
Tak jauh berbeda kondisinya dengan Matthew, Refal pun merasakan kecewa. Ia kecewa karena sikap acuhnya pada Fazila, Ia juga merasa kecewa pada dirinya sendiri karena masa lalu hampir saja menorehkan luka untuk masa depannya. Fazila.
Dua jam berlalu namun Refal masih saja memilih untuk tetap duduk di dalam mobil yang Ia parkir di dalam garasi rumah dinasnya, padahal Ia tinggal masuk dan menyelesaikan salah paham antara dirinya dan Fazila, entah kenapa egonya yang berkuasa. Apa sesulit itu mengucapkan Aku mencintaimu? Aku minta maaf. Atau sekedar berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukankah memberikan pelukan dan usapan lembut di kepala jauh lebih baik dari pada sekedar menyimpan amarah yang terpendam?
Dalam cinta tidak ada kebencian. Dan selama masih ada kasih dan sayang, itu akan selalu mengeratkan hubungan di antara dua anak manusia yang berbeda pemikiran.
"Apa yang Ku lakukan disini? Sebaiknya Aku masuk lalu memeluknya."
"Tidak. Aku tidak bisa memeluknya seolah tidak terjadi apa-apa. Aku yang salah karena membentak tanpa menjelaskan akar masalahnya. Agar mendapat maafnya, seharusnya Aku memberikan sesuatu yang spesial. Tapi apa?" Refal berucap sambil berpikir keras. Tiga bulan bersama Fazila masih saja belum bisa membuatnya mengenal wanitanya lebih dalam.
"Bunga!"
"Iya, jawabannya bunga." Refal tersenyum penuh kemenangan. Baru saja Ia akan pergi untuk mencari penjual bunga namun akal sehatnya menghentikan niatnya.
"Hmm! Tengah malam, Refal. Ini sudah tengah malam. Kemana Kau akan mencari bunga? Dasar payah!" Refal menggerutu sambil mengetuk-ngetukkan kepala di sandaran kursi kemudi.
"Ahhh, iya. Aku ingat, Fatih bilang tidak sulit membujuk Kakaknya."
__ADS_1
"Baiklah, akan Ku coba. Tapi sebelum itu, Aku harus memetik bunga di taman belakang, setangkai mawar sudah cukup untuk meredakan amarahnya, semoga saja Fazilaku sudah bisa melupakan ucapanku."
Refal Berjalan menuju taman belakang dan memetik beberapa tangkai mawar, karena kecerobohannya, Ia bahkan membuat tangannya tertusuk duri. Cinta memang seperti itu, rasa sakit tidak akan terasa apa bila sudah bertekad untuk membuat yang tercinta bahagia.
Dan saat ini Refal sudah berada di dalam rumah, tangan kanannya memegang beberapa tangkai bunga, semua lampu terlihat menyala itu artinya Fazilanya ada di rumah, baru saja menaiki anak tangga tiba-tiba tatapannya mengunci pada satu titik, sofa.
Di sofa itu ada Fazila yang sedang tertidur. Entah Ia tertidur pulas atau sedang berpura-pura tidur, Refal benar-benar tidak bisa menebaknya.
"Fazilaku ada disana." Ujar Refal sambil tersenyum.
Perlahan Refal mulai berjalan mendekati sofa, Ia juga duduk di atas meja depan sofa dan mensejajarkan dirinya dengan kepala Fazila.
"Kau sedang tertidur? Bagaimana bisa? Disini Aku merasa tidak bisa bernafas karena merasa gugup."
"Aku gugup karena Aku takut tidak bisa menatap matamu. Aku juga gugup karena Aku terlalu takut tidak bisa mengatakan Aku minta maaf dan Aku mencintaimu." Celoteh Refal sambil menggenggam jemari lentik Fazilanya.
"Ternyata, Aku yang salah. Benar kata Bima, Aku tidak perlu mengenang masa lalu karena sekarang Kau adalah masa depanku."
__ADS_1
"Tanpa Aku sadari Aku mulai membuka hati. Walau Aku tidak pernah mengatakannya, Tuhan tahu saat Aku menyakitimu Aku jauh lebih menderita dibanding dirimu.
Di hadapan Ummi dan Abi, Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia, tapi lihatlah apa yang Ku lakukan sekarang? Aku menyakitimu dengan jiwa dan ragaku. Maafkan Aku." Refal mengangkat kepala Fazila dan meletakkannya di atas pangkuannya. Menatap wajah Fazila sedekat ini benar-benar membuatnya merasa tenang.
"Aku menyesal, sangat menyesal." Refal kembali meneteskan air mata, namun di detik selanjutnya Ia mulai mencium puncak kepala Fazila.
"Malam ini Aku mengizinkan kepalamu berada di pangkuanku, di lain waktu Aku pastikan akan mendapatkan bayaran dari semua ini." Ujar Refal sambil tersenyum.
Malam kian larut namun tak ada tanda-tanda kalau Fazila akan terbangun dari mimpi indahnya. Dalam keadaan ini Refal justru merasa di untungkan, Ia tidak perlu menatap wajah sedih Fazila, karena istrinya itu terlihat seperti kelinci manis jika sedang tertidur.
"Untuk bahagiamu, apapun itu Aku akan mengusahakan. Mungkin bila ada seratus survey orang tersabar, Aku masuk dalam daftar, sebab mencintaimu adalah kesabaran terindah. Dan bagiku, adalah hal yang paling penting memastikan Kau tidak terluka, sebab apapun itu, jika untuk bahagiamu, maka tak masalah bagiku." Ucap Refal percaya diri. Refal menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan dari bibir.
"Dan pada akhirnya, Aku selalu berusaha menemukan bahagia seluas semesta, dan bagiku senyummu adalah semesta bagiku."
Refal tidak membiarkan jemarinya berdiam diri, sesekali Ia mengusap kepala Fazila dan di kesempatan lain Ia mulai memainkan hidung bangir milik istrinya.
Refal tahu wanitanya sangat sedih, karena itulah Ia tidak membiarkan dirinya untuk mengganggu tidur lelap Fazilanya. Biarkan esok datang membawa kabar bahagia, dan Refal pun berjanji kejadian di kantornya tadi tidak akan pernah terulang kembali.
__ADS_1
...***...