FOR 365

FOR 365
109


__ADS_3

FLASH BACK ONE DAY BEFORE


Dengan langkah gontai Gaffar menuju kafe yang disediakan khusus oleh rumah sakit , mungkin sengaja disediakan untuk sekedar melepas penat orang orang yang menunggu pasien .


Jika Vio tidur Gaffar sering menghabiskan waktu di kafe itu untuk sekedar minum.kopi dan vcall dengan putra putranya untuk membahas pekerjaan walau hanya sebentar .


Tapi dahinya mengernyit ketika ia melihat seseorang disana . Walau terkejut tapi ia juga merasa sangat lega ketika melihat pria tersebut . Dengan sopan Wicaksono menyambut pria yang menjadi ayah dari wanita yang ia cintai .


" lni pasti kerjaanmu .... Adipraja " gumam Gaffar sambil mendekati ayah dari calon cucunya .


" Kapan kau datang ? " Gaffar menepuk lengan Sono dan ikut duduk bersama pria muda itu .


" Lima menit yang lalu tuan " jawab Sono sambil menganggukkan kepalanya .


" Panggil aku seperti Vio memanggilku "


" Eh ... iya Dad " gagap Sono yang belum terbiasa dengan panggilan itu .


" Maaf saya sudah lancang datang ke tempat ini tanpa seijin anda Dad . Saya hanya ingin melihat keadaannya "


" Kau butuh ijinku !?? "


" Dia masih menjadi putri anda "

__ADS_1


Gaffar terkekeh , pantas saja putrinya yang begitu mandiri bisa jatuh hati pada pria didepannya . Wicaksono laki laki yang rendah hati , jika mau dia bisa saja langsung masuk dan menemui putrinya tapi nyatanya laki.laki muda itu malah meminta ijin padanya terlebih dahulu .


" Dia belum siap menemuimu , kami minta maaf jika dulu pernah membatalkan pernikahan secara mendadak . Semua terjadi begitu cepat . Vio hanya tidak ingin merepotkanmu "


Sono hanya mengangguk dan menghembuskan nafasnya kasar . Gaffar tiba tiba tersenyum lebar ketika tahu bukan hanya Sono yang berada di tempat itu . Dua pria gagah beda generasi tampak datang mendekatinya . Dia berdiri untuk menyambutnya .


" Suatu kehormatan kalian datang ke tempat ini Tuan Alfian dan Tuan Bumi ... "


" Just Bumi uncle ... anda adalah salah satu panutan saya " Bumi memeluk pria yang dulu pernah menjadi rival sejati papanya itu .


" Putra putramu memang sangat menakjubkan tuan Alfian , seperti Reynand ... mereka sopan dan rendah hati "


Reynand memang pernah sekali bertemu dengannya di sebuah acara , walau tahu Gaffar pernah menjadi musuh papanya nyatanya putra tersulung Adipraja itu masih mau menyapa dan menghormatinya .


Dan itu yang menjadikan Gaffar mengagumi sosok Alfian yang mampu menjadi ayah yang baik untuk putra putranya .


" Saya yang memaksa tuan besar Alfian dan putranya untuk mengatakan di mana keberadaan anda . Jadi saya mohon jangan salahkan mereka " kata Sono terbata , ia tidak bisa membayangkan jika dua mantan mafia itu harus kembali berseteru hanya gara gara masalahnya .


Dua mantan mafia itu saling memandang dan kemudian menepuk pelan bahu Sono bersama sama .


" Hubungan kami tidak seburuk yang kau pikir Nak ! Dia sedang tidur , lihatlah jika kau ingin melihatnya . Tapi aku mohon jangan biarkan dia melihatmu terlebih dahulu . Aku takut dia shock dan akan mempengaruhi kesehatannya ! "


" Baik , saya tidak akan mengganggu istirahatnya "

__ADS_1


Perlahan Sono melangkah menuju kamar Violetta , dia berhenti dan terdiam ketika sampai di depan kamar yang ia tuju . Dia menata hati agar siap menghadapi apapun yang dia lihat nanti . Sono tahu Vio sedang sakit keras .


CEKLEK ....


" Ya Allah ..... "


Apa yang dia saksikan sangat menyakiti hatinya . Seluruh badannya bergetar menahan rasa iba di hatinya . Di depannya seorang wanita kurus kering dengan kulit pucat sedang terbaring . Tak ada sehelai rambut pun di kepalanya . Dan perutnya ....


" Sayang ... "


Sekuat hati ia mulai melangkah mendekat di ranjang warna putih itu . Berbagai alat menempel ditubuh kurus itu .


" Hai ... lama tidak bertemu dan kau tetap saja cantik . Kau biarkan aku berpikir bahwa kau meninggalkan aku , dan kau tanggung ini sendirian .... "


Kekuatannya hilang seketika , pria itu luruh bersimpuh di bawah ranjang wanita yang ia cintai . Tak kuasa ia membendung air matanya walau dengan sekuat tenaga ia sudah mencoba menahannya . Dadanya serasa ditimpa satu ton batu besar , sesak ... dan sulit untuk bernafas .


" Aku mencintaimu , sesulit itukah memahami perasaanku padamu ... aku mencintaimu ... aku sungguh sungguh mencintaimu Viloletta Al Shamma ...."


" Kau biarkan aku jadi pria kejam , aku meninggalkanmu saat kau benar benar membutuhkan aku disisimu .... seharusnya aku tidak menyerah ... seharusnya aku berjuang lebih keras ! Demi kamu dan anak kita ... Ya Allah bolehkah hamba mengeluh !?? Bolehkah hamba meminta ?? Jangan ambil dia .... biarkan aku mencintainya . Ambil nyawaku ... tapi jangan dia !! "


Sono meremat dadanya , jika saja tidak berada di ruangan ini mungkin tangisnya sudah pecah . Ia tak peduli jika orang menganggapnya lemah karena melihatnya , karena saat ini ia benar benar seperti kehilangan separuh nyawanya .


" Hei ... kita keluar , kau bisa membangunkan dia jika terus begini "

__ADS_1


Suara pria yang sangat ia kenal menyadarkannya . la melihat Bumi sedang berdiri di belakangnya .


FLASH BACK OFF


__ADS_2