
"Aku tidak akan pulang, jadi jangan menungguku."
Deg.
Fazila yang baru saja melangkahkan kakinya terlihat sangat terkejut. Ucapan singkat Refal bagai sengatan listrik yang melumpuhkan raganya. Bagaimana tidak, ucapan yang tidak ingin Ia dengar justru ucapan itulah yang keluar dari lisan Refal, bahkan ucapan itu terlalu kejam untuk di dengarkan.
"A-apa? Apa Aku tidak salah dengar? Ta-tadi Pak Gubernur bilang apa?" Fazila bertanya dengan penuh hati-hati, Ia terlalu gugup untuk mendengar kata-kata yang akan keluar dari lisan Refal untuk kedua kalinya.
"Ba-baiklah. Jangan katakan apa pun, Aku akan pulang. Sekarang." Sambung Fazila sambil mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat agar Refal tidak perlu mendekatinya. Mereka berdua sama-sama dewasa namun tingkahnya terlihat seperti anak ABG yang baru saja mengenal cinta.
Itulah yang di namakan cemburu!
Cemburu itu baik jika kadarnya hanya cemburu sewajarnya saja. Karena cinta tanpa perasaan cemburu bagaikan sayur tanpa garam. Sungguh, cemburu itu buruk jika seseorang memilih untuk melampiaskan perasaan itu dengan cara menyakiti pasangannya. Jika Kau merasa cinta itu melumpuhkan akal sehatmu dan melukai jiwamu, lekas kembali pada yang maha memiliki hati agar Kau tak terluka terlalu dalam, Allah.
"Aku bilang Aku tidak akan pulang, Aku tidak bisa berada di samping wanita yang tidak bisa menjaga dirinya."
"Aku tidak tahan melihat wanita Ku mendekati atau di dekati pria lain."
__ADS_1
"Aku merasa terbakar."
"Aku juga kesal."
"Rasanya Aku ingin menghabisi pria kurang ajar yang telah berani memeluk istriku."
"Di bandingkan dengan kekesalan Ku pada pria itu, Aku lebih kesal pada-Mu. Kenapa Kau membiarkan pria itu mendekatimu, hah?" Refal berteriak kasar. Dan ucapannya terdengar bergema di indra pendengaran Fazila.
Menyakitkan!
"Apa Pak Gubernur sadar dengan apa yang barusan Pak Gubernur ucapkan? Aku terluka. Sangat terluka dengan ucapan itu. Pak Gubernur seolah mengatakan kalau Aku wanita murahan yang bisa di peluk oleh sembarang orang." Fazila berucap dengan nada suara pelan, hampir saja Ia terjatuh karena kakinya tidak bisa menopang berat badannya.
"Di bandingkan dengan kebencian Ku pada pria itu, Aku jauh lebih kesal pada Pak Gubernur karena Pak Gubernur telah berani meragukan karekterku."
"Apa Aku salah jika pria itu datang tanpa Ku duga?"
"Apa Aku salah saat Aku turun dari mobil lalu pria itu mendekatiku?"
__ADS_1
"Apa Aku salah jika pria itu mengatakan mencintaiku saat Aku sendiri tidak mengenalnya?"
"Apa Aku juga salah datang kemari dan ingin mengadukan masalah ini pada suamiku agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kami?" Air mata yang sejak tadi Fazila tahan akhirnya tumpah juga. Tidak ada pergerakan dari Refal yang saat ini berdiri di depannya.
"Ternyata Aku salah. Aku salah karena mengadukan masalahku pada petugas pemerintah. Dan Aku juga salah karena Aku tidak tahu ternyata suamiku tetaplah seorang Gubernur yang lebih mempercayai bukti dari pada ucapan istrinya sendiri."
Fazila menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Ia kembali menatap Refal dengan tatapan nelangsa. Berharap pria Rupawan itu akan menenangkannya dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Lebih dari ucapan maaf, Fazila lebih membutuhkan pelukan hangat dari seorang Refal Mahendra Shekar.
"Jangan bergadang. Pulanglah jika Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu." Fazila berjalan mendekati Refal yang masih berdiri mematung, Ia menyisir rambut Refal yang berantakan dengan jemarinya.
"Kau bilang Kau tidak ingin berada di samping wanita sepertiku. Tidak apa-apa jika Kau marah padaku, tetap pulang, Aku janji Aku tidak akan menunggumu seperti yang biasa Ku lakukan." Ucap Fazila penuh penekanan. Ia melayangkan kecupan singkatnya di pipi kanan Refal kemudian beranjak meninggalkan Refal sendirian.
Pernikahan!
Dalam menjalani hubungan di antara dua insan yang berbeda pemikiran, akan selalu ada perdebatan-perdebatan kecil yang akan mewarnai hubungan itu. Apa pun masalahnya, jangan sampai hubungan itu berakhir hanya karena amarah yang di kedepankan.
...***...
__ADS_1