
Dua tahun kemudian.
Di Ballroom Hotel milik Tuan Alan. Kumpul ribuan tamu undangan untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan Tuan Alan dan Ummi Fatimah yang ke dua puluh dua tahun, sekaligus merayakan Milad pertama Baby Ahza.
Semua orang duduk dengan tenang sembari menatap kearah depan, menatap sosok Gubernur tampan yang saat ini sedang bicara panjang lebar. Iya, Refal terus saja bicara sejak ia mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara malam ini. Terkadang ia melempar guyonan ringan yang membuat para tamu undangan terkekeh tanpa beban.
Hidup kaku Refal berubah seratus delapan puluh derajat semenjak Fazila memasuki kehidupan datarnya, dan sampai kapan pun Refal akan selalu mensyukuri setiap moment indahnya bersama Fazilanya, wanita terbaik yang pernah ia temui di semesta.
"Kalian bertanya-tanya kenapa aku selalu saja menyanjung Fazila?" Refal melempar pertanyaan singkatnya pada para tamu undangan.
"Cinta!" Jawab salah seorang tamu yang duduk di meja belakang.
"Iya, anda benar. Jawabannya hanya satu, yakni cinta. Aku jatuh cinta pada Fazila putri Tuan Alan Wijaya sejak kami terikat pada tali pernikahan.
Semakin aku mengenalnya, semakin besar cintaku untuknya. Jadi, jangan pernah katakan aku hanya pria bodoh karena terlalu menyanjung istri yang ku nikahi kurang dari lima tahun.
Aku tidak perlu menunggu lima tahun untuk mengetahui sebosan apa diriku bersamanya. Tapi yang benar, aku hanya ingin menghabiskan setiap waktu ku bersamanya, bahagia bersamanya, menangis bersamanya, bahkan saling menguatkan di saat yang paling menakutkan." Refal tersenyum penuh arti, ia menatap semua tamu undangan dan tatapannya berakhir di meja tempat Fazila duduk bersama kedua orang tuanya.
Fazila yang mendengar sanjungan bertubi-tubi dari suaminya tak bisa menahan senyumannya. Untuk pertama kali Refal menyanjung dirinya sambil meneteskan air mata, itu menandakan betapa besar nilai seorang Fazila, mengetahui hal itu membuat Fazila merasa tersanjung dan berbunga-bunga.
"Kata orang jodoh itu tercipta di Surga. Itu... Mungkin saja. Karena setahuku, Fazila ku titipan dari Surga, begitulah Ummi dan Abi memanggilnya.
Dan aku percaya Fazila ku memang titipan dari Surga. Berkat dirinya, Ummi dan Abi di persatukan dalam mahligai penuh cinta. Dan berkat dirinya aku bangkit dari derita, cintanya mampu menyembuhkan luka, pesonanya melumpuhkan jiwa. Dimana pun dia berada, dia selalu menebarkan cinta. Cintanya semurni embun di pagi hari. Dan akhlaknya tak tertandingi. Maka pantaslah teman kami Matthew mengatakan cintanya membawa berkah."
Mendengar nama putranya di sebut, Tuan dan Nyonya Dewa tampak sedang meneteskan air mata, teramat besar kerinduannya. Dan rasa rindu itu hanya bisa ia luapkan saat mereka duduk di atas sajadah, memanjatkan doa untuk putra tersayangnya tanpa bisa menahan lelehan air mata. Semenjak Matthew tiada, hidup Tuan dan Nyonya Dewa terasa hampa, mereka kehilangan arah dan tujuan, tidak ada semangat dalam kehidupan. Namun, lagi-lagi nasib baik berpihak padanya. Dan dua bulan yang lalu, Tuan dan Nyonya Dewa secara serempak memutuskan menjadi Mualaf, mengikuti jejak putra tersayangnya, Matthew Adyamarta.
__ADS_1
Sesuai dengan wasiatnya, tak jarang Fatih dan si kembar Umang dan Regan memutuskan untuk berkunjung ke Pulau Dewata, menghambiskan waktu bersama Tuan dan Nyonya Dewa sehingga mereka bisa melupakan dukanya.
"Dalam hidup ini aku sangat di berkati, keluarga yang harmonis, dan tentunya istri yang cantik dan baik hati." Ujar Refal untuk kesekian kalinya.
