
"Terima kasih karena Pak Gubernur sudah mengantar ku. Pak Gubernur bilang kita akan kerumah Mama sore ini kan? Isya Allah aku siap setelah Shalat Asar." Ucap Fazila begitu ia turun dari mobil dinas yang di kendari Bima.
"Ada apa? Kenapa Pak Gubernur turun?" Fazila bertanya dengan suara pelan, keningnya berkerut, ia heran melihat Refal menyusulnya turun dari mobil dan meninggalkan Bima di dalam mobil dinasnya
"Jadi ini Rumah Tahfiz tempat Nona Fazila mengajar Al-Qur'an? Tempatnya terlihat nyaman. Apa anak-anak betah tinggal disini? Katakan padaku, apa yang kalian butuhkan, Bima akan membawakannya sore ini."
"Iya, ini memang rumah Tahfiz tempat ku mengajar Al-Qur'an. Dan aku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini." Balas Fazila singkat, ia masih bingung kenapa Refal mengikutinya memasuki halaman Rumah Tahfiz dan bukannya kekantor bersama Asistennya.
"Dan satu lagi, kami tidak butuh apa-apa. Semuanya sudah ada di rumah Tahfiz, anak-anak hanya butuh tekad yang kuat untuk bisa menjadi penghafal Qur'an. Aku juga tidak mau, mentang-mentang menjadi istri seorang Gubernur lalu aku akan meminta semua hal pada anda. Aku masih punya batasan.
Tapi, jangan khawatir. Di waktu yang tepat, aku pasti akan memeras anda.
Haha. Maaf! Aku hanya bercanda!" Celoteh Fazila di sela-sela tawanya, ia terkekeh tanpa melepas tatapannya dari wajah heran Refal.
"Tidak apa-apa. Nona Fazila boleh memerasku. Aku tidak keberatan jika wanita secantik Nona Fazila yang melakukannya." Guyon Refal sambil mencubit hidung bangir Fazila tanpa rasa bersalah.
"Jangan menatapku seperti itu! Tatapan Nona Fazila menembus jantungku. Bagaimana jika jantung ku loncat keluar? Apa nona Fazila akan bertanggung jawab?" Guyon Refal lagi, kali ini ia mengedipkan mata kanannya berusaha menggoda Fazila.
Fazila yang di goda hanya bisa tersenyum tipis.
"Gombal." Celetuk Fazila sambil menepis jemari Refal dari hidung bangirnya, sebenarnya ia merasa malu.
"Apa nona Fazila merasa malu? Dan satu lagi, aku menggombali istriku sendiri, apa ada yang marah? Jika ada, katakan padaku. Aku akan mematahkan lengannya." Lagi-lagi Refal mencoba menggoda Fazila.
"Iya, baiklah. Tidak ada yang akan berani memarahi seorang Gubernur saat menggoda istrinya. Sekarang pertanyaannya, kenapa Tuan masih ada disini sementara asisten Tuan sedang menanti dengan perasaan cemas disana?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat bagaimana cara istriku mendidik anak orang lain, agar aku tahu bagaimana caranya mendidik anak kami nanti. Apa aku bisa melakukan itu?" Balas Refal sambil tersenyum tipis, ia mempercepat langkah kakinya agar Fazila tidak menayakan apa pun.
Sementara Fazila? Jangan tanya lagi keadaannya. Wajah cantiknya terlihat memerah karena untuk pertama kali dalam hidup ada orang yang berani bersikap gombal padanya.
Di dalam rumah Tahfiz, duduk Maya dengan dua gadis yang dua tahun lebih muda darinya. Terkadang mereka membicarakan sudah berapa banyak hafalan Qur'an mereka, dan terkadang mereka juga membahas sudah betapa banyak hafalan Hadis mereka sejak tinggal di rumah Tahfiz yang di kepalai oleh Meyda Noviana Fazila.
"Mbak Maya yakin Kak Zii sudah menikah?"
"Iya, tentu saja. Kak Elen yang mengatakannya."
"Bagaimana jika Kak Elen berbohong? Biasanya Kak Elen sering bercanda, aku sendiri tidak tahu kapan Kak Elen jujur dan kapan Kak Elen bercanda."
"Huss! Sembarangan kamu. Berani sekali kamu mengatakan Kak Elen bercanda. Hal sebesar ini tidak akan bisa di jadikan candaan. Lihat ini." Maya memperlihatkan bukti yang akan menguatkan ucapannya.
