
" Dad tidurlah ... sudah aku bilang berkali kali kan kembalilah ke Dubay ! Ada perawat perawat yang akan menjagaku dengan baik . Perusahaan membutuhkan Daddy " kaya Vio yang melihat wajah lelah Daddynya .
Gaffar selalu bersikeras untuk menunggunya di rumah sakit ini , padahal dua kakaknya sangat sering mengunjunginya bermaksud untuk menggantikan posisinya . Tapi pria parubaya itu ingin selalu ada di samping putrinya .
"Daddy lebih senang menemanimu di sini dari pada harus bertarung dengan angka setiap harinya , biarlah kakak kakakmu yang mengendalikan semuanya . Mereka masih muda , otak mereka lebih fresh "
" Dad ... "
" Ya sayang ... "
" Bagaimana Mommy meninggal apa sama keadaannya seperti aku !? "
" Daddy tidak suka jika kita membicarakan soal itu . Kau sendiri yang bilang kau akan sembuh demi bayimu . Kau yang bilang kita akan melihatnya tumbuh dewasa bersama sama "
Bibir pucat itu tersenyum , bahkan untuk duduk pun sekarang ia harus dibantu oleh Daddynya ..Kandungannya sudah hampir tujuh bulan dan dia masih kuat bertahan untuk melawan penyakitnya .
" Apa dia masih mencariku Dad !? "
" Dia nekad ke London untuk bertemu Alfian dan sulung Adipraja . Dia memohon bantuan agar bisa menemukanmu "
" Apa mereka memberitahukan keberadaan kita !? " Vio tahu hanya Adipraja yang mempunyai kekuasaan untuk bisa mencari keberadaan mereka dengan mudah .
" Tidak tanpa seijinku ... "
__ADS_1
Vio memejamkan matanya , sungguh ia pun sebenarnya sangat merindukan pria itu . Ayah dari bayi yang ia kandung . Mungkin di luar sana banyak yang akan menghujatnya , dia mengandung tanpa adanya seorang suami .
Tapi sejak awal ini adalah pilihannya , ia ingin Wicaksono hidup seperti pria lainnya . Yang bebas menikmati hidupnya tanpa terbebani dirinya yang sedang sakit keras .
TOKK ... TOKKK
Seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaannya . Tiga jam sekali keadaan Vio harus dipantau .
" Berapa sisa umur saya Dok !? " tanya Vio kepada Dokter muda yang memeriksanya .
Dokter itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pasien yang sedang ia periksa . Baginya Vio adalah pasien yang istimewa , wanita hamil itu tidak pernah mau menyerah dengan penyakitnya .
Padahal dulu awal diagnosanya memperkirakan wanita itu tidak akan bisa bertahan lama , tapi nyatanya wanita itu bahkan masih bisa tersenyum saat ini .
" Aku tahu Dokter akan menjawab seperti itu , itu jawaban yang menyebalkan "
" Lima jam lagi jadwal anda terapi dan bertemu dengan dokter kandungan "
Vio hanya mengangguk dengan lemah . Dia bersyukur bayinya bisa bertahan sejauh ini walau dengan asupan gizi yang ia dapat dari selang infus di tangannya .
Kemampuan mengunyahnya sudah tidak seperti dulu lagi . Sekarang ia hanya bisa makan makanan halus seperti bubur ataupun jus buah , itupun paling hanya sehari satu kali karena sekarang kegiatan mengunyah adalah hal yang melelahkan untuknya .
Setelah dokter itu keluar ruangan Gaffar kembali mendekati putrinya .
__ADS_1
" Apa dia masih sering menendang perutmu sayang !? "
Vio mengangguk antusias , dia memang selalu bersemangat jika membicarakan bayi dalam kandungannya .
" Kau ingin memberi nama siapa untuk putrimu !? "
Mereka telah mengetahui bahwa bayi yang di kandung adalah perempuan dari hasil USG . Selain terapi dokter Violetta juga rutin memeriksa kandungannya karena keadaannya yang tergolong istimewa .
" Anandara Wicaksono ... aku ingin dia menjadi cahaya untuk semua orang "
" Pasti menyenangkan jika mendengarnya memanggilmu ibu dan dia memanggilku dengan Grandpa . Dia akan bermain dan berlarian di mansion . Suara tawa dan tangisnya akan selalu memenuhi setiap sudut rumah kita . Dan tiap hari Daddy akan mendengarmu mengomel memarahinya "
" Dia pasti akan membuatku pusing Dad seperti ayahnya .... "
Vio terdiam ketika tak sengaja menyebut dan ingat pada ayah dari bayinya .
" Kau merindukannya !? "
" Aku merindukannya Dad ... sangat .... " ujarnya lirih dengan mata yang terpejam , ia ingin mendengar suara itu lagi .
" Aku pun juga sangat merindukanmu ... "
" Kau !! "
__ADS_1