Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Rahasia Matthew! (Part2)


__ADS_3

Fatih menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan tatapan pasrah. Ia pasrah Fazila akan memberinya hukuman karena berani meninggalkan kelas pagi ini. Sejujurnya, pagi ini Fatih, Umang dan Regan akan mempersentasikan tugas di depan kelas. Karena Matthew, kini Fatih terancam tidak akan lulus dari mata kuliah yang di pegang Kakak perempuannya, Fazila.


"Sebenarnya, aku jatuh cinta pada seorang gadis cantik penyejuk mata, Mama tidak suka itu dan aku pun tidak bisa mengendalikan hatiku untuk tidak mencintainya." Ucap Matthew memulai kisahnya. Kepalanya tertunduk, Ia prustasi. Sungguh, saat ini Ia merasa ketakutan. Ia takut Fatih akan bersikap kasar padanya jika Ia memberitahukan siapa gadis yang di cintainya.


"Aku tidak tahu dari mana datangnya cinta sebesar ini? Aku tahu aku salah. Dan aku juga tahu aku tidak boleh melakukan hal ini. Aku merasa sesak. Sekarang katakan padaku, bagaimana caraku bangkit dari rasa sakit ini?" Matthew bertanya sambil bangun dari ranjang, ia duduk di sofa samping Fatih yang saat ini menyimak keluh kesahnya.


"Aku jatuh cinta padanya saat aku membaca namanya di sebuah surat kabar. Aku penasaran tentangnya saat aku tahu kebaikannya dari orang terdekatnya. Dan aku semakin jatuh cinta saat aku menatap wajah cantik itu.


Sungguh, aku tidak berbohong. Aku benar-benar mencintainya dan cinta ini murni datang dari hatiku, bukan dari nafsuku." Ucap Matthew dengan penuh penekanan, Ia berusaha memberitahukan lawan bicaranya betapa besar kesedihannya lantaran cinta tak berbalas yang Ia rasakan. Ini memang menyedihkan, namun harus bagaimana lagi, cinta tidak selamanya merasakan bahagia karena dalam cinta terkadung derita juga. Dan buruknya, saat ini Matthew sedang merasakan derita mendalamnya. Namun percayalah, tidak ada derita yang bertahan lama, karena selalu ada bahagia yang akan menyertainya.


"Aku terlambat mengungkapkan perasaanku padanya, aku menghilang tanpa jejak, kemudian aku kembali setelah dia mengikat janji dengan yang lain. Melihatnya bahagia, aku juga merasa bahagia. Namun, saat melihatnya ada di depanku, bersama dengan yang lain membuatku merasakan cemburu, dan rasa cemburu ini melumpuhkan akal sehatku.


Sekarang katakan, apa yang harus ku lakukan agar cinta ini tidak melukai hati dan pikiranku? Aku tersenyum di hadapan orang lain, dan saat aku sendirian aku mulai menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya." Matthew memamerkan wajah prustasi, dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Siapa nama gadis beruntung itu? Apa aku mengenalnya?" Fatih bertanya sambil menatap punggung Matthew.


Glekkk!


Matthew menelan saliva, pertanyaan Fatih membuatnya terkejut. Ia sangat terkejut sampai hampir terjatuh. Ia tidak menyangka Fatih begitu terburu-buru ingin mengetahui siapa gadis yang selalu memenuhi siang dan malam seorang Matthwew Adyamarta.


"Aku tidak bisa memberitahukan namanya!"


"Aku tidak bisa melihat kebencian di matamu!"


"Kau keluarga sekaligus sahabat terbaikku." Matthew bicara, namun Ia tidak berani menatap wajah penasaran Fatih.


"Rasa sakit itu muncul saat seseorang berusaha menahan derita di hatinya. Rasa sakit itu akan berkurang saat orang itu membagi luka, resah dan gelisahnya pada seseorang yang Ia percaya. Karena Bang Matthew tidak percaya padaku, tidak apa-apa.

__ADS_1


Lakukan semua hal positif yang bisa membuat Bang Matthew teralihkan. Insya Allah, rasa sakit itu akan menghilang jika kita mencoba mengabaikannya." Ujar Fatih sok bijaksana.


"Bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku terlalu takut."


"Aku takut kau akan marah karena wanita yang kucintai itu adalah Ka...." Ucapan Matthew tertahan di tenggorokannnya. Ia kembali menatap Fatih yang masih terlihat penasaran.


"Wanita yang ku cintai itu tak lain adalah Kakak mu sendiri, Nona Fazila..." Ungkap Matthew sambil bersiap untuk menerima kemarahan atau pukulan dari Fatih.


Rahasia yang coba Matthew simpan serapi mungkin akhirnya Ia uraikan juga. Tidak ada yang bisa Matthew lakukan selain berdiri mematung di dekat tirai pembatas antara balkon dan kamarnya. Fatih pun demikian, wajah tampannya terlihat tak suka dengan apa yang Matthew ungkapkan barusan.


Fatih ingin meninju wajah tidak tahu malu pria rupawan yang berdiri jarak sepuluh langkah darinya, namun di bandingkan dengan perasaan kesalnya, Matthew jauh lebih terluka karena perasaan cinta tak berbalasnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2