
Waktu menunjukan pukul 20.15 ketika Fazila menginjakkan kakinya di Hotel. Baru saja ia berdiri di depan Ballrom dan akan masuk kedalam, tiba-tiba langkah kakinya terhenti karena di cegat oleh lima orang penjaga berbadan tegap.
"Anda siapa? Anda tidak bisa masuk seenaknya tanpa surat undangan!" Tanya pria yang berdiri di depan pintu.
"Namaku, Fazila. Fazila Shekar. Suamiku ada di dalam. Dan aku lupa membawa undangannya. Apa aku boleh masuk?" Tanya Fazila dengan sopan.
Hahaha!
Bukannya memberikan jawaban untuk Fazila, kelima penjaga itu malah tertawa serentak.
"Kenapa? Apa anda tidak percaya padaku? Aku bilang suamiku ada di dalam! Seharusnya kalian bersikap sopan. Kalian tertawa? Menertawakanku?" Kali ini Fazila kembali bertanya, dengan geram.
"Hay Nona... Siapa pun bisa melihatnya, anda bukan seorang pejabat. Lalu, apa kami harus bersikap sopan padamu lantaran kau mau menerobos masuk? Pergi dari sini sebelum terjadi keributan besar." Ucap Seorang penjaga berkumis tebal, melihat tampangnya saja semua orang pasti ketakutan.
"Nona, kau itu sangat cantik. Tapi sayangnya kau tidak punya harga diri. Kau mau masuk untuk mencari pria berkantong tebal? Itu tidak akan berhasil." Ucap rekan penjaga yang lain.
Tidak punya harga diri!
Ucapan itu terus saja berputar di memori otak Fazila, penghinaan besar! Dia telah mendapatkan penghinaan besar.
Hahaha!
Kelima penjaga itu kembali tertawa, tertawa lepas. Sontak hal itu membuat amarah Fazila meluap-luap. Darahnya terasa mendidih.
Plakkk!
Satu tamparan mendarat di wajah pria jangkung berkumis tebal. Fazila yakin pria itulah yang menjadi ketua penjaga yang saat ini menertawakannya.
"Jangan omongan kalian, berani sekali kalian menuduhku seperti itu. Aku berasal dari keluarga baik-baik jadi jangan pernah tunjukan jarimu apa lagi sampai menghina ku dengan kata-kata kasar." Gerutu Fazila sambil menunjuk kearah kelima pria tidak tahu malu yang berdiri di depannya.
"Singkirkan wanita ini sebelum dia membuat keributan besar!" Bentak pria berkumis tebal, matanya memerah. Rupanya tamparan Fazila membuatnya hilang akal.
__ADS_1
Baru saja keempat pria itu akan meraih lengan Fazila, tanpa di duga seorang pria datang dan mencekal pergelangan tangan mereka.
"Singkirkan tangan kalian darinya." Bentak pria muda yang baru datang. Untung saja pintunya tertutup, jika tidak, keributan ini akan terdengar sampai kedalam.
"Pak Bima. Anda?" Fazila bertanya sambil menatap punggung Bima yang berdiri di depannya. Sedetik kemudian Bima berbalik menghadap Fazila kemudian merunduk sebagai tanda hormatnya.
Plakkkk.
Satu tamparan mendarat di pipi kanan pria yang berani mengusik Fazila.
"Apa kalian ingin tiada? Berani sekali kalian mengganggu Nyonya! Jika Pak Gubernur tahu kalian bersikap kurang ajar pada istrinya maka sudah di pasikan Pak Gubernur akan melubangi kepala kalian." Bentak Bima sambil menekan jari telunjuknya di kepala pelontos yang berdiri di depannya.
"Sekarang katakan padaku, harus ku apakan orang yang telah berani mengganggu Nyonya? Melihat wajah kalian membuat amarahku memuncak." Gerutu Bima sambil menatap tajam kearah lima pria paruh baya yang menjaga pintu masuk.
"Sudahlah, Pak Bima. Biarkan saja mereka, aku sudah menghukumnya dan Pak Bima pun sudah. Maka itu sudah cukup." Ucap Fazila dengan nada suara tegas. Walau kelima penjaga itu bersikap kurang ajar padanya, ia tidak ingin menjadi penyebab orang lain kehilangan pekerjaannya.
"Nyonya, kami benar-benar minta maaf. Kami bersalah dan Nyonya bisa menghukum kami dengan hukuman apa pun yang Nyonya inginkan. Kami janji tidak akan mengeluh, tapi kami mohon jangan katakan apa pun pada Pak Gubernur, jika tidak nasib keluarga kami yang akan jadi taruhannya."
