
Puhhh!
Asap yang bersumber dari sebatang rokok yang dinyalakan Matthew terasa memenuhi balkon Hotel tempatnya berdiri. Niat hatinya menghisap sebatang rokok hanya untuk mengalihkan perhatiannya, perhatian dari ingatan tentang gadis cantik yang sudah mencuri ketenangan jiwanya selama dua pekan ini.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Matthew mulai batuk karena asap rokok yang dia hisap terasa mencekik lehernya. Sejujurnya, dia jarang merokok. Sesekali dia akan melakukan itu saat dalam dilema. Padahal Matthew tahu merokok tidak baik untuk kesehatannya, tapi tetap saja dia melakukan itu walau tidak setiap hari.
"Aku harus apa? Aku bahkan tidak tahu namanya. Dua kali bertemu tetap saja aku tidak bisa mendapatkan informasi tentang dirinya.
Baiklah Nona pemarah, aku anggap ini sebagai tantangan untuk mendapatkan mu.
Tuhan mempertemukan kita di saat yang tepat, maka dari itu aku tidak punya kesempatan untuk menyerah apa lagi sampai mengeluh. Tunggu aku. Kita akan segera bertemu!" Celoteh Matthew sambil melempar sebatang rokok yang masih menyala ke bawah kakinya, menginjak rokok itu sampai apinya mati.
Dalam benak Matthew ada banyak rencana yang ia pikirkan. Sayang sekali, dari semua hal baik yang terbersit dalam pikirannya, ada satu masalah besar yang mengganjal di depannya, Mamanya.
Mamanya bagaikan Singa yang akan menelannya hidup-hidup jika dia tahu wanita yang di sukai Matthew adalah gadis berhijab.
Menentang? Hanya satu hal itu yang akan di lakukan wanita separuh baya itu, bahkan tanpa mempertimbangkan perasaan siapa pun dia siap mengorbankan apa pun.
"Lusa aku akan kembali ke Bali. Dan sebelum itu terjadi, aku harus bertemu dengan gadis pemarah itu. Tapi, dimana aku bisa menemukannya?
Di Hotel? Itu tidak mungkin!
Tidak mungkin aku bisa menemuinya di tempat yang sama secara tiba-tiba." Ujar Matthew sembari berjalan pelan menuju ranjangnya.
Gdebuk!
Matthew menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang, ia berbaring sambil memeluk guling. Berharap guling yang ia peluk malam ini akan berubah menjadi gadis impiannya, suatu hari nanti.
__ADS_1
...***...
"Kakak, tolong maafkan kami." Fatih menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Sepuluh menit berlalu namun rayuannya agar mendapatkan maaf dari Fazila masih saja tidak membuahkan hasil.
"Kakak, kami tahu kami salah. Kami janji kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Bukan hanya kepada Kakak, tapi pada semua gadis di kampus ini." Sambung Regan sambil memegang lengan kiri Fazila.
"Kakak, kali ini saja. Tolong maafkan kami." Kali ini Umang yang angkat suara.
Sejujurnya, Fazila merasa tidak tega menyiksa adik-adiknya. Namun tetap saja, dia harus melakukannya. Ketiga adiknya itu bagaikan belut yang sangat licin, mereka mudah minta maaf dan mudah pula mengulangi kesalahan yang sama.
"Fatih... Kakak tidak pernah membenci mu! Kau tahu sendiri, kan? Kakak sangat menyayangimu!" Di kantornya, Fazila mulai bertingkah tersakiti padahal dia sedang berpura-pura. Jauh sebelum adik-adiknya minta maaf, Fazila sudah memaafkan mereka.
"Dan kalian berdua!" Fazila menunjuk kearah adik sepupunya, Umang dan Regan.
"Jika kalian tahu Fatih melakukan kesalahan, jangan pernah mendukungnya. Kakak benci ketidak adilan.
Dan diantara kesalahan terbesar kalian, Kakak paling benci pada pria yang menggunakan kekuatannya untuk menindas wanita. Kalian bertiga telah membuktikan pada Kakak, kalau kalian hanya pria mesum yang ingin menggoda gadis tidak berdosa." Tadinya Fazila tidak berniat marah. Sayangnya, menatap wajah sok polos adik-adiknya membuanya merasa kesal. Ia sangat kesal sampai ingin menjitak kepala Fatih, Umang dan Regan.