"Wah... Jadi benar Kak Zii sudah menikah? Aku bahagia, sangat bahagia. Semoga Kak Zii juga selalu bahagia." Ucap salah satu gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Suami Kak Zii sangat tampan, aku juga rela di jadikan yang kedua demi mendapatkannya." Guyon Maya masih dalam keadaan menatap potret yang ada di ponsel pintarnya.
"Benarkan kau ingin menjadi yang kedua? Sayang sekali, Kakak kalian ini tidak akan membiarkanku berpoligami." Ucap Refal yang sejak tadi mendengar perbincangan ketiga gadis yang ada di depannya.
"Jadi kalian ada disini dan sedang membicarakanku? Wah... Aku tidak menyangka mendengar kalian bicara dan ingin menjadi sainganku. Mimpi apa aku semalam?" Kali ini Fazila yang angkat bicara, tatapannya lurus kedepan. Sementara wajahnya terlihat memamerkan kesedihan. Sebenarnya ia berusaha menahan tawa, mendengar ucapan anak-anak didiknya membuatnya merasa geli.
"Ka-kak ada disini? Ka-kapan Kakak da-datang?" Ucap Maya gugup, dialah yang paling menyesal.
"Mmm... Kapan ya aku datang?" Fazila pura-pura berpikir serius, sementara Refal yang berdiri di samping kirinya terlihat menahan tawa.
__ADS_1
"Aku datang sejak kalian membicarakan ku. Kenalkan, dia suami Kakak." Celoteh Fazila sambil menatap wajah menyesal ketiga gadis yang ada di depannya.
"Ka-kakak aku minta maaf aku hanya bercanda." Ujar Maya.
"Tidak apa-apa, aku suka dengan candaan kalian. Ayo kita masuk sebelum Kakak kalian berubah menjadi Singa menakutkan." Ujar Refal sambil menatap wajah menahan tawa Fazila. Ia menarik lengan ketiga gadis itu kemudian berjalan meninggalkan Fazila dengan senyum menawannya.
...***...
"Jadi Nona Fazila tidur disini?" Refal bertanya sambil mengamati ruang pribadi Fazila. Tidak ada barang mewah di dalamnya, hanya terdapat lemari kecil yang terisi oleh ratusan kitab-kitab berbahasa Arab. Ada juga belasan Qur'an terjemah yang di dalamnya terdapat Asbabun Nuzul di turunkannya Al-Qur'an.
Sesungguhnya yang membuat Refal merasa sedih, ia melihat tempat tidur Fazila, tidak ada kasur empuk disana, yang ada hanya dua buah karpet cerah bergambar putri Raja dan dua buah bantal di sertai sebuah guling. Tanpa berpikir panjang Refal mencoba berbaring disana. Tidak Nyaman! Itulah kesan pertamanya.
"Iya, aku tidur disini. Bisa di bilang aku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Mengajar Al-Qur'an dan membantu anak-anak menghafalnya merupakan hal terbaik yang bisa ku lakukan.
Mungkin Pak Gubernur berpikir, kenapa aku mau melakukan ini sementara aku punya kehidupan sempurna bak putri Raja? Jawabannya sederhana, aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan warna dalam kehidupan orang lain.
Iya, ku akui aku tidak bisa mengubah dunia. Setidaknya aku sudah berusaha mengubah kehidupan anak-anak yang ada di tempat ini, sebagian besar anak-anak yang tinggal di tempat ini adalah anak-anak jalanan yang di paksa menjalani kerasnya kehidupan, menjadi mengemis di sepanjang jalan.
Pak Gubernur bisa bayangkan bagaimana kerasnya kehidupan anak-anak itu di luar sana? Dengan sekuat tenaga aku menarik mereka dalam lingkaran ini.
Dan lihatlah! Mereka semua menikmati waktunya. Membaca Al-Qur'an, menghafal dan mengamalkan isinya, itulah yang ku ajarkan pada mereka. Aku bahagia. Sangat bahagia saat melakukannya." Ucap Fazila panjang kali lebar.
Refal yang mendengar ucapan Fazila hanya bisa menganggukkan kepala pelan, perlahan Refal beringsut mendekati Fazila yang tidak terlalu jauh darinya. Ia memegang pundak Fazila, tatapan matanya seolah menjelaskan 'Aku bangga padamu dan aku bersyukur mendapatkanmu' Refal ingin mengatakan itu namun bibirnya terasa berat, entah apa yang ia pikirkan sampai berani menenggelamkan kepala Fazila di dada bidangnya, untuk sesaat mereka tidak saling bicara, hanya perasaan bahagia yang saat ini mewakili jiwanya.
...***...
__ADS_1