
Nyonya, tidak ada yang terjadi. Tadi itu Pak Gubernur hanya berbisik kalau dia ingin menyanyikan lagu cinta untuk Nyonya.
Kesal!
Hanya satu kata itu yang kini memenuhi rongga dada Refal. Ia sangat kesal mengingat ucapkan Bima setengah jam yang lalu. Seandainya Refal bisa mengulang waktu, ia tidak akan membiarkan Bima mengatakan ucapan yang tidak bisa ia lakukan di depan Fazila.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Selamanya!"
"Jangan katakan itu di depanku. Sama seperti tubuh ini bisa berubah menua cinta pun bisa layu seiring waktu."
"Tidak akan."
"Pak Gubernur, selamat."
Refal tersentak, Ia tersenyum sambil menatap wajah pria paruh baya yang ia kenal sebagai Wali Kota. Lamunannya tentang Hilya seolah menguap keangkasa. Haruskah ia bahagia karena Pak Wali Kota membuyarkan lamunannya tentang Hilya? Atau ia harus berterima kasih karena menyadarkannya kalau sekarang yang ada hanya Fazila? Entah kenapa ingatannya tentang Hilya bangkit begitu saja. Rasanya Refal ingin memaki dirinya sendiri karena Ia begitu lemah jika berhubungan dengan masa lalunya.
"Terima kasih, Pak." Balas Refal singkat.
Lima menit kemudian Refal kembali duduk di kursi pelaminan, ia menatap wajah lelah Fazila karena sudah tiga jam mereka duduk atau berdiri, menyalami tamu undangan.
"Kau tahu, kan? Aku paling suka saat melihatmu menyanyikan lagu cinta untukku?"
Refal menganggukkan kepala.
"Kau harus berjaji di depanku?"
"Janji? Untuk Apa?" Refal kembali bertanya, keningnya berkerut, menandakan ia tidak begitu paham dengan ucapan gadis cantik yang duduk di depannya.
"Kau harus berjanji, kau tidak boleh bernyanyi untuk wanita lain selain diriku. Aku tidak ingin itu terjadi, karena bagiku Kau milikku dan semua yang ada dalam dirimu adalah hak Ku, bukan hak wanita lain. Bahkan jika aku tiada, Aku akan kembali dan melihatmu dari Surga, aku akan memastikan apa kau setia padaku atau tidak?"
__ADS_1
Glekkk!
Refal menelan saliva dengan kasar, mengingat pembicaraan singkatnya dengan Hilya membuatnya berkeringat dingin.
Bima? Rasanya Aku ingin mematahkan kedua lengan Mu. Bisa-bisanya Kau menempatkanku dalam posisi sesulit ini. Refal menggerutu di dalam hatinya sambil menatap wajah tersenyum Fazila.
"Selamat malam semuanya.... Saya tahu saat ini anda sedang berbahagia. Tapi, malam ini saya berniat akan menambah kebahagiaan anda." Bima berucap dengan penuh percaya diri, ia menatap tamu undangan namun tangannya menepuk bahu pembawa acara yang berdiri di dekatnya.
"Bukankah Anda bertanya-tanya berita apa yang Saya bawa?" Bima kembali membuka suara dan di sambut oleh wajah heran semua orang.
"Oohh... Maaf! Saya bicara terlalu banyak, kita bahkan belum berkenalan. Baiklah semuanya.... Nama Saya Bima. Bima. Saya asisten dari Bintang kita malam ini. Atau tepatnya Saya Asisten Pak Gubernur Refal Mahendra Shekar.
Sebelum saya menyampaikan apa yang ingin Saya katakan, saya ingin mendengar tepuk tangan meriah dari semua hadirin yang ada di tempat bahagia ini." Bima berucap dengan semangat penuh.
Prok.Prok.Prok.
Tanpa menunggu lagi semua orang bertepuk tangan penuh bahagia. Mereka layaknya kerbau yang di cocok hidungnya. Bima memintanya bertepuk tangan mereka malah mengikutinya dengan suka rela. Melihat semua ini membuat Refal merinding.
"Malam ini... Pak Gubernur akan menyanyikan lagu cinta hanya untuk belahan jiwanya yakni Nyonya Meyda Noviana Fazila.
