
Gaffar hanya menggeleng gelengkan kepala ketika putri bungsunya melesat keluar dari kamar hotelnya . Dia tahu persis kemana Vio ingin pergi .
Dari kecil Violetta adalah gadis yang keras kepala , dia tak mau terlihat lemah bahkan didepannya ataupun kedua kakak laki lakinya yang sangat memanjakannya . Gadis itu ingin terlihat mandiri dan kuat karena dia tahu dia adalah salah satu putri dari mafia terkuat di jamannya .
Violetta segera pergi ke tempat di mana sang Daddy ' membereskan ' orang yang sudah dianggap mengganggunya . Dia memang membenci Sono karena telah mengambil kehormatannya , tapi membunuhnya bukanlah hal yang ia inginkan .
Sampai di gedung apartemen ia segera berlari ke lantai apartemen milik Sono . Kebetulan semalam ia meminta tolong pada salah satu kepercayaan Daddynya untuk memberikan alat yang bisa digunakan untuk membuka segala pintu .
Kini ia tahu kenapa Sono bisa dengan mudah memasuki apartemennya kala itu . Wakil CEO Adipraja itu pasti juga memiliki alat yang sama seperti yang ia miliki sekarang .
BRRAAKKKK ...
Dengan nafas terengah engah Vio membuka pintu dengan keras . Tapi ia tidak melihat satu orang pun di sana . Perlahan ia berjalan ke sofa ruang tamu , air matanya mulai keluar membanjiri pipinya . Sungguh , bukan ini yang dia harapkan !
Pagi tadi ia diam diam datang ke apartemen Sono untuk mengantar sarapan . Bukan karena ia jatuh cinta pada pria itu , tapi sebatas simpatinya pada sesama . Vio mendengar bahwa Sono masih kesulitan menggerakkan tangannya .
Vio duduk di sofa dengan dua tangan menutup wajahnya , ia mulai terisak . Dia tak bisa membayangkan dengan cara apa Daddynya menghabisi Sono .
" Hei ... kau ingin mencuri di rumahku ?? Kenapa harus dia kali masuk diam diam begini !!? "
Vio mendongak dan menoleh ke arah sumber suara , seorang pria berdiri di sana dengan rambut setengah basah dan hanya mengenakan celana training panjang tanpa menggunakan atasan .
" Kau masih hidup ?? "
" Ckk .. pertanyaan macam apa itu . Aku tahu kau pasti berharap tidak lagi melihatku , tapi sayangnya aku baik baik saja Nona !! " ujar Sono sambil melangkah mendekat ke arah Vio yang masih duduk di sofa dan memandangnya nanar .
__ADS_1
" Tapi ... tidak mungkin " Vio menggeleng gelengkan kepalanya , tak mungkin pria di depannya masih hidup . Bukankah tadi Daddynya sudah membereskannya ?
Hatinya juga sedikit berdesir melihat dada bidang dan perut liat di depannya , ia masih ingat bahwa tangannya pernah menyentuh dan menggila di bawahnya .
" Apa yang tidak mungkin ?? "
Sono berjalan menuju kotak P3K yang ada di dekat dapur dan menyerahkannya pada gadis yang masih terpaku melihatnya .
" Lukaku berdarah lagi , tadi aku buka kain kasanya ketika mandi tapi malah jadi seperti ini " tunjuk Sono pada luka bekas sayatan pisau yang mengeluarkan darah cukup banyak .
" Kan bisa kalau mandi bagian yang ini jangan kena air dahulu , jadi berdarah begini "
Tanpa sadar Vio menarik lengan Sono hingga pria itu meringis kesakitan .
" Awwsshh ... "
Sono menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar , setelah menarik tangannya gadis itu mulai mengambil kapas dan membersihkan lukanya terlebih dahulu .
" Seribu kali lebih sakit ketika kau mengambilnya dariku !! Kau menyebalkan !! "
" Aku tahu ... maaf ! Arrghhh .... "
Vio membasuh dan menekan luka itu dengan cairan anti septik agar tidak infeksi , hatinya bersorak senang ketika Sono meringis kesakitan . Setidaknya ia bisa membalas perlakuan dari pria itu .
" Apa kau bertemu dengannya tadi ?? "
__ADS_1
" Daddymu !? "
Vio tak menjawab saat ini ia sibuk membalut luka itu dengan kain kasa , Sono bisa melihat bahwa gadis di depannya sangat terampil menangani lukanya .
" Pagi tadi dia kesini , dia datang setelah putrinya diam diam mengantar sarapan untukku " goda Sono hingga membuat wajah cantik itu merona .
" Fitnah ... jangan mengada ada " tukas Vio .
" Beliau sangat baik , beliau menantangku bermain itu ... " Sono menunjuk permainan catur yang tergeletak di meja ruang tamunya .
" Tiga kali kami bermain ... "
" Dengan taruhan kan ?! "
" Gadis pintar !!! Jika dia menang maka dia memintaku untuk melepasmu . Sangat wajar , sebagai seorang ayah beliau pasti tidak ingin melihatmu selalu terluka ketika berada di sampingku . Tak ada seorang ayah yang ingin putrinya bersanding dengan b*jingan sepertiku "
" Dan jika kau menang ?? "
" Maka dia akan mengabulkan satu permintaanku , kurasa dia seperti.jin di lampu ajaib " kekeh Sono yang langsung disambut tatapan sinis dari gadis di depannya .
" Dan siapa diantara kalian yang menang ?? "
Vio sangat tahu tentang Daddynya , Gaffar adalah pemain taktik dan permainan catur adalah salah satu permainan favorit pria parubaya itu . Hal yang tidak mungkin jika Sono mampu mengalahkan Daddynya .
" Apa kau akan melepaskan aku !!?? "
__ADS_1
" Apa kau sangat ingin aku melepasmu ??? "