Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Sarapan


__ADS_3

Gadis dengan tinggi 165 cm itu kini sedang berdiri mematung, kepalanya masih tertunduk. Rambut sebahu miliknya tidak bisa diam, tampaknya angin malam ini tidak membiarkannya berdiam diri. Buktinya tangan gadis anggun itu terus bergerak, menyelipkan rambut hitamnya di belakang telinga. Sesekali kepalanya terangkat, namun Ia kembali merunduk saat menyadari pria dengan paras rupawan yang berdiri di depannya sedang menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Iya, Kau benar-benar bodoh. Aku tidak pernah menyangka akan menemui gadis terbodoh di persimpangan jalan." Ujar Fatih sambil mematikan senter yang ada di tangan kirinya.


"Aku berasal dari keluarga baik-baik. Tapi... Karena ulahmu wajah tampan ku bahkan tidak selamat dari amukan orang. Aku pikir gigi ku akan copot, untunglah itu tidak sampai terjadi." Celoteh Fatih lagi, kali ini Ia meletakkan senter yang ada di tangannya di atas meja, Ia langsung duduk di bangku taman tanpa di minta.


"Ma-maaf. Aku salah."


"Tentu saja kau harus minta maaf." Balas Fatih dengan suara datar setelah mendengar ucapan spontan Melan.


"Apa kau akan memberitahukan Kakak ipar?"


"Akan ku pikirkan!" Balas Fatih dengan raut wajah tak terbaca.


"Aku mohon jangan lakukan itu! Aku tidak akan selamat." Ucap Melan sambil memelas, wajah cantiknya terlihat menyimpan ketakutan besar.

__ADS_1


"Sekarang katakan, apa alasan Mu melakukan hal bodoh seperti tadi? Jika Aku tahu alasan Mu melakukannya, akan Ku pikirkan untuk memaafkan Mu atau tidak."


"Sebenarnya, kedua temanku yang datang bersamaku memberikan dua pilihan padaku." Melan kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Kepalanya masih merunduk menahan malu, dia memang pantas malu karena perbuatan tidak terpujinya hampir saja membawa masalah bagi keluarga besarnya.


"Dua sahabatku itu memberikan pilihan, jika Aku berhasil membuatmu dalam masalah maka dia akan memberikan tiket jalan-jalan ke Eropa secara gratis." Melan berucap sambil menatap wajah tampan Fatih, pria yang di tatapnya hanya bisa menampakkan wajah datar.


"Lalu apa opsi lainnya sampai Kau berani memutuskan untuk mempermalukanku? Tidak akan mudah mendapatkan permintaan maaf dari Ku. Apa lagi untuk orang asing.


Upsss, maaf. Maksudku, walau Kau Adik dari Kakak Ipar Ku, Aku tidak akan memberikan kelonggaran." Fatih berucap sambil menunjuk Melan yang duduk terhalang oleh meja. Mengingat kejadian tadi pagi membuat amarah yang hampir mereda kembali muncul di permukaan.


Jika sudah seperti ini tidak ada yang bisa Fatih lakukan selain berusaha menahan amarahnya. Semua yang di ucapkan Melan terdengar seperti omong kosong, tanpa menatap wajah Melan lagi, Fatih langsung beranjak meninggalkan gadis manis itu tanpa menghiraukan kalau dia sedang menangis.


...***...


"Mam, Aku mau roti itu." Ucap Melan dengan wajah memelas.

__ADS_1


Melihat tingkah manja Adik Iparnya membuat Fazila tak bisa menghentikan senyumannya. Untuk pertama kalinya Ia melihat sikap kekanak-kanakan Melan. Maklum saja, dia satu-satunya anak perempuan di keluarga Shekar, dan hal itu membuatnya memiliki hak istimewa menjadi putri manja karena dia berharga.


"Pa... Lihat Kak Refal, dia meledek Ku." Kali ini Melan menunjuk Refal dengan wajah cemberutnya.


"Aku tidak melakukan itu, iya kan sayang?" Refal membantah ucapan Melan sambil mencari dukungan Fazila. Tidak ada balasan dari Fazila selain anggukan kepala pelan.


"Assalamu'alaikum, Mi, Bi, Om, Tante." Fatih menyapa tetua keluarga Wijaya dan Shekar berbarengan.


Melihat Fatih, Umang, dan Regan datang bersamaan membuat Melan tersedak oleh salivanya. Sikap manja yang tadi dia tunjukkan hilang begitu saja. Bukannya mengambil roti yang di sodorkan Nyonya Asa, Ia malah berlari seperti orang kesurupan.


"Haha! Pa, lihat putrimu manjamu, ada apa dengannya?" Nyonya Asa bertanya sambil menatap Melan yang berlari menuju kedalam Villa. Entah kenapa tawanya pecah saat melihat wajah putrinya tiba-tiba berubah memerah seperti udang rebus.


Sarapan pagi ini terasa benar-benar berbeda, dua keluarga berkumpul bersama untuk menikmati waktu luang. Semoga saja kekompakan ini tidak berakhir hanya sampai disini saja, karena masih banyak waktu yang tersisa untuk mencecap bahagia.


...***...

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa up date hari ini karena memang ada hal mendesak yang tidak bisa di tinggalkan. 🙏🙏


__ADS_2