Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Keputusan Fazila


__ADS_3

Assalamu'alaikum... Ini dengan Fazila. Aku sudah mendengar keputusan anda, dan aku pun sudah membuat keputusan. Ayo kita bertemu. Datanglah ke Rumah Tahfidz. Kita akan bicara. Tulis Fazila dalam pesan singkatnya.


Refal terlihat senang, namun di saat bersamaan dia juga merasakan ketakutan. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain mendengar keputusan final dari gadis yang coba ia pinang. Untuk sekian lama ia menutup hatinya, kini seberkas cahaya menerangi jiwanya, dan bayangan tentang penolakan membuatnya merasakan kesedihan. Kesedihan mendalam.


Hahaha!


Lamunan Refal tentang sakitnya penolakan menghilang begitu saja setelah mendengar tawa renyah dari belasan anak-anak manis yang baru saja selesai dengan muraja'ah hafalan Qur'annya.


"Apa bahagia sungguh sesederhana itu? Kenapa anak-anak itu tertawa lepas? Apa mereka sedang menertawakan ku? Aahh, tidak mungkin!" Ucap Refal sembari menatap kearah kelas tempat Fazila mengajar Al-Qur'an.


Setelah mendapat pesan singkat dari Fazila, Refal langsung bergegas menuju rumah Tahfidz gadis cantik itu, butuh waktu Empat jam dan sepuluh menit untuk Refal agar bisa sampai di rumah Tahfidz Fazila, karena jarak dari rumah dinasnya memang lumayan jauh.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Refal menjawab salam Fazila dengan wajah yang di penuhi senyuman, padahal hatinya merasakan ketidak tenangan.


"Saya minta maaf, saya meminta anda datang, malah saya yang membuat anda menunggu. Sekali lagi maaf." Ujar Fazila menyesal. Pintu kantornya ia biarkan terbuka lebar agar terhindar dari fitnah.


"Apa Nona Fazila selalu berada di tempat ini?"


"Bisa di bilang seperti itu. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini karena anak-anak memang membutuhkan saya."


Untuk sesaat, baik Refal maupun Fazila sama-sama diam. Entah kemana sikap ganas yang selalu Refal tunjukkan. Ia hanya membisu di depan Fazila namun bibirnya tak lepas dari senyuman.


"Silahkan, kopinya!" Fazila menunjuk kopi yang ada di depan Refal. Kopi yang di bawa Maya beberapa menit yang lalu mulai dingin.


"Sepertinya itu sudah dingin, aku akan mengganti kopinya. Tunggu disini."


"Tidak, itu tidak perlu." Jawab Refal cepat, sedetik kemudian ia mulai meraih cangkir kopi yang ada di depannya, meminumnya dengan tenang walau tidak lagi mengepulkan uap panas.

__ADS_1


"Kita akan bicara pelan-pelan." Untuk sekian detik, Fazila memberanikan diri menatap wajah tampan Refal, namun di detik selanjutnya ia kembali merunduk. Rasanya tidak nyaman bagi sosok Fazila berlama-lama menatap pria yang bahkan tidak halal baginya.


"Ummi dan Abi menceritakan segalanya. Maksudku, keinginan mulia Pak Gubernur untuk mempersuntingku.


Jujur, aku sangat terkejut. Aku bahkan tidak bisa tidur setelah mengetahui segalanya. Pada jam sepuluh malam, aku terbangun kemudian melaksanakan Salat istiharah. Memohon petunjuk kepada Allah.


Pada jam sebelas malam, aku merasakan kebingungan luar biasa. Aku juga gelisah untuk hal yang tidak ku ketahui penyebabnya.


Kemudian pada jam dua belas, aku duduk disisi kiri ranjang. Rasanya dadaku akan meledak. Aku gelisah, sangat gelisah sampai tidak bisa membendung perasaanku sendiri.


Dan di detik selanjutnya, aku mencoba untuk tidur, sayangnya aku tidak bisa melakukannya, karena saat aku mulai memejamkan mata, ucapan Ummi dan Abi yang mengatakan Pak Gubernur ingin menikahiku mencuri semua ketenanganku. Apa Pak Gubernur bisa membayangkan bagaimana perasaanku?" Saat ini Fazila bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah tampan Refal.


"Iya, aku bisa merasakannya. Maafkan aku karena mengganggu ketenangan Nona Fazila." Sungguh, Refal tidak berbohong. Ia benar-benar menyesal.


"Kemudian pada jam satu, aku berdiri di balkon, menatap langit yang di penuhi oleh bintang-gemintang, berharap bisa menenangkan pikiranku. Sayang sekali, itu tidak memberikan perubahan apa pun bagi hatiku yang di landa kegelisahan." Celoteh Fazila dengan suara datar, sesekali nafasnya terdengar tak beraturan.


