membekap mulut istrinya dengan tangan agar Shalat putranya dan Tuan Alan tidak terganggu.
Allah. Allah. Allah.
Allah. Allah. Allah.
Allah. Allah. Allah.
Matthew yang belum terbiasa dengan bacaan dalam Shalat hanya bisa menyebut satu kalimat yakni, Allah. Air matanya mengalir deras saat ia menyebut nama itu. Jiwanya seolah melayang, sekujur tubuhnya terasa seperti di tusuk ribuan pedang, sakit. Iya, Matthew kesakitan, namun ia tidak bisa mengeluh pada siapa pun, karena ia tahu rasa sakitnya akan menghapus dosa masa lalunya.
Allah. Allah. Allah.
Satu nama itu terus-menerus Matthew ucapkan sambil mengikuti gerakan akhir Tuan Alan.
Assalamu'alaikum Warahmatullah.
Assalamu'alaikum Warahmatullah.
"Pa, ada apa dengan putraku?" Nyonya Asa mulai berteriak histeris sesaat setelah Matthew dan Tuan Alan menoleh kearah kanan dan kiri.
__ADS_1
Sungguh, Nyonya Dewa sangat takut. Ia sampai berpikir akan tiada melihat kejutan besar yang tercipta di hadapannya.
"Pa, panggil Dokter. Hiks.Hiks." Nyonya Dewa memukul dada suaminya sambil terisak. Namun, saat Tuan Dewa akan pergi, Matthew menahan papanya dengan cara meraih pergelangan tangan pria yang paling ia sayangi itu.
"Hhh! Tidak, Pa!" Nafas Matthew terdengar berat, ada kilau cahaya di wajah pucatnya.
"Jangan panggil Dokter."
"Sungguh, Matthew tidak butuh Dokter, karena inilah batas ku!" Ujar Matthew sambil mengulurkan tangan ingin meraih jemari Mamanya.
"Nak Mattthew, Abi akan panggil Dokter." Saat Tuan Alan akan bergegas keluar, dengan cepat Matthew menahannya untuk tidak pergi.
"Tidak, Abi. Jangan. Aku hanya ingin seperti ini, sebentar saja tanpa menghiraukan apa pun." Lagi-lagi Matthew bersikeras tidak ingin di panggilkan Dokter.
"Abi, terima kasih telah menghadirkan Fazila dalam dunia ini. Aku merasa bahagia walaupun aku tidak bisa memilikinya. Abi tahu kan kalau aku sangat mencintainya?"
Tidak ada balasan dari Tuan Alan selain anggukan kepala pelan.
"Aku memilih jalan ini karena aku merasa bahagia. Walau Mama tidak suka, aku akan tetap menjalaninya. Aku juga berharap Mama dan Papa akan mengambil jalan yang sama seperti jalan yang ku ambil. Walau ini terdengar mustahil, tapi tidak ada salahnya kan Matthew berharap?" Matthew menggenggam tangan Mama dan Papanya dengan sangat erat seolah ini adalah perpisahan mereka.
"Mam, sekali lagi Matthew minta maaf jika selama ini Matthew selalu mengecewakan Mama. Sungguh, Matthew tidak pernah berpikir akan melakukan itu." Matthew mencium punggung tangan Mamanya sambil memejamkan mata membayangkan betapa terberkati hidupnya.
"Pa. Matthew sayang Papa. Tetaplah jadi sosok yang baik walau Matthew tidak bersama kalian. Karena sepertinya ini lah batasku. Hhh!" Matthew menggigit bibir bawahnya, ia merasakan sekujur tubuhnya terasa remuk.
Hiks.Hiks.Hiks.
"Ada apa dengam putraku?" Nyonya Dewa berteriak histeris.
__ADS_1
"Tolong panggil Dokter!" Sambung Nyonya Dewa lagi dengan lelehan air mata.
"Ti-tidak. Ja-ngan panggil Dokter!" Matthew kekeh tidak ingin di panggilkan dokter. Namun Tuan Alan yang sejak tadi melihat kondisi memperihatinkan Matthew langsung bergegas memanggil Dokter.
"Mam. Pa. Matthew akan pergi, seseorang menunggu Matthew disana!" Tunjuk Matthew sambil menatap kelangit-langit kamar inapnya, ia menatap dengan senyuman mengembang di wajah tampannya.
"Ja-jangan berkata seperti itu, Nak. Mama minta maaf karena telah memarahimu, Mama janji Mama tidak akan mempermasalahkan keyakinanmu lagi, tapi kau harus janji akan baik-baik saja." Tatapan Nyonya Dewa terlihat kosong, ketakutan akan di tinggalkan oleh putra semata wayangnya membuat Nyonya Dewa tak bisa menghentikan tangisnya.
"Nak, kau tidak boleh meninggalkan kami. Hanya kau satu-satunya harta berharga yang kami punya." Tuan Dewa yang sejak tadi terdiam kini mulai membuka suara. Ia menangis namun tidak sehisteris istrinya.
"Mam. Di laci kamar Matthew, ada sebuah surat untuk Fazila, tolong berikan padanya karena aku tidak akan bisa melakukannya. Ini permintaan terakhirku."
"Hiks.Hiks. Tidak, Nak. Tidak!" Nyonya Dewa kembali berteriak histeris, kakinya tidak bisa menopang berat badannya sehingga tubuh ramping itu langsung di topang oleh Tuan Dewa.
Dua menit kemudian, Tuan Alan, Ummi Fatimah, Fatih, Regan, Umang dan Dokter Neti memasuki kamar inap Matthew.
"Biarkan aku memeriksanya."
Allah. Allah. Allah.
Satu kata itu kembali keluar dari lisan Matthew, wajah tampannya kembali tersenyum.
"Tidak. Tidak perlu. Yang aku butuhkan sekarang agar Abi berbisik di telingaku, mengajariku kembali kalimat indah yang ku ucapkan siang tadi." Matthew menunjuk Tuan Alan, sambil meneteskan air mata.
Sungguh, tidak ada yang berani bersuara saat Tuan Alan menuntun Matthew mengucapkan dua kalimat Syahadat. Bahkan Nyonya Dewa yang sejak tadi menangis histeris hanya bisa mematung tanpa bisa menghentikan tangisnya.
Setelah membaca Syahadat, tatapan Matthew tiba-tiba menggelap. Ia tersenyum tanpa beban namun tindakannya itu justru membuat semua orang ketakutan. Dengan cepat Dokter Neti meminta semua orang menepi karena ia harus melakukan tindakan.
__ADS_1
"Maafkan kami, Tuan Matthew....!" Ucapan Dokter Neti menghilang di udara. Yang kemudian kembali di sambut oleh tangisan pilu Tuan dan Nyonya Dewa.
...***...