FOR 365

FOR 365
104


__ADS_3

" Apa kata dokter Dad ?! "


Vio bertanya pada Gaffar yang sudah kembali ke ruangan putrinya di rawat . Pria parubaya itu hanya tersenyum , sebisa mungkin ia menyembunyikan semua yang ia rasakan .


Dunianya hancur ketika melihat putri kesayangannya terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan seperti saat ini . Kekuatan dan kekuasaannya tak akan mampu menyembuhkan putri yang ia rengkuh sedari dia lahir .


Wajah ceria ' ratu ' nya menjadi bias sedih yang selalu menyembunyikan rasa putus adanya dengan selalu tersenyum padanya . Vio tidak pernah sekalipun mengeluh sakit ketika menjalankan semua prosedur untuk penyembuhannya .


" Mereka dokter terbaik sayang , kau pasti akan cepat sembuh " jawab Gaffar dengan mencium sayang kepala putrinya .


" Apa mereka berkata sesuatu tentang dia Dad !? " Vio mengelus lembut perutnya yang terlihat masih rata .


Berkali kali Gaffar menghembuskan nafas panjang , sangat sulit mengatakan hal ini pada putrinya .


" Mereka berharap kau melepasnya sayang , karena prosedur penyembuhanmu akan terlalu beresiko untuk dia dan dirimu sendiri . Jiwa kalian sama sama terancam jika kau tetap mempertahankannya .. "

__ADS_1


" Tidak !! Aku mencintainya , dia adalah hidupku ... dia akan baik baik saja Dad ! Aku akan menjaganya agar nyaman disini . Hei princess kau akan selalu berjuang dengan ibu kan !? " ujar Vio seakan berbicara dengan anak yang dia kandung .


Gaffar menengadahkan kepalanya agar air yang membendung di sudut matanya tidak keluar , ia tidak mau terlihat lemah di depan putrinya . Dia ingin menjadi seorang ayah yang bisa memberi rasa nyaman pada putrinya .


Dia tak bisa membayangkan betapa keras dan sulitnya perjuangan yang akan di alami putri dan calon cucunya . Jika di ijinkan untuk memilih dia ingin menggantikan posisi putrinya di ranjang pesakitan itu .


Dia lebih pantas berada di sana karena sudah terlalu banyak dosa yang dia perbuat semasa mudanya . Bahkan dia sudah mengorbankan banyak nyawa demi meraih kekuasaan . Banyak hati yang sudah ia lukai .


" Menangislah Dad ! Menangislah hanya untuk kali ini . Karena setelah ini aku hanya akan berpegangan padamu , kalian yang akan menjadi sumber kekuatanku . Sakitku tak akan bisa membunuhku tanpa ijinku ... "


" Sayang ... "


Gaffar menciumi tangan putrinya yang selalu pantang menyerah . Sejak kecil Vio tak pernah menunjukkan sisi manjanya pada siapapun termasuk mendiang istrinya yang mengidap penyakit yang sama .


" Kau akan sembuh sayang ... kita akan rawat putrimu bersama sama . Kita akan melihat dia tumbuh besar menjadi gadis cantik sepertimu . Kita akan melihat dia menemukan pria yang dia cintai dan menikah ... "

__ADS_1


" Dia masih sebesar biji jagung Dad ... "


Mereka tertawa bersama sama , Vio senang melihat semangat Daddynya sudah kembali . Dia bukan wanita bodoh yang tidak tahu dengan penyakit yang ia derita .


Rambutnya sudah mulai rontok itu artinya mungkin dia sudah di stadium yang cukup parah . Tapi ia tak peduli , ia bahkan akan melawan kematiannya untuk bisa melahirkan kehidupan baru .


Melahirkan tanda cintanya pada seorang laki laki bernama Wicaksono . Pria sederhana yang mampu menaklukkan hatinya . Pria yang menunjukkan rasa cintanya dengan hal hal sederhana .


" Princess ... bertahanlah disana , ibu mencintaimu " lirih Vio dengan memandang gambar pria yang ia cintai .


*


DEGGHH ... DEGGHHH


Sono memegangi dadanya yang tiba tiba berdebar dengan sangat keras .

__ADS_1


" Son , kau baik baik saja kan !? " tanya Dewa yang melihat Sono meremat dadanya sendiri .


" Aku tidak tahu , tapi dadaku terasa sakit ... aku merasa dia membutuhkan aku saat ini "


__ADS_2