
" Kenapa kalian melihat ibu seperti itu ? " tanya Bu Sri yang merasa tatapan anak dan menantunya sangat aneh ketika melihat dirinya .
" Apa ibu mengenal tuan Gaffar Al Shamma , kenapa sepertinya ibu sudah akrab dengannya ?! " tanya Dewa .
" Hanya itu yang ingin kau tanyakan ? "
" Jadi lbu benar benar sudah mengenalnya sebelumnya ?! "
Jasmine dan Dewa terlihat serius sekali ingin mendengar jawaban dari wanita parubaya itu . Dan hal itu malah membuat wanita parubaya itu terkekeh .
" Ckk .. kamu pikir ibumu ini selebritis apa ? Kan kamu sendiri yang tadi bercerita kalau Al Shamma itu seorang mafia . Masa iya tukang jual rames kaya ibu kenal mafia sih Wa ! Ada ada saja "
" Bener buk ? Kok tadi ibu marah marah sama dia ?? "
" Nhahh bagaimana ibu nggak emosi kalau dia bilang kue lumpur bikinan ibu tidak higienis terus ada cacingnya ?!! Mafia kampungan dia , nggak pernah makan kue kayaknya "
Dewa dan Jasmine tertawa mendengarnya , ibu mereka memang sangat penyabar tapi beda cerita jika makanan yang ia buat di hina ataupun di remehkan . Bagi Bu Sri makanan adalah identitas diri sekaligus harga dirinya .
Walaupun ibunya telah memberi penjelasan tapi sepertinya Dewa masih belum yakin dengan semua itu . Dengan mata kepala sendiri dia melihat ibunya berkali kali memukul mantan mafia kejam itu , dan ajaibnya Gaffar hanya tertawa menanggapinya . Dan ini menjadi hal teraneh yang ia lihat seumur hidupnya .
Lain halnya dengan Bu Sri , ia benar benar ingin menutup cerita masa lalunya dengan pria itu . Gaffar hanyalah sepenggal dari kisah masa lalunya yang sudah benar benar ia kubur dan tak ingin ia ingat lagi .
__ADS_1
*
Sementara malam itu Vio sedikit gelisah di kamarnya , ia teringat dengan cerita Sono yang ternyata tidur di sampingnya setiap malamnya . Mungkin jika suaminya tidak bercerita mungkin ia tidak akan pernah tahu .
Setiap malam memang ia rutin meminum obatnya dan ia yakin salah satu obat yang ia minum menyebabkan tidurnya sangat nyenyak hingga kehadiran Sono pun tidak bisa ia rasakan .
" Nona ... kau melamun lagi !? "
" Ehh .. tidak , kau kan bisa lihat aku sedang menyisir rambutku "
" Sisirmu sudah jatuh di lantai sayang " kata Sono kemudian berjongkok di depan istrinya untuk mengambil sisir yang ada di bawah kursi rodanya .
Vio hanya menggeleng pelan , ia tak berani menatap mata suaminya . Sungguh ia tak ingin suaminya tahu bahwa hatinya sedang berdebar kencang . la tak bisa bayangkan jika malam ini sang suami tidur di sisinya lagi .
Memang setiap malam Sono yang akan menggendong dia ke ranjang . Sebelum itu Sono yang menyiapkan semua obat yang harus ia minum , pria itu juga membasuh kakinya dengan alasan agar tidur istrinya lebih nyenyak . Semua perlakuan itu membuatnya semakin mengagumi sosok suaminya sendiri .
" Hei lihat aku .. katakan apa yang kau pikirkan . Bukankah kau kemarin sudah berjanji untuk lebih terbuka kepadaku ?! Kita sepakat untuk memulai semua dari awal lagi sayang "
" Tapi jangan tertawa jika aku mengatakan apa yang ada di pikiranku "
" Tidak akan "
__ADS_1
" Ehhmmm ... aku hanya berpikir selama kau tidur di sisiku apakah kau tidak ingin menyentuhku ?? Apa kau pernah menyentuhku tanpa setahuku ? "
Sono tak bisa menyembunyikan tawanya , sebenarnya hal itu menjadi simalakama untuknya . Di satu sisi dia tak akan bisa tidur jika tidak berada disamping istrinya . Aroma tubuh sang istri adalah obat tidur paling mujarab untuknya .
Tapi di sisi lain Violetta yang dulu ataupun sekarang sama sekali tidak berubah . Vio sudah terbiasa menggunakan lingerie super seksi jika tidur . Dan itu menjadi ujian terberat suaminya .
Apalagi sekarang tubuh sintal itu sudah hampir kembali seperti dulu lagi . Sono harus benar benar bisa menahan dirinya , dia selalu menanamkan pikiran pikiran yang bisa mencegahnya menjadi kalap . Sono tak akan menyentuh istrinya sebelum Vio benar benar sembuh .
" Bohong jika aku bilang aku tidak ingin bercinta denganmu Nona ! Aku pria dewasa dan baru sekali kita melakukannya , itupun dalam kegelapan ... Arrghhh kok nyubit sih ! Aku bicara fakta kan !?? "
" Gelap saja tubuhku bisa remuk redam apalagi jika terang "
" Kau khawatir aku menggila lagi seperti waktu itu ya ?? Tenang saja aku tidak akan meminta hakku sebelum kamu sembuh sayang "
" Kau sendiri yang bilang , kau pria dewasa pasti ada keinginan untuk melampiaskannya . Jika tubuhku belum bisa melayanimu ... aku rasa tanganku masih bisa bekerja "
" Apa maksudmu Nona ?? "
Vio mulai membelai dada dan perut liat di depannya , dan perlahan satu tangannya menyelusup ke dalam celana training panjang yang di kenakan suaminya .
" Kau mulai nakal Sayang .... " lirih Sono dengan mata terpejam .
__ADS_1