Selamat Nyonya, akhirnya berkat anda Kami bisa mendengar suara emas Pak Gubernur lagi." Bima terlihat antusias, entah apa yang dia pikirkan sampai berani mengerjai Refal.
Hal yang paling Refal benci adalah menyanyi. Tapi kali ini asistennya malah mengerjainya sedemikian rupa. Jika Refal di tanya hukuman apa yang akan ia berikan untuk membalas Asistennya? Maka jawabannya ia sendiri sedang memikirkannya, memikirkan hukuman terburuk yang bisa ia berikan untuk si payah Bima yang telah berani mengusik waktu bahagianya.
Tunggu saja. Aku pasti akan memberikanmu kejutan yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu. Batin Refal sembari tersenyum licik kearah Bima.
Tanpa berlama-lama, Refal langsung berjalan kearah Bima dan mengambil Mikrofon dari tangan Asistennya itu. Ia tersenyum namun tidak dengan hatinya.
Aku sudah berjanji tidak akan bernyanyi lagi tanpa kehadiran Hilya di sisiku. Tapi, saat ini? Aku terpojok, aku merasa seolah sedang berada di medan tempur yang mengharuskan Ku untuk menerima keadaan ini walau Aku tidak menyukainya. Refal kembali bergumam di dalam hatinya, kali ini Ia menatap wajah tersenyum Fazila yang saat ini sedang duduk di kursi pelaminan, sendirian.
__ADS_1
"Kata orang, cinta itu datang dari mata kemudian turun ke hati. Tapi aku tidak seperti itu. Cintaku untuk wanita yang duduk di sana..." Refal kembali menatap wajah tersenyum Fazila sambil menunjuk kearahnya.
"Cinta Ku pada wanita itu lebih besar dari persangkaanku. Malam ini, Aku akan mengatakannya.
Aku tidak suka bernyanyi dan Aku sudah lama meninggalkan aktivitas itu. Tapi, tanpa seizinku Asistenku mengatakan kalau Aku akan bernyanyi.
Fazila ku...! Walau Aku tidak suka bernyanyi, tapi demi dirimu Aku akan melakukan segalanya. Karena hari ini dan selamanya Aku akan selalu tunduk di bawah pengaruh cintaku. Cinta yang tidak bisa Ku ukur kedalamannya." Refal berucap sambil tersenyum, tentunya bukan senyum yang di paksakan. Ada setitik kesedihan di hatinya lantaran mengenang Hilya, kenangan buruk karena gadis itu belum mendapat keadilan setelah sekian tahun kepergiannya.
Sedetik kemudian alunan merdu musik mulai mengiringi suara lembut Refal.
From my youngest years till this moment here. I've never seen such a lovely queen. From the skies above to the deepest love. I've never felt crazy like this before.
Paint my love, you should paint my love. It's the picture of a thousand sunsets. It's the freedom of a thousand doves Baby you should paint my love.
Untuk sejenak, Refal menatap wajah semua orang yang ada di depannya kemudian beralih menatap wajah cantik istrinya yang tampak seperti putri Raja.
Fazila melambaikan tangannya kearah Refal, dari raut wajah cantik itu Refal bisa membaca kalau istrinya sangat terpesona dan bahagia dengan apa yang saat ini Ia lakukan.
Been around the world, then I meet you girl, it's like coming home to a place I've known. Pain't my love, you should paint my love. It's the picture of a thousand sunsets.
It's the freedom of a thousand doves. Baby you should paint my love. Since you come into my life, the days before, all to black and white.
Since you come into my life, everything has changed. Paint my love, you should paint my love.
Suara merdu Refal masih terdengar, suara lembutnya membelai lembut lubuk hati terdalam Fazila. Lagu indah yang merupakan luapan dari hati Refal itu benar-benar berhasil membuat cinta Fazila semakin besar dan semakin besar untuk suaminya Refal Mahendra Shekar.
Terima kasih untuk segalanya. I Love You Gubernur tampanku. Batin Fazila sembari bertepuk tangan.
...***...
__ADS_1
Happy Reading๐ค
NB: Yeay, setelah 3 hari off, akhirnya Update juga ๐ . Terima kasih buat yang masih setia menunggu yaa. Cium dan peluk banyak-banyak untuk kalian. ๐๐ค