Bukan hanya itu, kalian malah merendahkanku dengan mempertanyakan harga diriku. Jelas sekali kalian tipe orang yang akan memandang rendah orang lain lantaran status mereka lebih rendah dari pejabat yang kalian jaga. Jangan seperti itu, kita semua sama di mata Tuhan. Tugas kalian hanya bekerja dan berbuat baik pada semua orang, dan bukan menampakkan kekuatan kalian lantaran kalian lebih kuat dari siapa pun." Ucap Fazila sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Jika kalian masih ragu dengan ku, maka akan ku katakan dengan tegas. Namaku Meyda Noviana Fazila, aku putri Tuan Alan Wijaya, pemilik hotel ini. Dan nama suamiku, Refal Mahendra Shekar, Gubernur yang kalian kenal." Celoteh Fazila masih dengan nada suara tegas. Kelima pria paruh baya di depannya hanya bisa merunduk menyesal.
"Pak Gubernur menunggu Nyonya, Ayo kita masuk!" Ucap Bima mempersilahkan sebelum amarahnya kembali meluap.
Tidak ada bantahan dari Fazila, ia mengikuti langkah kaki Bima dari belakang sambil menghela nafas kasar.
...***...
Di dalam, Fazila berdiri di dekat sekumpulan gadis-gadis berpakaian kurang bahan. Netranya menatap kesegala penjuru Ballroom Hotel hanya untuk mencari satu orang.
"Nyonya tunggu disini, saya akan bicara dengan Pak Gubernur dan akan membawanya pada anda." Ucap Bima lima menit yang lalu.
__ADS_1
Namun hingga menit kesepulu Bima tak kunjung datang dan hal itu sontak membuat Fazila mulai merasa bosan.
Dari kejauhan, Fazila bisa melihat kalau Bima dan Refal sedang berjalan saling beriringan. Namun langkah kaki mereka terhenti saat seseorang menyapa mereka sambil mengulurkan tangan.
"Lihat, itu pak Gubernur. Dia benar-benar menggemaskan." Ucap seorang gadis yang berdiri tak jauh dari Fazila.
Hmm!
Fazila menghela nafas kasar mendengar sanjungan gadis yang berdiri tak jauh darinya. Yaa, itu bisa saja terjadi. Refal memang sosok sempurna yang bisa dipikirkan oleh setiap gadis yang menginginkan pendamping tanpa cacat. Tampan, kaya, berpendidikan, dan tentunya cerdas, semua itu ada dalam diri Refal.
"Iya, ku akui Pak Gubernur memang sangat tampan. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan tatapanku dari wajah tampannya. Tapi, sayangnya..." Gadis dengan baju merah menyala berkomentar sambil tersenyum menatap kearah Refal yang masih bicara dengan seseorang di tempat berbeda.
Jujur, Fazila mulai merasakan kesal mendengar sekumpulan wanita muda membicarakan prianya. Namun sebisanya Fazila bersikap tenang. Dalam hati Fazila sudah menyusun rencana akan membalas gadis- gadis itu.
"Sayangnya apa?" Kali ini gadis bergaun biru bertanya dengan wajah penasaran.
"Aku dengar, Pak Gubernur tidak menyukai wanita. Buktinya sampai sekarang dia masih melajang." Sambung gadis bergaun merah menyala itu.
Kali ini amarah mulai menuhi rongga dada Fazila, mendengar omong-kosong dari gadis-gadis itu membuat Fazila merinding.
Berani sekalian gadis-gadis aneh ini mengatakan hal menjijikkan tentang Pak Gubernur. Tidak menyukai wanita? Wahh... Aku benar-benar kesal. Bahkan aku lebih kesal pada gadis centil ini ketimbang dengan kelima penjaga tadi. Batin Fazila sambil meremas jemarinya.
"Sudah sampai? Syukurlah. Aku menunggu sejak tadi!" Ucap Refal begitu ia berdiri di depan Fazila. Senyuman menawannya menghipnotis Fazila.
Untuk sesaat Fazila menatap sekumpulan gadis-gadis yang berani mengatai Refal dengan ucapan tidak senonohnya.
Tanpa aba-aba Fazila langsung menangkup wajah Refal dengan jemarinya. Kemudian memberikan ciuman hangatnya di bibir lembut Refal. Sontak, semua orang yang melihat aksi Fazila terbelalak. Bahkan Bima yang berdiri di belakang Refal langsung menundukkan kepala.
Gara-gara mendengar ucapan sekumpulan gadis di dekatnya, Fazila seolah terpropokasi. Dia bahkan sampai melakukan ciuman perdananya di hadapan semua orang.
...***...
__ADS_1