
Acara makan malam sekaligus kumpul keluarga berlangsung hingga pukul sepuluh malam, kali ini Matthew bertugas mengantar kedua orang tuanya hingga tiba di hotel dengan selamat.
Sejak meninggalkan Mansion Wijaya, Matthew terlihat tak bersemangat. Bahkan saat Papanya bertanya tentang Bisnis yang di tanganinya, Matthew hanya menjawab seadanya. Maklum saja, hati dan pikirannya sedang tidak fokus. Masalah hati telah membuat seluruh siang dan malamnya jadi berantakan.
"Matthew, Mama ingin bicara!"
"Matthew, Mama bilang Mama ingin bicara."
"Sejak kapan kamu berubah menjadi anak pembangkang?"
Matthew menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu, Ia berbalik kemudian menatap wajah Mamanya yang di penuhi amarah.
"Apa begini caramu bersikap pada orang tua?"
"Kenapa Mama tidak tiada saja sebelum Mama melihatmu bertingkah bodoh." Omel Nyonya Dewa sambil mencengkram lengan Matthew kasar.
"Apa kau mendengar ucapan Mama? Jawab Mama Matthew?" Kali ini Nyonya Dewa berteriak sambil mendorong tubuh kekar Matthew hingga membentur pintu.
"Sudahlah, Ma. Matthew bukan anak kecil lagi!" Balas Matthew sambil menghentakkan kaki. Ia tidak ingin berdebat.
__ADS_1
"Mama tidak perlu bertindak sekasar ini." Celoteh Matthew lagi, tidak bersemangat. Ia kembali masuk dan duduk di sofa. Untung Papanya belum kembali dari menemui asisten Tuan Alan di Restoran yang terletak di lantai dasar Hotel.
"Apa kau tidak merasa malu pada Papamu? Kenapa Kau terlibat pada perasaan bodoh yang hampir menggiringmu kedalam kenistaan. Hentikan semua ini Matthew, hentikan!" Nyonya Dewa kembali berterik, kali ini ia menarik kerah kemeja Matthew, tatapannya sangat tajam sampai membuat tubuh Matthew bergetar. Untuk pertama kalinya Matthew melihat amarah Mamanya meledak.
"Ma, aku tidak bisa mengontrol hatiku dengan siapa dia memilih jatuh cinta. Aku mohon, Ma. Biarkan seperti ini, lagi pula Mama sudah tahu sekeras apa pun usaha ku untuk meraih hatinya, itu akan tetap menjadi usaha yang sia-sia. Mengetahui semua ini membuatku hampir gila." Ujar Matthew dengan nada suara pelan, ia terlalu prustasi sampai tidak bisa mengontrol dirinya.
Begitu besar cinta yang memenuhi rongga dadanya, namun sayangnya Ia bahkan tidak bisa mencicipi manisnya cinta itu. Terlalu besar duka yang ada dalam kisahnya, dan buruknya Matthew tetap memilih bertahan dengan cinta tak berbalasnya. Menyedihkan, hanya satu kata itu yang pantas menggambarkan kondisi Matthew saat ini karena memang seperti itulah gambaran hidupnya
"Mama yang sial karena memiliki putra yang cengeng sepertimu. Ada begitu banyak wanita di semesta dan kenapa harus dia?" Keluh Nyonya Dewa sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Mama akan kembali ke Bali, besok. Mama tidak perduli lagi jika kau mau menghancurkan hidupmu." Nyonya Dewa beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ranjang dan meninggalkan Matthew dengan semua kekalutannya.
"Sayang..."
Refal menggenggam erat jemari Fazila yang sejak tadi memijit kepalanya. Maklum saja, sejak mereka sampai di rumah dinas, Refal mulai mengeluhkan kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kau tidak mengantuk? Sudah tengah malam." Ucap Refal memecah keheningan. Ia menarik Fazila kemudian mendudukkan tubuh ramping itu di atas pangkuannya.
"Bagaimana aku bisa mengantuk saat aku mengetahui belahan jiwaku sedang kesakitan." Fazila mengeratkan pelukannya di dada telanjang Refal.
__ADS_1
"Sesibuk apa suamiku sampai dia tidak bisa bercukur?" Fazila mengusap lembut wajah tampan suaminya, bibir tipisnya mengukir senyuman.
"Maaf, apa terlihat buruk?"
"Tidak. Aku suka." Balas Fazila dengan wajah yang masih mengukir senyuman.
"Seperti apa pun Refalku terlihat, aku akan tetap jatuh cinta padanya. Bahkan cinta ku akan terus berkembang tidak lapuk di makan zaman." Sambung Fazila lagi, hanya pujangga yang mengerti makna cinta.
"Haha! Aku merasa tersanjung mendengarnya. Terima kasih." Refal semakin mengeratkan pelukannya. Ia bahkan tidak perduli suhu di kamarnya semakin dingin. Pelukan erat Fazila menghangatkan jiwa dan raganya.
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Segalanya." Balas Refal sambil memejamkan mata, ia tidak ingin bicara lagi karena yang ia inginkan hanya menikmati malam yang indah ini dengan Fazilanya.
Apa aku harus bertanya? Bagaimana bila Fazilaku merasa tersinggung? Aku tidak ingin melihatnya bersedih. Seharian tidak bisa melihat senyumannya membuat hidupku berada dalam kegelapan. Batin Refal sambil mengelus kepala Fazila yang masih tertutup kain penutup kepala.
"Apa aku boleh bertanya?" Refal kembali membuka suara setelah ia memikirkannya dengan matang.
Bukannya menjawab pertanyaan Refal, Fazila malah semakin mengeratkan pelukannya, sofa yang ia duduki sebagai saksinya kalau dirinya hanya ingin menghabiskan malam yang indah ini tanpa perlu berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
...***...