Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Tidak percaya (Part2)


__ADS_3

"Apa aku tidak salah dengar?" Fazila bertanya hanya untuk menyakinkan hatinya, walau dia tidak dekat dengan Matthew, namun ketiga adik lelakinya dan kedua orang tuanya tahu betul nilai Matthew dalam keluarga Wijaya.


Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan. Untuk sesaat Fazila dan Refal sama-sama terdiam. Begitu banyak kenangan indah yang Matthew tinggalkan, begitu pria itu pergi semua orang menahan kesedihan mendalam.


"Aku iri pada Matthew!"


"Kenapa iri?" Fazila mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Matthew menggemparkan semua orang dengan keputusannya untuk bersyahadat."


"Sayang, kau tahu?"


"Ribuan pasang mata menatap Matthew dengan tatapan kasih sayang. Ribuan hati mendoakan Matthew agar selalu istiqomah di jalan yang ia ambil, dan ribuan pasang telinga juga mendengar Matthew mengucap Syahadat. Pria itu pergi setelah menunaikan Shalat perdananya, Shalat pertama dan terakhirnya, Shalat Isya." Ujar Refal panjang kali lebar. Sungguh, ia benar-benar iri pada Matthew.


"Aku bahagia untuk Matthew. Dan aku lebih bahagia lagi karena seorang Gubernur tampan adalah suamiku. Apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku? Maksudku, merasa beruntung memiliki istri yang cantik dan baik hati." Seloroh Fazila sembari menggelitik pinggang Refal.

__ADS_1


Refal yang mengetahui Fazila-nya sedang menggodanya hanya bisa tersenyum lega.


Ini lah untungnya memiliki istri Shalihah, mereka begitu mudah membalik keadaan, dari sedih menjadi bahagia. Maka tak salah saat orang mengatakan wanita Shalihah itu lebih berharga dari perhiasan dunia.


"Sayang, apa kau tahu? Matthew titip pesan untuk Mu!" Fazila berucap tanpa melepas senyuman menawan dari bibirnya, mereka saling menatap dalam bahagia.


"Pesan untuk ku? Apa?"


"Matthew bilang kau harus menjagaku."


"Dan Jangan menyakitiku. Karena jika kau sampai menyakitiku, akan ada ribuan pria seperti Mattthew yang akan mengambil ku dari mu. Itu yang dia katakan." Fazila mulai mengabarkan beritanya sembari menatap Refal yang masih mengerutkan keningnya.


"Kau menertawakan ku?"


"Kalian berdua sama saja! Aku tidak ingin bicara dengan mu!" Refal merajuk sambil membuang muka kearah kiri, padahal ia hanya bercanda namun Fazila menanggapinya dengan serius.

__ADS_1


"Haha. Maaf. Aku tidak bermaksud menertawakan Refal ku. Hanya saja..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya. Sungguh, ia hanya ingin menggoda Refal-nya, jadi jangan salahkan dia. Bukankah saling menggoda itu sangat menyenangkan?


"Hanya saja apa?" Refal bertanya sambil memegang dagu Fazila. Ia menatap wanitanya dengan tatapan penuh cinta, berharap wanita yang ada di depannya selalu bahagia.


"Hanya..." Ucapan Fazila menghilang di udara saat sang Gubernur tampan membungkam bibir wanitanya dengan bibirnya. Mereka saling meluapkan kerinduan, berbagi rasa dalam ciuman yang memabukkan.


"Itu hukuman untuk mu karena telah berani menertawai seorang Gubernur handal seperti ku." Tunjuk Refal pada dirinya sendiri.


Muach.


Refal kembali melayangkan kecupan di bibir tipis istri cantiknya. Hanya sekilas, kemudian ia kembali memeluk tubuh ramping Fazila. Refal ingin melakukan lebih dari sekedar ciumam, namun ia tidak bisa melakukannya karena ia tahu Fazilanya baru saja sembuh dari sakit yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Matthew pergi dan meninggalkan kenangan indah di hati kita. Walau tidak dekat, aku sangat menghormatinya. Aku masih tidak percaya dia pergi secepat ini.


Aku sangat berterima kasih padanya. Aku merasa ringan setelah bicara dengannya. Itu hanya mimpi, tapi semuanya terasa nyata.

__ADS_1


Justru sekarang aku mengkhawatirkan Tuan dan Nyonya Dewa. Aku berharap mereka baik-baik saja, di tinggalkan oleh putra semata wayangnya pasti sangat menyakitkan." Fazila terlihat sedih, ia bahkan sampai meneteskan air mata, ia masih tidak percaya akan kepergian Matthew yang masih meninggalkan kesedihan mendalam.


...***...


__ADS_2