Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kunjungan (Matthew)


__ADS_3

"Taruhan? Apa Kakak tidak salah dengar? Sejak kapan kalian melakukan itu?" Fazila yang terlanjur kesal menatap ketiga adiknya dengan tatapan tajam. Seolah tatapan itu akan menguliti ketiga pria muda yang ada di depannya.


"Itu tidak benar, Kakak. Bagaimana kami bisa taruhan? Kami masih waras dan kami masih ingin hidup." Balas Fatih cepat. Ia menyenggol kedua saudara kembarnya yakni Umang dan Regan agar menguatkan alasannya.


"I-iya, Kak Zii. Bagaimana kami bisa melakukan hal itu. Kami tidak seberani itu." Ucap Regan membenarkan.


"Kau yakin?" Fazila bertanya karena ia belum bisa percaya.


"Iya. Tentu saja. Jika Kakak tidak percaya, tanya saja Bang Refal." Sambung Umang.


Glekkk!


Refal menelan saliva, wajah yang tadinya mengukir senyuman berubah tegang. Ia tidak percaya ketiga adik iparnya akan menjadikannya sasaran empuk dari kemarahan istri cantiknya.


"I-iya. Kami hanya bermain. Tidak lebih." Celoteh Refal sambil berdiri dari sofa.


"Baguslah. Aku senang mendengarnya. Ayo kita berangkat. Ummi bilang dia akan ke Hotel bersama Abi." Ucap Fazila berbohong, ia hanya tidak ingin Refal melihat mata sembab Umminya. Jika Refal sampai bertanya ada apa dengan Ummi? Maka semuanya akan berantakan, baik Fazila atau Umminya tidak akan bisa berbohong.

__ADS_1


"Bang Refal, ingat taruhan kittt!"


Hmmpp!


Regan langsung menutup mulut Umang dengan kasar.


"Dasar payah. Kenapa kau mengatakan itu dengan lantang di depan kak Zii? Apa kau ingin tiada?" Regan berbisik di telinga Umang namun hatinya merasakan kesal.


Untunglah Refal menarik tangan Fazila hingga istrinya itu tidak bisa memberikan komentarnya.


Sementara itu di tempat berbeda Matthew sedang berkeliling meninjau Hotel dan Resort atas perintah Papanya. Sesuai dengan keputusan Papanya, ia diminta untuk mendekatkan diri dengan bisnis keluarga yang akan menjadi miliknya saat usianya genap menginjak angka tiga puluh lima tahun.


"Ini tidak perlu. Ini terlalu berlebihan." Ucap Matthew sambil melepas kalung bunga itu.


Tak jauh dari tempat Matthew, berdiri dua orang pria, yang satunya tampak seperti pria asing, dan satunya lagi pria Bali tulen, setengah tangannya bahkan di penuhi oleh tato. Mereka berdiri sambil memamerkan senyuman menawannya.


"Nona, kau harus menemani kami. Kau tidak perlu menolak karena kau akan mendapatkan keuntungan penuh." Ucap Pria yang memiliki tato di tangannya.

__ADS_1


Matthew mengerutkan keningnya, bukan karena mendengar ucapan pria itu melainkan karena tangan pria kurang ajar itu coba melecehkan pegawai wanitanya.


"Sepertinya aku pernah berada dalam posisi ini? Tapi di mana?" Matthew mencoba mengingat dimana dia pernah mengalami kondisi yang sama. Dan akhirnya usahanya untuk mengembalikan potongan ingatannya berhasil juga.


Hahaha!


Matthew tertawa lepas dan hal itu membuat karyawannya saling menatap dengan tatapan heran.


Aku rasa Tuan Matthew telah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana dia bisa tertawa lepas saat melihat ada pelecehan di Hotel keluarganya? Ini benar-benar tidak bisa di percaya. Gumam pria yang tadi mengalungkan bunga pada Matthew.


"Nona pemarahku! Kau bahkan hadir di saat tidak tepat." Gumam Matthew sambil berjalan mendekati dua pria yang tak jauh dari posisinya berdiri.


"Ehemm. Apa kau sudah selesai dengan apa yang kau lakukan?" Matthew berdiri tepat di depan pria itu.


Apa yang akan di lakukan Tuan Matthew? Aku penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya... Pria berwajah oriental itu kembali bergumam di dalam hatinya, ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hallo, Bli. Ini wilayah ku. Berani sekali kamu menggunakan tangan kurang ajar itu untuk melecehkan gadis di tempat ini." Matthew mendorong pria itu hingga membentur meja Resepsionis.

__ADS_1


Sepertinya kunjunganku ke Hotel kali ini akan membuat Papa geram. Tapi aku lebih geram melihat pria kurang ajar ini melecehkan wanita manapun! Gumam Matthew sambil melipat lengan bajunya.


...***...


__ADS_2