
Jika Abi tahu kau menyakitinya, Abi bersumpah Abi akan mengambil dia secara paksa darimu.
Entah kenapa ucapan singkat yang datang dari Ayah Mertuanya itu terus saja mengganggu pikiran Refal Mahendra shekar. Sekuat apa pun ia berusaha menghilangkan dari pikirannya maka sekuat itu juga ucapan itu terus menghantuinya.
Jujur, ada perasaan takut yang saat ini menghantui Refal. Takut kalau-kalau suatu hari nanti ia akan mennyakiti Fazila. Lalu Ayah Mertuanya akan benar-benar menjauhkannya dari wanita yang saat ini sangat ia cintai itu.
Huhhhh!
Refal membuang nafas kasar dari bibir sembari melipat kedua lengan di depan dada. Dinginnya malam ini bahkan tidak mempengaruhinya.
"Kau terbangun? Apa ada masalah?" Fazila bertanya sambil menyampirkan selimut tebal di bahu kekar Refal.
"Ada apa? Kelihatannya kau sangat gelisah sejak kita pulang dari rumah Ummi dan Abi, apa Abi mengatakan sesuatu yang tidak ku ketahui dan itu membuatmu gelisah? Katakan saja, aku janji tidak akan marah!" Sambung Fazila lagi. Kali ini ia memeluk tubuh Refal dari belakang.
Hmm!
Untuk sesaat, tidak ada balasan dari Refal. Ia meraih lengan Fazila yang melingkar di pinggangnya kemudian membalikkan keadaan, kali ini tubuh Fazila yang ada di depan dan Refal yang memeluknya dari belakang, tenggelam dalam satu selimut terasa sangat menghangatkan.
"Aku kepikiran ucapan Abi!"
"Ucapan Abi? Yang mana?" Fazila bertanya dengan suara lembut, ketika ia akan membalikkan tubuhnya menghadap Refal, namun dengan kuat Refal mengunci tubuh ramping itu sehingga Fazila tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Ucapan yang mana?" Tak kunjung mendapat jawaban, Fazila kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Bukannya mendengar jawaban, Fazila malah mendengar suara helaan nafas kasar Refal.
"Tetap seperti ini, sebentar saja!" Balas Refal sembari mengeratkan pelukannya di tubuh ramping istri tersayangnya. Fazila yang mendengar ucapan berat Refal hanya bisa mangut.
__ADS_1
Lima menit berlalu namun Refal tak kunjung membuka suara, tentu saja Fazila tidak tinggal diam. Ia berusaha memancing Refal dengan cara melepas tangan Refal yang masih melingkar di pinggangnya.
"Apa aku mengganggumu? Baiklah, aku akan kembali tidur!" Ucap Fazila pura-pura ngambek. Saat ia akan melangkahkan kakinya Refal kembali menariknya kedalam pelukannya.
"Aku takut Abi mengambilmu dariku, dan aku lebih takut lagi pada kenyataan kalau-kalau suatu hari nanti aku menyakitimu, aku berharap waktu akan terhenti saat ini sehingga aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyakitimu sekecil apa pun kemungkinannya." Ucap Refal pasrah. Ia menenggelamkan kepala Fazila di dada bidangnya seolah hari ini hari terakhirnya.
"Haha! Aku tidak menyangka suami cerdasku akan bertingkah seperti anak remaja." Ujar Fazila pelan, suara tawanya bahkan membuat netra Refal membulat.
"Kau tertawa? Aku bersungguh-sungguh, aku takut." Ucap Refal serius.
"Kenapa harus takut. Apa Pak Gubernur berencana akan menyakitiku?"
Refal membalas ucapan Fazila hanya dengan menggelengkan kepala. Mengisyaratkan kalau dia tidak akan pernah melakukan hal seburuk itu.
"Lalu apa masalahnya? Tidak ada kan? Jangan menakuti diri sendiri untuk hal yang belum terjadi. Kau tau Kakek Kiai di Malang?
"Abi tidak bisa melihat ku menderita karena dia sangat-sangat trauma." Ucap Fazila lagi, kali ini ia terdengar menghela nafas berat. Dan hal itu membuat Refal terlihat semakin penasaran.
"Trauma? Apa seburuk itu?"
"Iya, sangat buruk." Jawab Fazila, masih dengan suara berat. Wajah yang tadinya mengukir senyuman kini berubah masam.
