
"Biasanya Aku tidak pernah melihat wanita manapun dengan tatapan benci ataupun amarah. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya Aku mengutuk wanita sepertimu.
Aku merasa kasihan pada wanita yang melahirkanmu. Memiliki putri sepertimu adalah kutukan baginya."
Dada Fazila bergemuruh. Rasanya Ia ingin menjambak rambut wanita paruh baya yang berdiri di depannya. Ternyata usia tua tidak lantas membuat orang bersikap dewasa, karena sejatinya usia hanyalah angka.
Huh!
Fazila membuang nafas kasar, hingga saat ini Ia masih berusaha keras menahan amarah yang ada di hatinya. Sungguh, ucapan omong-kosong yang keluar dari mulut wanita paruh baya di depannya itu membuat seluruh pori-pori tubuh Fazila di penuhi amarah, Ia merinding.
"Nyonya, Aku tahu anda marah. Apa Aku bisa bertanya?"
"Sebenarnya anda siapa?"
"Tidak mungkin anda semarah ini jika anda tidak memiliki keluhan terhadapku."
"Tapi, setidaknya biarkan Aku tahu anda siapa dan apa alasan anda marah-marah terhadapku? Aku tidak bisa memaki orang jika Aku sendiri tidak kenal orang itu. Bukan begitu?" Fazila balas menatap wanita itu, namun bukan dengan tatapan kebencian, lebih tepatnya Fazila merasa kasihan.
"Tutup mulut Mu." Ucap Wanita paruh baya itu dengan nada suara tinggi, tatapan matanya setajam belati. Melihat hal itu tidak membuat Fazila gentar ataupun ketakutan, karena sesungguhnya hanya pada Allah lah Ia berserah diri.
"Kamu bicara seolah tanpa dosa, melihat penampilanmu membuatku ingin muntah. Aku memperingatkanmu, jauhi putraku atau Aku akan membuatmu menangis darah selama sisa umurmu."
__ADS_1
Kini semuanya tampak jelas bagi Fazila, kesabaran yang dari tadi ia pertahankan akhirnya runtuh juga. Bagaimana tidak, orang asing menuduhnya dengan tuduhan hina. Menggoda putranya?
"Ckckck! Apa ini?" Ucap Fazila sambil memijit kepalanya yang tidak sakit.
"Nyonya, Aku berusaha bersabar karena anda tamu di tempat ini. Sepertinya sikap diamku semakin membukakan anda ruang untuk menghinaku. Tapi sekarang tidak lagi." Ucap Fazila dengan suara lemah lembut.
Jika ada yang bertanya kenapa Fazila masih bersikap lembut saat dirinya dihina? Maka jawabannya karena Ia seorang muslimah pecinta Qur'an, dalam islam Ia di ajarkan untuk bersikap lemah lembut, karena kelembutan selalu mendatangkan cinta. Bukan seperti sikap kasar, kekasaran hanya akan melahirkan dendam dan permusuhan, dan Fazila bukan orang yang seperti itu.
"Pertama, anda tidak berhak menghinaku, karena kita baru saja bertemu. Kedua, Aku tidak kenal siapa putra anda dan Aku tidak pernah menggodanya. Aku wanita terhormat dan berasal dari keluarga terhormat, Aku tidak akan melakukan perbuatan nista itu." Ujar Fazila menjelaskan, Ia benar-benar tidak tahu dari mana kesalahpahaman ini bermula, yang jelas Fazila merasa di rendahkan. Jika orang lain yang berada di posisinya, sudah pasti mereka akan terlibat berdebatan sengit.
"Cukup, Ma. Cukup."
"I-iya. Beliau Mama ku!"
"Katakan pada Mama Mu, jika dia ingin marah, jangan melampiaskan amarahnya padaku. Setiap ucapan yang beliau tujukan padaku benar-benar membuatku terluka." Fazila menunjuk Matthew sambil menghela nafas berat.
"Kau berani bicara seperti itu tentangku pada putra Ku? Kau benar-benar wanita tidak tahu malu. Aku jadi sadar ternyata tidak semua manusia bersikap seperti manusia. Kau bahkan tidak layak untuk hidup."
"Cukup, Ma."
"Mama benar-benar keterlaluan." Matthew menarik tangan Mamanya dengan kasar dari mukena yang di gunakan Fazila. Buruknya, wanita paruh baya itu terlalu kesal sampai Matthew kesulitan untuk melerainya.
__ADS_1
"Aahhh!" Fazila berteriak. Ia terpental, untungnya tubuh rampingnya di tangkap hingga tidak terjatuh membentur pot bunga yang berada di sisi kanan halaman depan.
"Pa-pak Gubernur. Anda disini?" Fazila bertanya sambil menatap Refal yang saat ini menahan tubuh rampingnya.
"Tentu saja Aku disini karena istriku berada dalam masalah." Ucap Refal ketus sambil menatap dua orang di depannya, Matthew dan Mamanya.
"Berani sekali kalian mengganggu istriku! Harusku apakan kalian, hah?" Refal berteriak kasar. Rasanya Ia ingin menghukum dua orang menyebalkan yang berdiri di depannya, hanya saja Fazila berusaha keras untuk menghentikannya.
"Pak Gubernur, hentikan. Aku mohon, jangan. Jika kita ribut disini Ummi dan Abi akan merasa malu karena tamunya di perlakukan tidak hormat." Ucap Fazila sambil menarik lengan Refal.
Bukannya Fazila bertindak sok baik. Hanya saja, Ia benar-benar tidak ingin masalah ini sampai ketelinga kedua orang tuanya.
"Dengarkan Aku Nyonya, Aku tidak kenal anda, begitu juga dengan putra anda." Fazila menatap Matthew dan Mamanya secara bergantian. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakannya.
"Jika anda berpikir Aku telah merayu putra anda, maka anda salah besar. Dan perlu anda ketahui, pria tampan yang berdiri di sampingku ini adalah suamiku." Aku Fazila dengan bangga, karena itu memang kebenarannya.
"Lain kali, anda tidak perlu marah-marah. Bertanya dengan cara baik-baik jauh lebih mulia dari pada memaki orang tanpa tahu kebenarannya."
Setelah mengatakan semua yang ada dipirannya, Fazila tersenyum tipis sembari menggenggam mesra tangan Refal untuk mengikuti langkahnya memasuki Mansion utama. Fazila tahu, membiarkan Refal berada terlalu lama di depan orang yang telah menyakiti istrinya akan berakibat buruk bagi mereka. Menarik Refal sesegera mungkin adalah satu-satunya cara meredam amarahnya.
...***...
__ADS_1