FOR 365

FOR 365
83


__ADS_3

Gaffar hanya menggeleng gelengkan kepala ketika putri bungsunya melesat keluar dari kamar hotelnya . Dia tahu persis kemana Vio ingin pergi .


Dari kecil Violetta adalah gadis yang keras kepala , dia tak mau terlihat lemah bahkan didepannya ataupun kedua kakak laki lakinya yang sangat memanjakannya . Gadis itu ingin terlihat mandiri dan kuat karena dia tahu dia adalah salah satu putri dari mafia terkuat di jamannya .


Violetta segera pergi ke tempat di mana sang Daddy ' membereskan ' orang yang sudah dianggap mengganggunya . Dia memang membenci Sono karena telah mengambil kehormatannya , tapi membunuhnya bukanlah hal yang ia inginkan .


Sampai di gedung apartemen ia segera berlari ke lantai apartemen milik Sono . Kebetulan semalam ia meminta tolong pada salah satu kepercayaan Daddynya untuk memberikan alat yang bisa digunakan untuk membuka segala pintu .


Kini ia tahu kenapa Sono bisa dengan mudah memasuki apartemennya kala itu . Wakil CEO Adipraja itu pasti juga memiliki alat yang sama seperti yang ia miliki sekarang .


BRRAAKKKK ...


Dengan nafas terengah engah Vio membuka pintu dengan keras . Tapi ia tidak melihat satu orang pun di sana . Perlahan ia berjalan ke sofa ruang tamu , air matanya mulai keluar membanjiri pipinya . Sungguh , bukan ini yang dia harapkan !


Pagi tadi ia diam diam datang ke apartemen Sono untuk mengantar sarapan . Bukan karena ia jatuh cinta pada pria itu , tapi sebatas simpatinya pada sesama . Vio mendengar bahwa Sono masih kesulitan menggerakkan tangannya .


Vio duduk di sofa dengan dua tangan menutup wajahnya , ia mulai terisak . Dia tak bisa membayangkan dengan cara apa Daddynya menghabisi Sono .


" Hei ... kau ingin mencuri di rumahku ?? Kenapa harus dia kali masuk diam diam begini !!? "


Vio mendongak dan menoleh ke arah sumber suara , seorang pria berdiri di sana dengan rambut setengah basah dan hanya mengenakan celana training panjang tanpa menggunakan atasan .


" Kau masih hidup ?? "


" Ckk .. pertanyaan macam apa itu . Aku tahu kau pasti berharap tidak lagi melihatku , tapi sayangnya aku baik baik saja Nona !! " ujar Sono sambil melangkah mendekat ke arah Vio yang masih duduk di sofa dan memandangnya nanar .

__ADS_1


" Tapi ... tidak mungkin " Vio menggeleng gelengkan kepalanya , tak mungkin pria di depannya masih hidup . Bukankah tadi Daddynya sudah membereskannya ?


Hatinya juga sedikit berdesir melihat dada bidang dan perut liat di depannya , ia masih ingat bahwa tangannya pernah menyentuh dan menggila di bawahnya .


" Apa yang tidak mungkin ?? "


Sono berjalan menuju kotak P3K yang ada di dekat dapur dan menyerahkannya pada gadis yang masih terpaku melihatnya .


" Lukaku berdarah lagi , tadi aku buka kain kasanya ketika mandi tapi malah jadi seperti ini " tunjuk Sono pada luka bekas sayatan pisau yang mengeluarkan darah cukup banyak .


" Kan bisa kalau mandi bagian yang ini jangan kena air dahulu , jadi berdarah begini "


Tanpa sadar Vio menarik lengan Sono hingga pria itu meringis kesakitan .


" Awwsshh ... "


Sono menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar , setelah menarik tangannya gadis itu mulai mengambil kapas dan membersihkan lukanya terlebih dahulu .


" Seribu kali lebih sakit ketika kau mengambilnya dariku !! Kau menyebalkan !! "


" Aku tahu ... maaf ! Arrghhh .... "


Vio membasuh dan menekan luka itu dengan cairan anti septik agar tidak infeksi , hatinya bersorak senang ketika Sono meringis kesakitan . Setidaknya ia bisa membalas perlakuan dari pria itu .


" Apa kau bertemu dengannya tadi ?? "

__ADS_1


" Daddymu !? "


Vio tak menjawab saat ini ia sibuk membalut luka itu dengan kain kasa , Sono bisa melihat bahwa gadis di depannya sangat terampil menangani lukanya .


" Pagi tadi dia kesini , dia datang setelah putrinya diam diam mengantar sarapan untukku " goda Sono hingga membuat wajah cantik itu merona .


" Fitnah ... jangan mengada ada " tukas Vio .


" Beliau sangat baik , beliau menantangku bermain itu ... " Sono menunjuk permainan catur yang tergeletak di meja ruang tamunya .


" Tiga kali kami bermain ... "


" Dengan taruhan kan ?! "


" Gadis pintar !!! Jika dia menang maka dia memintaku untuk melepasmu . Sangat wajar , sebagai seorang ayah beliau pasti tidak ingin melihatmu selalu terluka ketika berada di sampingku . Tak ada seorang ayah yang ingin putrinya bersanding dengan b*jingan sepertiku "


" Dan jika kau menang ?? "


" Maka dia akan mengabulkan satu permintaanku , kurasa dia seperti.jin di lampu ajaib " kekeh Sono yang langsung disambut tatapan sinis dari gadis di depannya .


" Dan siapa diantara kalian yang menang ?? "


Vio sangat tahu tentang Daddynya , Gaffar adalah pemain taktik dan permainan catur adalah salah satu permainan favorit pria parubaya itu . Hal yang tidak mungkin jika Sono mampu mengalahkan Daddynya .


" Apa kau akan melepaskan aku !!?? "

__ADS_1


" Apa kau sangat ingin aku melepasmu ??? "


__ADS_2