"Setelah aku menceritakan segalanya, tolong jangan menatap Abi dengan tatapan berbeda. Menurutku Beliau Ayah terbaik di dunia, dan aku sangat menyayanginya." Fazila menggenggam jemari Refal berusaha untuk menenangkan dirinya, karena bagaimana pun juga, masa lalu kedua orang tuanya akan selalu menyertai setiap langkah kakinya.
"Jika terasa berat, maka jangan katakan apa pun. Aku tidak ingin menjadi alasan kau mengingat buruknya masa lalu. Aku hanya ingin agar Ratuku ini selalu bahagia." Refal menyelipkan rambut panjang Fazila di balik daun telinga.
__ADS_1
"Jika kau berpikir mengikatku dengan janji akan membuatku bahagia, maka kau tidak perlu melakukan itu. Karena tanpa kau meminta aku akan selalu berjanji untuk menuruti setiap ucapanmu." Sambung Refal lagi. Ia menangkup wajah cantik Fazila dengan kedua tangannya, sedetik kemudian ia kembali memeluk Fazila dan menenggelamkan wajah cantik itu di dada bidangnya.
Sementara Fazila? Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh kekar Refal, berharap semua rasa sedihnya menguap keangkasa bersama helaan nafas kasarnya.
"Ketika Abi masih muda, beliau punya kekasih yang sangat beliau cintai. Cintanya pada wanita itu bisa di katakan cinta luar biasa. Dan buruknya, Abi tidak bisa jauh dari wanita itu.
Cinta telah membutakan mata Abi sampai-sampai Abi tidak menyadari kalau wanita itu bukan wanita baik-baik." Fazila mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Ia melepaskan diri dari pelukan Refal sembari menghela nafas kasar. Untuk sesaat ia menatap kearah langit, gelap tak berbintang.
"Lima tahun? Lima tahun mereka bertunangan namun tidak ada balasan dari besarnya rasa cinta itu selain penghianatan.
Wanita itu menghianati Abi. Di depan Abi dia bilang cinta, dan di belakang Abi dia bersama pria lain. Bukan sekadar bersama saja, namun mereka menghabiskan waktu layaknya pasangan suami istri, tidak kuasa menahan derita karena di hianati wanita yang sangat dicintainya, Abi memilih meninggalkan segalanya.
Kekayaan dan popularitas? Semua itu tidak berguna lagi bagi Abi. Sampai akhirnya, rasa depresi itu mengantar Abi menuju Pulau Jawa." Rasanya Fazila tidak sanggup lagi menuntaskan kisah pilunya, jantungnya terasa di sayat belati. Sangat sakit sampai bernafas pun terasa sesak.
"Jika itu sulit, tidak perlu di teruskan lagi. Aku tidak mau Ratuku ini menangis." Ucap Refal dengan suara sedih. Ia menyentuh bahu Fazila kemudian membalikkan tubuh itu menghadapnya.
"Ayo kita istirahat, aku yakin jika kau terus bicara kau hanya akan membuat dirimu semakin sedih. Sementara aku? Aku tidak mau melihat Ratuku menangis." Sambung Refal lagi, kali ini dengan suara tegas.
"Sebentar saja, hanya lima menit." Balas Fazila meyakinkan, kakinya berjinjit untuk meraih puncak kepala Refal dan melayangkan kecupan hangatnya disana, hanya untuk sekian detik saja kemudian Fazila melepaskan kecupannya dari kening mulus Refal.
"Di Surabaya, hidup seorang gadis miskin bersama dengan Nenek angkatnya. Gadis itu sangat menyayangi Neneknya yang menderita Alzheimer.
Suatu hari, sang Nenek menghilang dari rumah sederhananya dan membuat gadis miskin itu berlari kesana kemari hanya untuk mencarinya, seluruh kota Surabaya ia susuri namun hasilnya ia hanya mendapati dirinya berdiri seorang diri dengan keputus asaan luar biasa." Ungkap Fazila lagi, kali ini air matanya mengalir deras membayangkan betapa menyedihkannya berada dalam posisi gadis itu, gadis yang tak lain adalah Umminya sendiri, Ummi Fatimah.
Mengurai masa lalu di depan pasangan akan terasa sangat menyakitkan, lebih baik jujur dan menceritakan segalanya dari pada menyimpannya dalam hati sebagai beban.
__ADS_1
...***...