"Semalam, aku memaksakan diriku untuk tidur. Kemudian pada jam 2.30 pagi, aku mulai terbangun. Aku melaksanakan salat Tahajud, dan memohon petunjuk pada yang Kuasa.


Untuk sesaat kantor Fazila terasa senyap, tak sepatah kata pun keluar dari lisan Refal. Ia benar-benar tidak menyangka akibat ulahnya yang meminta waktu dua hari membuat Gadis cantik yang ada di depannya tidak bisa tidur. Refal merasa bersalah, namun entah kenapa dia juga menginginkan jawaban yang tidak akan membuatnya kecewa. Apa dia berhak melakukannya? Untuk mengalihkan perhatiannya, Refal kembali menyeruput kopinya yang sudah dingin.


"Apa Nona Fazila berpikir aku melakukan kesalahan? Maafkan aku karena memiliki pendapat berbeda."


"Tidak. Aku tidak pernah berpikir anda melakukan kesalahan, anda berani bicara dengan Abi itu artinya anda pria yang bertanggung jawab.


Hanya saja aku, sebagai wanita tidak ingin melakukan kesalahan. Bagiku menikah itu sekali dan jatuh cinta pun sekali. Karena itu aku memaksakan diriku untuk mengerti apa yang ku inginkan dan bagaimana caraku menjalani hidup di masa depan." Tak henti-hentinya Fazila memaparkan pendapatnya. Membuat Refal merasakan ketegangan tingkat tinggi.


"Jadi, setelah memikirkannya masak-masak, dan dengan mengucap Bismillah hirrahmanirrahim, saya putuskan."


Glekkk!

__ADS_1


Refal menelan saliva, menanti jawaban Fazila membuat sekujur tubuhnya terasa panas dingin.


"Saya menerima lamaran anda, mari kita lakukan. Menikah dalam dua hari." Ucap Fazila dengan suara lemah lembut. Netra teduhnya kembali bertemu dengan netra indah Refal.


Rasanya Refal akan pingsan karena merasakan bahagia sebesar ini. Tadinya dia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik jika dia di tolak. Nyatanya takdir baik berpihak padanya. Sungguh, Refal ingin berteriak dan mengabarkan pada dunia kalau dia merasa lega.


"Ja-jadi Nona Fazila setuju, dan menerima lamaranku?" Refal bertanya hanya untuk menenangkan jiwanya.


Tidak ada jawaban dari Fazila selain anggukan kepala kecil. Wajah cantik itu mengukir senyuman manis. Senyuman yang tentu saja pertama kalinya Refal lihat scara langsung.


"Haha! Aku bahagia. Terima kasih." Refal berucap sambil melipat kedua lengan di depan dada.


"Iya." Balas Fazila singkat.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Tanyakan apa pun yang Pak Gubernur inginkan? Insya Allah aku tidak akan menyembunyikan apa pun."


"Apa tempat ini didirikan oleh Nona Fazila? Tempat ini terasa sangat menenangkan!"


"Iya, Pak Gubernur benar. Tempat ini aku dirikan dengan sekuat tenaga. Tanpa melibatkan Abi di dalamnya.


Mungkin pak Gubernur bertanya-tanya, kenapa kita bertemu di tempat sederhana ini? Dan jawabannya pun sangat sederhana, hanya tempat ini yang terpikirkan olehku, tempat yang paling aman.


Sebelumnya aku berfikir untuk meminta anda bertemu di kampus, aku mengurungkan niat itu, aku tidak mau menjadi bahan gosip semua orang. Di tempat ini, kita bisa terhindar dari fitnah, dan baiknya lagi, tidak ada yang akan berbicara buruk tentang kita.


Dan satu hal lagi, setelah ini kita tidak akan bertemu tanpa di dampingi keluarga. Saya berharap Allah meridoi perjalan kita." Ucap Fazila panjang kali lebar, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada, dengan artian dia sudah selesai bicara dan sudah waktunya mereka untuk berpisah.


Refal yang mengerti maksud Fazila pun melakukan hal yang sama, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya. Akankah niat hati mereka untuk melangsungkan lamaran dan pernikahan berjalan dengan lancar? Hanya Tuhan yang tahu!

__ADS_1


Aku berani mencintai, dan aku mencintai dengan berani. Batin Refal masih dengan wajah yang tak bisa lepas dari senyuman. Ia sangat bahagia dengan keputusan Fazila, keputusan yang akhirnya menerima pinangannya.


...***...


__ADS_2