"Sayang, I love you." Refal berucap sembari menunjuk kearah meja tempat Fazila dan putra berharganya berada. Kehidupan mereka terasa semakin sempurna saat Baby Ahza Gibran Rafisqy Shekar lahir kedunia.
Fazila benar-benar tidak bisa menahan senyumannya, ucapan Refal terlalu menenangkan untuk dirinya yang di penuhi cinta. Fazila pantas bahagia karena ia adalah bintang malam ini.
Pesta malam ini berjalan dengan lancar, acaranya berakhir hingga pukul 23.30 malam. Sayangnya, Fazila tidak bisa berkumpul bersama keluarga yang lain hingga selarut itu karena Baby Ahza mulai rewel.
...***...
Jatuh cinta dan mencintai, itu adalah kodrat dari setiap manusia. Karena memang, tanpa cinta hidup akan selamanya hampa. Selamanya.
"Aku akan memarahinya."
"Lihat saja nanti, aku benar-benar akan memarahinya."
"Ck. Apa yang ku katakan? Bagaimana aku bisa berpikir akan memarahi Refal ku saat aku sendiri sangat mencintainya." Celoteh Fazila sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Tanpa Fazila sadari, lengan kekar mulai memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh, Fazila tahu siapa yang datang, karena aroma Parfum yang munguar dari sang pemilik tubuh itu terasa menenangkan.
"Refal ku datang!"
"Kenapa selarut ini?" Protes Fazila sembari menatap arlogi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
__ADS_1
"Maaf." Refal berbisik dengan lembut.
"Aku ingin lari kearah Fazila ku secepat yang ku bisa. Sayangnya, tangan dan kaki ku terikat karena beberapa pekerjaan datang tanpa di duga." Ucap Refal membela diri. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepala Fazila di dada bidangnya, seolah hari esok tidak akan tiba dan ia tidak ingin malam ini berlalu dengan cepat.
"Apa baby Ahza rewel? Aku harap tidak!" Ujar Refal sambil melepaskan pelukannya. Ia khawatir Baby Ahza akan membuat Fazilanya kelelahan.
"Sebaiknya, kita mencari pengasuh untuk baby Ahza, aku tidak ingin Fazila ku sampai sakit." Sambung Refal lagi, wajah tampannya memamerkan ketakutan.
"Tidak akan. Maksudku, aku tidak menginginkan pengasuh. Baby Ahza harus tumbuh di bawah pengawasan Mommy-nya, dan aku akan memastikan dia menjadi pria yang hebat dan bertanggunga jawab." Ucap Fazila santai.
"Kau Mommy-nya, kau mengandungnya, di bawah pengawasan wanita sebaik Fazilaku, aku yakin putra kita akan tumbuh menjadi pria yang jauh lebih baik dari Mommy dan Daddy-nya." Sanjung Refal penuh kenyakinan.
Baby Ahza anak yang sangat aktif, di usianya yang baru menginjak sepuluh bulan dia mulai pandai berjalan, dan sekarang, saat usianya menginjak satu tahun Fazila harus menjaganya dengan hati-hati.
Ya Allah... Begitu besar karunia yang kau berikan untukku. Sungguh, tidak ada yang kurang dalam hidupku. Aku memiliki pendamping hidup yang sangat baik, putra yang lucu dan pintar. Gumam Fazila di dalam hatinya sembari mengingat perjalanan hidupnya. Saat masih kecil, ia di ledek karena tidak memiliki sosok ayah yang bisa di andalkan. Namun berkat cahaya Al-qur'an semua kebahagiaan datang tanpa terduga.
Ya Allah... Ummi selalu menyebutku sebagai Fazila Titipan dari Surga, tapi malam ini, aku bermohon agar menjadi wanita yang selalu menebar cinta, bisa di teladani dan bermanfaat bagi semesta.
Terima kasih untuk karunia kehidupan luar biasa ini, menjadi Hafizah Qur'an adalah hal terbaik yang ku lakukan dalam hidupku, aku merasa bahagia dan aku merasa di berkati. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan? Batin Fazila sembari mengeratkan pelukannya. Karena malam semakin larut, Refal menggendong Fazila untuk istirahat di samping Baby Ahza, Malaikat kecil yang membawa bahagia dalam hidup mereka yang penuh cinta.
Malam ini berjalan dengan indahnya, sebuah cerita tentang cinta yang menggetarkan jiwa. Yang selalu terkenang karena keindahannya.
..."TAMAT"...
...***...
__ADS_1