"Di wajah ku tertulis kalau aku benar-benar insyaf. Aku juga berjanji, kalau Regan dan Umang berani mengganggu gadis lain setelah ini, maka Kakak boleh mengabaikan kami seumur hidup Kakak." Sambung Fatih lagi.
Untuk sesaat kantor Fazila berubah, senyap. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Fatih, Umang dan Regan karena mereka benar-benar tertekan dengan kondisi ini.
"Abi meminta dengan tulus agar Kakak memaafkan kalian, Kakak sendiri masih berfikir. Apa kakak harus memaafkan kalian atau tidak?" Terdapat penekanan dalam setiap ucapan Fazila.
"Kakak sudah membuat keputusan, Kakak akan memaafkan kalian dengan satu syarat!"
Fatih, Umang dan Regan saling menatap tak setuju. Bagaimana mungkin setelah usaha keras yang mereka lakukan selama dua pekan ini untuk meminta maaf akan berakhir sia-sia jika mereka tidak bisa memenuhi syarat yang akan di ajukan Kakaknya.
Ketiga pria tampan itu sangat mengenal Kakak perempuannya, jika dia sudah mengatakan akan mengajukan syarat maka itu artinya semuanya tidak akan mudah untuk mereka bertiga.
__ADS_1
"Ka-katakan apa syarat yang akan Kakak ajukan, semoga itu tidak terlalu berat."
Pletakk!
Umang menepuk lengan Regan kasar.
"Seharusnya kau tidak mengatakan itu, bodoh. Bagaimana jika Kak Fazila berubah fikiran. Terkadang kau sangat lamban untuk urusan sesederhana ini." Umang berbisik di telinga Regan. Ia tidak sadar kalau Fazila menatap mereka dengan tatapan setajam belati.
"Kenapa? Apa kalian sedang mengutuk ku di dalam hati? Atau kalian sedang meledekku? Jika kalian tidak suka dengan syarat yang akan Kakak ajukan, Okay, Fine. Kita akhiri pembicaraan ini hanya sampai disini." Ucap Fazila menahan tawa. Ia sangat suka saat menatap wajah gusar ketiga adiknya. Sedikit ancaman akan membuat mereka merasa ketakutan. Kapan lagi Fazila akan mendapat kesempatan ini, kesempatan untuk mengerjai ketiga adik tersayangnya.
...***...
Kalian bersalah padaku. Jika aku mengingat hari dimana aku terjatuh kedalam pelukan pria asing itu, rasanya aku ingin mematahkan lengan kalian bertiga.
Masih ada kekesalan dalam diri Kakak, walau demikian Kakak putuskan akan memaafkan kalian bertiga.
Syarat yang akan Kakak ajukan sangat sederhana, kalian harus minta maaf pada pria itu karena kalian juga membuatnya terjatuh. Maksud Kakak, meminta maaf pada Pak Gubernur. Itu saja. Tapi, jika kalian tidak sanggup, Kakak bisa apa?
Fatih, Regan dan Umang saling tatap tak percaya. Mengingat ucapan Kakak perempuannya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kita pulang saja!" Regan mulai membuka suara setelah turun dari mobil, kepalanya tertunduk.
"Iya, kau boleh pulang. Tapi setelah itu, jangan harap Kak Fazila akan bersikap seperti dulu padamu! Lagi pula apa masalahnya dengan meminta maaf?" Ucap Fatih sembari menarik lengan kedua sepupu kembarnya.
Umang dan Regan melongos pasrah, menggelengkan kepala lalu berjalan lurus meninggalkan area parkir menuju dua sekuriti yang berjaga di depan pintu masuk.
"Selamat siang. Kami perwakilan dari kampus, kami datang untuk menemui Pak Gubernur. Ada hal penting yang harus kami sampaikan pada Beliau, apa kami bisa bertemu? Ini darurat!" Fatih yang merasa tidak sabaran terpaksa harus berbohong.
Umang, Fatih dan Regan tampak khawatir, akankah usahanya untuk meminta maaf pada Pak Gubernur akan berjalan lancar? Atau justru sebaliknya akan mendapat penolakan? Dan yang lebih membuat ketiga bersaudara itu khawatir, apa mereka bisa menemui pria sibuk itu?
__ADS_1
Syarat dari Fazila terpaksa membuat ketiga pria muda itu melangkahkan kakinya menuju kantor Gubernur, karena keinginan untuk mengalah dan mendapatkan maaf dari Kakak perempuannya lebih ia sukai.
...***...