
FLASH BACK ONE DAY BEFORE
Dengan langkah gontai Gaffar menuju kafe yang disediakan khusus oleh rumah sakit , mungkin sengaja disediakan untuk sekedar melepas penat orang orang yang menunggu pasien .
Jika Vio tidur Gaffar sering menghabiskan waktu di kafe itu untuk sekedar minum.kopi dan vcall dengan putra putranya untuk membahas pekerjaan walau hanya sebentar .
Tapi dahinya mengernyit ketika ia melihat seseorang disana . Walau terkejut tapi ia juga merasa sangat lega ketika melihat pria tersebut . Dengan sopan Wicaksono menyambut pria yang menjadi ayah dari wanita yang ia cintai .
" lni pasti kerjaanmu .... Adipraja " gumam Gaffar sambil mendekati ayah dari calon cucunya .
" Kapan kau datang ? " Gaffar menepuk lengan Sono dan ikut duduk bersama pria muda itu .
" Lima menit yang lalu tuan " jawab Sono sambil menganggukkan kepalanya .
" Panggil aku seperti Vio memanggilku "
" Eh ... iya Dad " gagap Sono yang belum terbiasa dengan panggilan itu .
" Maaf saya sudah lancang datang ke tempat ini tanpa seijin anda Dad . Saya hanya ingin melihat keadaannya "
" Kau butuh ijinku !?? "
" Dia masih menjadi putri anda "
__ADS_1
Gaffar terkekeh , pantas saja putrinya yang begitu mandiri bisa jatuh hati pada pria didepannya . Wicaksono laki laki yang rendah hati , jika mau dia bisa saja langsung masuk dan menemui putrinya tapi nyatanya laki.laki muda itu malah meminta ijin padanya terlebih dahulu .
" Dia belum siap menemuimu , kami minta maaf jika dulu pernah membatalkan pernikahan secara mendadak . Semua terjadi begitu cepat . Vio hanya tidak ingin merepotkanmu "
Sono hanya mengangguk dan menghembuskan nafasnya kasar . Gaffar tiba tiba tersenyum lebar ketika tahu bukan hanya Sono yang berada di tempat itu . Dua pria gagah beda generasi tampak datang mendekatinya . Dia berdiri untuk menyambutnya .
" Suatu kehormatan kalian datang ke tempat ini Tuan Alfian dan Tuan Bumi ... "
" Just Bumi uncle ... anda adalah salah satu panutan saya " Bumi memeluk pria yang dulu pernah menjadi rival sejati papanya itu .
" Putra putramu memang sangat menakjubkan tuan Alfian , seperti Reynand ... mereka sopan dan rendah hati "
Reynand memang pernah sekali bertemu dengannya di sebuah acara , walau tahu Gaffar pernah menjadi musuh papanya nyatanya putra tersulung Adipraja itu masih mau menyapa dan menghormatinya .
Dan itu yang menjadikan Gaffar mengagumi sosok Alfian yang mampu menjadi ayah yang baik untuk putra putranya .
" Saya yang memaksa tuan besar Alfian dan putranya untuk mengatakan di mana keberadaan anda . Jadi saya mohon jangan salahkan mereka " kata Sono terbata , ia tidak bisa membayangkan jika dua mantan mafia itu harus kembali berseteru hanya gara gara masalahnya .
Dua mantan mafia itu saling memandang dan kemudian menepuk pelan bahu Sono bersama sama .
" Hubungan kami tidak seburuk yang kau pikir Nak ! Dia sedang tidur , lihatlah jika kau ingin melihatnya . Tapi aku mohon jangan biarkan dia melihatmu terlebih dahulu . Aku takut dia shock dan akan mempengaruhi kesehatannya ! "
" Baik , saya tidak akan mengganggu istirahatnya "
__ADS_1
Perlahan Sono melangkah menuju kamar Violetta , dia berhenti dan terdiam ketika sampai di depan kamar yang ia tuju . Dia menata hati agar siap menghadapi apapun yang dia lihat nanti . Sono tahu Vio sedang sakit keras .
CEKLEK ....
" Ya Allah ..... "
Apa yang dia saksikan sangat menyakiti hatinya . Seluruh badannya bergetar menahan rasa iba di hatinya . Di depannya seorang wanita kurus kering dengan kulit pucat sedang terbaring . Tak ada sehelai rambut pun di kepalanya . Dan perutnya ....
" Sayang ... "
Sekuat hati ia mulai melangkah mendekat di ranjang warna putih itu . Berbagai alat menempel ditubuh kurus itu .
" Hai ... lama tidak bertemu dan kau tetap saja cantik . Kau biarkan aku berpikir bahwa kau meninggalkan aku , dan kau tanggung ini sendirian .... "
Kekuatannya hilang seketika , pria itu luruh bersimpuh di bawah ranjang wanita yang ia cintai . Tak kuasa ia membendung air matanya walau dengan sekuat tenaga ia sudah mencoba menahannya . Dadanya serasa ditimpa satu ton batu besar , sesak ... dan sulit untuk bernafas .
" Aku mencintaimu , sesulit itukah memahami perasaanku padamu ... aku mencintaimu ... aku sungguh sungguh mencintaimu Viloletta Al Shamma ...."
" Kau biarkan aku jadi pria kejam , aku meninggalkanmu saat kau benar benar membutuhkan aku disisimu .... seharusnya aku tidak menyerah ... seharusnya aku berjuang lebih keras ! Demi kamu dan anak kita ... Ya Allah bolehkah hamba mengeluh !?? Bolehkah hamba meminta ?? Jangan ambil dia .... biarkan aku mencintainya . Ambil nyawaku ... tapi jangan dia !! "
Sono meremat dadanya , jika saja tidak berada di ruangan ini mungkin tangisnya sudah pecah . Ia tak peduli jika orang menganggapnya lemah karena melihatnya , karena saat ini ia benar benar seperti kehilangan separuh nyawanya .
" Hei ... kita keluar , kau bisa membangunkan dia jika terus begini "
__ADS_1
Suara pria yang sangat ia kenal menyadarkannya . la melihat Bumi sedang berdiri di belakangnya .
FLASH BACK OFF