Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Memeluk Fazila (Refal)


__ADS_3

"Aku akan shalat, jika Pak Gubernur bertanya dan mencariku, katakan padanya aku ada di kamar sebelah."


"Tapi Nyonya, bagaimana jika anda terlambat karena belum di Make up?" Seorang Mua bertanya sambil menatap wajah Fazila dengan tatapan heran. Tangannya ingin menarik Fazila agar tidak perlu kekamar mandi dan mengambil Wudhu.


Meyda Noviana Fazila! Umminya memberinya nama seperti itu agar ia di kenal sebagai putri yang setia, selalu memberikan cahaya di manapun dia berada, dan tentunya tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


"Mbak, aku hanya ingin Sholat. Bukan masuk kekolam Buaya sehingga Mbak tidak bisa bertemu dengan ku lagi." Balas Fazila dengan raut wajah menahan kesal. Seorang Mua yang di sewa Nyonya Asa, atau tepatnya Ibu Mertuanya terlalu berisik. Sejak mereka bertemu Mua itu selalu saja memamerkan wajah cemberutnya. Entah apa yang salah dengan wanita di depannya ini sehingga membuatnya terlalu berisik.


"Dan satu lagi, dalam keyakinan ku. Kami di perintahkan untuk bersujut atau Sholat lima kali dalam sehari, jadi sekarang aku akan melakukan kewajiban ku. Jangan cegah aku." Sambung Fazila dengan nada suara lemah lembut.


"Ba-baik Nyonya." Balas Mua itu dengan wajah merunduk. Ia tampak menyesal.


Mmm!


Suara deheman yang bersumber dari depan pintu membuat lamunan Fazila buyar, lamunan tentang pembicaraannya dengan seorang Mua satu jam yang lalu.

__ADS_1


"Masya Allah. Luar biasa."


Fazila menoleh kearah pintu, ia tersenyum sambil berdiri dari atas ranjang.


"Sempurna!" Sanjung Refal lagi. Ia bahkan tidak bisa mengedipkan mata, menatap sosok indah di depannya.


Malam ini Fazila menggunkaan Ball Gown, ia tampak seperti putri kerajaan. Jujur, itu pilihan Ibu mertuanya, atau tepatnya Nyonya Asa, Mamanya Refal.


Belakangan ini, Ball Gown memang banyak di pilih parangantin untuk tampil Stunning di momen istimewanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ini terlihat buruk?" Fazila bertanya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Ini terlihat indah Dan tidak ada yang salah!" Sambung Fazila lagi. Tidak ada jawaban dari Refal selain memamerkan senyuman menawan miliknya.


"Aku tidak pernah mengatakan itu buruk! Aku tidak bisa bicara karena aku terpesona. Aku terperangkap dalam kecantikan seorang Meyda Noviana Fazila." Ucap Refal sambil menarik pinggang ramping Fazila.

__ADS_1


"Sekarang katakan, apa yang harus ku lakukan jika kau secantik ini? Aku tidak ingin Bidadariku ini di tatap oleh semua mata.


Jika aku bisa aku ingin membawa mu jauh dari tempat ini. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu karena aku tahu Mama ku yang baik hati akan berubah sangar seperti Singa." Keluh Refal lagi sambil menempelkan dahinya di dahi mulus Fazila.


Fazila tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menanggapi ucapan sederhana Refal namun terdengar sangat merdu di telinganya.


"Aku terlihat indah dan memesona karena kau yang menatapnya." Fazila berucap sembari menangkup wajah tampan suaminya.


"Kau juga sangat memesona, semua gadis pasti akan bergetar saat melihatmu berjalan di depannya. Untungnya semua yang ada dalam dirimu adalah milikku." Sambung Fazila lagi, ia memeluk Refal sangat erat sampai-sampai tidak ada celah bagi sosok lain untuk memasuki hubungan indah mereka.


"Mmm! Apa Mama mengganggu kalian? Apa Mama boleh masuk?" Nyonya Asa berdeham untuk mencairkan suasana. Ia berdiri di samping besannya, yakni Ummi Fatimah.


"Sayang, sudah waktunya masuk ketempat acara. Semua tamu menunggu kedatangan kalian."


Refal dan Fazila saling menatap dengan tatapan malu-malu. Mereka bertingkah seperti pencuri yang tertangkap basah oleh sang empunya rumah. Maklum saja Nyonya Asa dan Ummi Fatimah memergoki mereka saat saling memeluk dalam pelukan mesra.

__ADS_1


...***...


__ADS_2